039. AL QURAN for all nations

Posted on April 18, 2016

0


Walau Satu Ayat ep. 039. Setelah janin menyatakan kesaksian akan keesaan Allah س , lalu ia dikaruniai pendengaran, penglihatan dan kalbu. Begitu orang sekeliling bersyukur atas kelahirannya, si mungil memulai kafilahnya untuk menempuh perjalanan panjang. Dalam era inilah, ia tumbuh dan berkembang; ada yang diwafatkan sewaktu muda dan sebagian lagi sampai usia pikun, dengan memutuskan pilihannya, beriman atau kafir.

Dalam tausiah ba`da dhuha kali ini, Banas menyegarkan kembali ingatan para taklim, bahwa ketika masih bermukim di dalam rahim, janin telah menyatakan beriman pada keesaan Allah س. Kemudian Dia menambahkan karunia Nya berupa pendengaran, penglihatan dan kalbu yang harus dioptimalkan penggunaannya dalam menjalani kehidupan. Lalu Banas meneruskan, “Berbeda dengan keyakinan agama lain, Islam meyakini, setiap bayi yang dilahirkan selalu dalam keadaan fitrah. Untuk meneguhkan keberimanan, dapat merujuk pada HR Bukhari ر; mengisahkan, bahwa Rasulullah ص bersabda, “Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-Islami). Ayah dan ibunya lah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala)”; Hadis ini sekaligus menegaskan, tiada dosa apapun yang disandang bayi ketika dilahirkan; sekalipun terlahir dari rahim seorang ibu yang non-muslim atau dari rahim seorang perempuan yang bayinya merupakan hasil perzinahan”.

Kemudian dikatakan, “Hadis ini sekaligus menegaskan, ada model penganutan agama secara tradisi, yaitu mengikuti tradisi orangtuanya; bila orangtua beragama Islam, pada umumnya agama itu dianut anak-anaknya; atau disebut dengan mukalaf. Sedangkan pola mualaf, penganut Islam bukan dari sejak lahir, jumlahnya relatif sedikit. Beruntunglah kita yang hidup sesudah kenabian Rasulullah ص; keberuntungan itu, antara lain bertumpu pada firman Nya dalam QS Al Baqarah (2):119,

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيراً وَنَذِيراً وَلاَ تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ ﴿١١٩

Artinya, Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka. Melalui ayat ini, Allah س menegaskan, diutusnya Rasulullah ص adalah untuk menyampaikan kabar gembira dan memberi peringatan. Maksud kabar gembira, adalah akan didapati karunia Nya bagi umat yang beriman kepada Allah س dan merujuk pada tuntunan Rasulullah ص. Sedangkan peringatan, adalah hukuman Allah س yang ditimpakan kepada mereka yang mengkafiri ayat-ayat Nya. Peranan Rasulullah ص dalam mendakwahkan Islam, pada masa kenabiannya dan pendakwahan penganut Islam di masa kini, adalah sebatas menyampaikan ayat-ayat firman Nya; karena itu, dalam ayat ini ditegaskan, kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka”.

Lalu diteruskan, “Kabar gembira dan peringatan Allah س yang didakwahkanRasulullah ص pada masa kenabiannya dan disyiarkan oleh kaum muslim sampai akhir jaman, telah dirangkum dalam satu Kitab, disebut Al Quran; sebagaimana difirmankan dalam QS Al Insan (76):23,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنزِيلاً ﴿٢٣

Arti ayat ini, Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Quran kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Ayat ini menjadi penegas, Rasulullah ص dan Al Quran adalah kebenaran yang tak terbantahkan bagi semua umat. Oleh karena itu, Allah س memerintahkan kepada semua manusia melalui firman Nya dalam QS An Nisa’ (4):170,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءكُمُ الرَّسُولُ بِالْحَقِّ مِن رَّبِّكُمْ فَآمِنُواْ خَيْراً لَّكُمْ وَإِن تَكْفُرُواْ فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَكَانَ اللّهُ عَلِيماً حَكِيماً ﴿١٧٠

Artinya, Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dalam ayat ini ditegaskan, sesungguhnya Al Quran adalah untuk semua umat, berisi kebenaran dari Allah س; sedangkan bagi mereka yang mengkafirinya, tidak akan mengurangi kesucian Nya”.

