040. BERAGAMA is pilihan

Posted on May 18, 2016

0


Walau Satu Ayat ep. 039. Ketika seseorang berusia akil baligh, ia dituntut untuk menyandang sesuatu agama. Secara tradisi, agama orangtua diturunkan dan dianut oleh generasi berikutnya; itulah yang terjadi dari waktu ke waktu. Bila dalam perjalanan hidupnya ada agama yang diyakini kebenarannya, lalu dianutnya, maka itu adalah pilihan. Menjadi mukalaf ataupun mualaf, tergantung pada pilihan kalbunya.

Baru saja Banas membuka tausiah, sudah ada taklim yang bertanya; setelah disilahkan, katanya, “Pak Ustadz; kenapa seseorang itu menganut sesuatu agama?”; atas pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Dari agama apapun, ketentuan dalam agama selalu dijadikan pedoman untuk menjalani kehidupan duniawi dan menyongsong kehidupan ukhrowi; dengan begitu, agama menjadi suatu kebutuhan. Pada taklim yang lalu, sudah disajikan ayat yang menegaskan, sesungguhnya menganut Agama Islam adalah suatu keharusan bagi seluruh umat, sebagai tindak lanjut dari sumpahnya ketika masih berbentuk janin di dalam rahim ibunya. dengan begitu, seharusnya, Al Quran menjadi satu-satunya pedoman hidup; bukan Zabur, bukan Taurat dan bukan Injil sekalipun dengan teks yang asli. Untuk meneguhkan keberimanan, marilah mencermati firman Nya dalam QS Al An`am (6):90,

أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ قُل لاَّ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ ﴿٩٠

Arti ayat ini, Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah, “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al Quran)”. Sesungguhnya Al Quran itu tidak lain adalah peringatan untuk segala ummat. Melalui ayat ini, Allah س melarang para Nabi/Rasul dan juru dakwah pasca masa kenabian meminta upah yang mereka yang didakwahi; selain itu, ditegaskan, Al Quran adalah peringatan bagi semua umat. Makna peringatan, adalah adalah pemberitahuan kepada semua umat, siapapun yang mengingkari ayat-ayat Nya, dipastikan mendapat hukuman, baik di dunia maupun di akhirat”; lalu dikatakan, “Seseorang beriman atau kafir, sesungguhnya atas petunjuk Allah س; misalnya dapat dicermati dalam QS Ibrahim (14):4, difirmankan,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللّهُ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿٤

Artinya, Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. Melalui ayat ini ditegaskan, Allah س mengutus para Nabi/Rasul atau para mubaligh (penyampai ayat-ayat Nya) pada masa pasca kenabian, untuk mendakwahkan Islam dengan bahasa yang dapat dipahami kaumnya. Kemudian dalam ayat ini ditegaskan, Dia memberikan penyesatan dan atau petunjuk bagi siapapun yang dikehendaki”.

Atas penjelasan ini, ada taklim lain yang bertanya, “Pak Ustadz; dalam ayat tadi difirmankan, beriman atau kafrinya seseorang adalah karena mendapat petunjuk Allah س. Apakah setiap orang mendapat petunjuk Nya?”; atas pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Setiap umat berpeluang mendapat petunjuk Nya; kita ambil contoh dari lingkungan keluarga kita. Sebagai keluarga mukmin, setiap orangtua berharap, anak turunnya memeluk Islam sebagai agamanya; bila dalam perjalanan hidup, anak turunnya tetap meyakini Islam sebagai satu-satunya agama yang paling hak di sisi Allah س, maka jadilah ia mukalaf yang baik. Sebaliknya, bila ia kurang meyakini Islam sebagai agamanya lalu tergoda dengan ajaran agama lain, kemudian berpaling dari Islam, maka kepalingannya inilah yang menjadi sebab diluputkan dirinya dari petunjuk Allah س. Dengan begitu, keberimanan atau keberpalingan, diawali dari keyakinan dalam dirinya; jika modal dasarnya meyakini Islam, maka dipastikan Allah س semakin menambahkan petunjuk Nya; begitu juga, bila modal dasarnya tidak meyakini Islam, maka Allah س semakin menyesatkannya. Sebagai peneguh keberimanan, marilah mencermati firman Nya dalam QS Al Baqarah (2):6-7,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ ﴿٦﴾ خَتَمَ اللّهُ عَلَى قُلُوبِهمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عظِيمٌ ﴿٧

Arti ayat ini, (6) Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. (7) Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. Melalui ayat ini, Allah س mengingatkan para Nabi/Rasul dan para mubaligh, Dia telah mengunci mati hati, pendengaran dan penglihatan mereka dari ajaran Islam. Padahal sudah kita tausiahkan pada masa lalu, hati, pendengaran dan penglihatan adalah tiga modal awal yang dikaruniakan Allah س ketika janin masih dalam rahim. Sebagai penjelasan lebih lanjut, Allah س berfirman dalam QS Al Baqarah (2):256,

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْبِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللّهِ فَقَدِاسْتَمْسَكَ بِا لعُرْوَةِ الْوثْقَ لا أنْفِصَامَ لَهَا وَ اللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿٢٥٦

Artinya, Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ayat ini menegaskan, setiap umat diberi kebebasan untuk memeluk agama yang mana; meski begitu, diingatkan juga, sesungguhnya Islam adalah agama yang benar. Agar para Nabi/Rasul dan mubaligh tidak ragu-ragu terhadap makna yang terkandung pada firman Nya dalam QS Al Baqarah (2):6 yang artinya “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman”, maka ayat 256 ini dapat digunakan sebagai peneguh semangat, sesungguhnya mendakwahkan Islam tidak boleh memaksakan keberimanan para penerima dakwah. Dalam ayat ini, terdapat lafadz thaghut, dari asal kata طَغَى artinya “melampauai batas” dalam pengertian umum; menurut nash Al Quran, thaghut adalah sebutan untuk setan yang disembah dan sembahan-sembahan selain Allah س”.

Lalu diteruskan, “Patut kita bertanya pada diri sendiri, kenapa kita Islam dan yang lainnya kafir. Untuk menjawabnya, ada baiknya mengingat kembali kisah yang terjadi pasca penciptaan Adam ع dimana Iblis memperoleh kompensasi dari Allah س untuk mengajak manusia mengikuti jejak langkahnya, mengkafiri firman-firman Nya. Meskipun Dia telah mengingatkan berulang kali agar manusia tidak mengikuti langkah setan; misalnya difirmankan dalam QS Al Baqarah (2):208,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ ﴿٢٠٨

Arti ayat ini, Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. Melalui ayat ini Dia telah mengingatkan kepada kaum beriman, agar memeluk Islam secara totalitas; jangan mengikuti langkah setan, apalagi sampai berpaling dari Islam”; usai berkata begitu, Banas menutup tausiah dengan mengatakan, “Dalam taklim pagi ini, kita sudah membahas mengenai keberagamaan, siapapun yang tetap teguh memegang Islam sebagai agama yang dipedomani dalam hidup, maka sesungguhnya itu adalah atas ijin Allah س; begitu juga, bila berpaling dari Islam, semata-mata atas kehendak Nya saja. Terlebih lagi, Dia telah berfirman, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)”; tetapi bila memeluk Islam, maka patuhlah pada salah satu firman Nya, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya”; dengan demikian, memeluk sesuatu agama, adalah pilihan nurani”; seiring dengan ditutupnya tausiah, para taklim meninggalkan masjid dengan tertib dan terlebih dahulu saling bersalaman.

Advertisements
Posted in: Ketauhidan