038. ADZAB SUATU KAUM

Posted on March 18, 2016

0


Walau Satu Ayat ep. 038. Pada masa kenabian, pedakwahan Islam sering mengalami penolakan; karena itu, Allah س selalu menguji para Nabi/Rasul Nya melalui rintangan dari sesuatu kaum yang didakwahi. Allah س berjanji, bagi yang mengkafiri Dzat Nya, dipastikan mendapat hukuman. Sebagaimana difirmankan dalam Al Quran, Dia menghukum kaum `Ad di masa kenabian Nuh dan Hud ع.

“Dalam dua tausiah yang lalu, sudah kita bahas, Allah س membentengi Nabi/Rasulnya dengan firman-firman Nya dan membekali sejumlah mukjizat”; begitu Banas membuka tausiah kali ini. Kemudian diteruskan, “Dua kemukjizatan yang sudah ditaklimkan, adalah dibukukannya firman-firman Allah س menjadi empat Kitab Suci, yaitu Zabur, Taurat, Injil dan Al Quran; selain itu, setiap Nabi/Rasul juga dibekali dengan kecakapan khas sebagai mukjizatnya. Selain dua kekhasan tadi, Allah س juga memberikan kemukjizatan dengan cara menghukum kaum yang memperolok para Nabi/Rasul yang diutus ketika mendakwahkan Islam”.

Setelah berhenti sejenak, lalu dikatakan, “Melalui tausiah ini, marilah kita cermati hukuman Allah س yang diadzabkan kepada kaum `Ad secara berturut-turut dalam dua masa kenabian, yaitu pada masa kenabian Nuh ع (Nabi ke Tiga) dan Hud ع (Nabi ke Empat). Pembinasaan Kaum `Ad semasa kenabian Nuh ع, misalnya difirmankan dalam QS Al A`raf (7):59-60,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحاً إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ إِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ ﴿٥٩﴾ قَالَ الْمَلأُ مِن قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ ﴿٦٠

Arti ayat ini, (59) Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain Dia”. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa adzab hari yang besar (kiamat).(60) Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata”. Melalui ayat ini dikisahka, Nabi Nuh ع telah menyeru kepada kaumnya untuk beriman kepada Allah س, tetapi kaumnya memandang beliau sebagai orang yang sesat; kemudian difirmankan pada ayat 61-62,

قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلاَلَةٌ وَلَكِنِّي رَسُولٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٦١﴾ أُبَلِّغُكُمْ رِسَالاَتِ رَبِّي وَأَنصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ﴿٦٢

Artinya, (61) Nuh menjawab, “Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam”. (62) (lalu Nuh berkata), “Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui”. Dalam ayat ini, Nabi Nuh ع tetap menasehatkan, agar kaumnya mempercayai dirinya sebagai Nabi/Rasul Nya, meskipun kaumnya tidak mengindahkan. Lalu pada ayat 63-64 difirmankan,

أَوَعَجِبْتُمْ أَن جَاءكُمْ ذِكْرٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَلَى رَجُلٍ مِّنكُمْ لِيُنذِرَكُمْ وَلِتَتَّقُواْ وَلَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ﴿٦٣﴾ فَكَذَّبُوهُ فَأَنجَيْنَاهُ وَالَّذِينَ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا إِنَّهُمْ كَانُواْ قَوْماً عَمِينَ ﴿٦٤

Ayat ini mengisahkan, (63) Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat? (64) Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya). Dalam ayat ini ditegaskan, Allah س membinasakan kaum Nabi Nuh ع dengan banjir dan menyelamatkan beliau dan pengikutnya dengan menggunakan kapal (bahtera). Bahkan, anak beliau juga termasuk dalam golongan yang ditenggelamkan, karena mengingkari kenabian beliau dan mengkafiri Allah س”.

Lalu Banas mengemukakan, “Pembinasaan atas sesuatu kaum juga dibukukan dalam QS Al A`raf (7):65-66,

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُوداً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ أَفَلاَ تَتَّقُونَ ﴿٦٥﴾ قَالَ الْمَلأُ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وِإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ ﴿٦٦

Dalam ayat ini difirmankan, (65) Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum `Ad saudara mereka, yaitu Hud. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada- Nya?” (66) Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta”. Melalui ayat ini dikisahkan, ketika Nabi Hud ع mendakwahkan Islam kepada kaumnya, mendapat penolakan; bahkan beliau dianggap orang kurang akal dan pendusta. Lalu pada ayat 67-68 difirmankan,

قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي سَفَاهَةٌ وَلَكِنِّي رَسُولٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٦٧﴾ أُبَلِّغُكُمْ رِسَالاتِ رَبِّي وَأَنَاْ لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ ﴿٦٨

Artinya, (67) Hud berkata, “Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. (68) Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu”. Dalam ayat ini dikisahkan, beliau mengemukakan, dirinya sehat akal pikirannya; selain itu, beliau menegaskan kenabiannya yang diutus untuk memberikan nasehat. Kemudian pada ayat 69-70 difirmankan,