Setelah berhenti sejenak, lalu dikatakan, “Meski secara berkesinambungan selalu didakwahkan keislaman, tetapi tidak semua manusia menjadi muslim; karena sesungguhnya, Allah س saja yang membukakan mata hati dan nuraninya untuk dapat menerima Islam sebagai agamanya. Dalam QS Al Baqarah (2):269 difirmankan.

يُؤتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْراً كَثِيراً وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ ﴿٢٦٩

Artinya, Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). Melalui ayat ini, didapati pembelajaran, sesungguhnya Allah س saja yang dapat menurunkan hidayah, sehingga seseorang menjadi beriman atau kafir”.

Ada taklim bertanya, “Pak Ustadz; saya kebetulan berasal dari keluarga mukmin, sehingga saya beragama Islam. Tetapi ada kalanya, meskipun orangtuanya mukmin tetapi anaknya memeluk selain Islam. Kenapa dapat terjadi begitu?” Atas pertanyaan ini, dengan hati-hati Banas mengemukakan, “Sebagaimana difirmankan dalam ayat tadi, seseorang menjadi mukmin karena mendapat al hikmah atau pemahaman yang mendalam mengenai Al Quran yang didalamnya berisi kabar gembira dan peringatan. Meski dalam ayat tadi difirmankan, Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak, tidak berarti bahwa al hikmah itu secara langsung diperoleh manusia tanpa sesuatu usaha. Marilah mencermati makna ayat dalam QS Az Zukhruf (43):26-27, difirmankan,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ ﴿٢٦﴾ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ ﴿٢٧

Arti ayat ini, (26) Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, (27) tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku”. Kedua ayat ini merupakan rangkaian dari kisah pemuda Ibrahim yang mencari Tuhan; lalu semua menganggap bulan, bintang, matahari sebagai tuhannya, sampai pada akhirnya beliau mendapat hidayah atau al hikmah. Berpedoman pada ayat-ayat seperti ini, menjadi bukti, sesungguhnya al hikmah atau hidayah harus dicari, baru kemudian Allah س memberikan karunia hidayah yang menjadikan dirinya memeluk Islam”.

Ada taklim lain yang bertanya, “Pak Ustadz; apakah orang kafir itu patut dipersalahkan, bila tak mendapat hidayah Allah س ?”; lalu Banas mengemukakan, “Dalam merengkuh kehidupan, kepada setiap umat sudah ditawarkan kabar gembira dan peringatan akan adzab Allah س. Ada sebagian orang dari komunitas non-muslim yang menempuh perjalanan hidupnya dengan cara tetap berpegang teguh pada keyakinan orangtuanya; hal seperti ini juga telah disinyalir Allah س, antara lain melalui firman Nya dalam QS Al Maidah (5):104,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْاْ إِلَى مَا أَنزَلَ اللّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُواْ حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ ﴿١٠٤

Arti ayat ini, Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk ? Melalui ayat ini, Allah س memberikan pembelajaran kepada Rasulullah ص, bahwa ada kaum yang bila didakwahi, ditutupnya mata dan telinganya lalu mengatakan, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Argumentasi seperti inilah, yang menjadikan kaum kafir tidak mencari hidayah dan karena itu, Allah س tidak memberikan hidayah kepadanya”.

Kemudian Banas segera menutup tausiah, dengan mengatakan, “Dalam taklim pagi ini, sudah dibahas, sesungguhnya Al Quran adalah merupakan pedoman hidup bagi semua umat; langkah yang harus ditempuh, beriman kepada Allah س dan mengikuti tuntunanRasulullah ص. Dalam kepenganutan Islam, sebagian besar kaum muslim beragama Islam secara tradisi dan sebagian kecil lainnya menemukan keislaman ditengah perjalanan hidupnya. Keberagamaan secara tradisi, juga menjadi alasan bagi kaum kafir, yaitu karena mengikuti apa yang telah diperbuat orang tua mereka; artinya agama yang dianut adalah sebagaimana yang dianut orangtua mereka”. Usai berkata begitu, tausiah ditutup, dan para taklim segera beranjak; kemudian satu persatu bersegera pulang setelah masing-masing bersalaman.

Advertisements
Posted in: Ketauhidan