أَوَعَجِبْتُمْ أَن جَاءكُمْ ذِكْرٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَلَى رَجُلٍ مِّنكُمْ لِيُنذِرَكُمْ وَاذكُرُواْ إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاء مِن بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً فَاذْكُرُواْ آلاء اللّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴿٦٩﴾ قَالُواْ أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ ﴿٧٠

Arti ayat ini, (69) Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada Kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (70) Mereka berkata, “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datangkanlah adzab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. Dalam ayat ini dikisahkan, meski Nabi Hud ع telah mengingatkan siksa yang pernah ditimpakan kepada kaum ‘Ad (kaumnya Nabi Nuh ع), tetapi kaumnya malahan menantang agar didatangkan adzab bagi mereka. Lalu difirmankan pada ayat 71-72,

قَالَ قَدْ وَقَعَ عَلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ رِجْسٌ وَغَضَبٌ أَتُجَادِلُونَنِي فِي أَسْمَاء سَمَّيْتُمُوهَا أَنتُمْ وَآبَآؤكُم مَّا نَزَّلَ اللّهُ بِهَا مِن سُلْطَانٍ فَانتَظِرُواْ إِنِّي مَعَكُم مِّنَ الْمُنتَظِرِينَ ﴿٧١﴾ فَأَنجَيْنَاهُ وَالَّذِينَ مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِّنَّا وَقَطَعْنَا دَابِرَ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا وَمَا كَانُواْ مُؤْمِنِينَ ﴿٧٢

Artinya, (71) Hud berkata, “Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa adzab dan kemarahan dari Tuhanmu”. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah (berita) untuk itu? Maka tunggulah (adzab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu”. (72) Maka Kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami, dan kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman. Pada dua ayat ini, dikisahkan, Allah س betul-betul menurunkan adzab Nya dalam dua periode waktu; pada tahap pertama, kaum ini disiksa dengan kekeringan berkepanjangan sehingga muncul bencana kelaparan. Sekalipun begitu, bukannya mereka beriman kepada Allah س, melainkan meningkatkan persembahan kepada berhala mereka, yaitu Shamud dan Al Hattar. Karena itu, diturunkan bencana kedua, berupa angin puting beliung yang memporakperandakan dan membinasakan kaum ini”.

Kemudian dikemukakan, “Dari dua peristiwa pada dua masa kenabian itu, terdapat sedikitnya dua pembelajaran bagi umat; pertama, Allah س tidak menyalahi janji, untuk menghukum kaum atau orang yang mengkafiri ayat-ayat Nya. Dalam adzab pada dua masa kenabian itu, Dia menghukum Kaum `Ad semasa hidup di dunia dan dipastikan mereka mendapat siksa kelak di kemudian hari. Pembelajaran kedua, Allah س tidak menyalahi janji, untuk menambahkan karunia Nya kepada mereka yang beriman kepada Nya, baik dalam kehidupan duniawi maupun kehidupan ukhrowi. Pembelajaran yang kedua ini juga dikaruniakan kepada kaum yang hidup pada masa kenabian Rasulullah ص; misalnya difirmankan dalam QS Al Anfal (8):31-33,

وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا قَالُواْ قَدْ سَمِعْنَا لَوْ نَشَاء لَقُلْنَا مِثْلَ هَـذَا إِنْ هَـذَا إِلاَّ أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ ﴿٣١﴾ وَإِذْ قَالُواْ اللَّهُمَّ إِن كَانَ هَـذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِندِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِّنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿٣٢﴾ وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ ﴿٣٣

Makna ayat ini, (31) Dan apabila dibacakan kepada mereka (kaum musyrik yang didakwahi oleh Rasulullah ص) tentang ayat-ayat Kami, mereka berkata, “Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Quran) ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purba-kala”. (32) Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih”. (33) Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu (Rasulullah ص dan pengikutnya) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun. Melalui ayat ini, Allah س menegaskan, sekalipun kaum musyrik minta diadzab, tetapi untuk menambahkan karunia kepada kaum mukmin (yaitu Rasulullah ص dan pengikutnya) maka permintaan kaum musyrik itu tidak dikabulkan. Pada akhir ayat difirmankan, Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun; ini bermakna, pada masa kenabian Rasulullah ص, masih ada sekelompok dari kaum musyrik yang memohon ampunan Nya, sehingga adzab tidak diturunkan”.

Lalu diteruskan, “Dalam taklim kali ini, sudah kita simak bersama, betapa Allah س telah menghukum sesuatu kaum yang mengkafirinya, sebagaimana dikisahkan pada masa kenabian Nabi Nuh ع dan Nabi Hud ع. Pada masa kenabian Nabi Nuh ع, kaumnya dihukum dengan banjir yang melanda seluruh negeri; dan kepada kaum Nabi Hud ع ditimpakan bencana kekeringan dan angin kencang yang merusak tatanan kehidupan. Kemudian Allah س menambahkan karunia keselamatan bagi kaum yang beriman kepada Nya; penambahan karunia ini juga ditunjukkan pada masa kenabian Rasulullah ص”; setelah berkata begitu, Banas menutup tausiah dengan mengatakan, pada tausiah yang akan datang, masih ditaklimkan kisah-kisah pembinasaan sesuatu kaum. Usai tausiah diakhiri, dan para taklim bergegas pulang.

Advertisements
Posted in: Hikmat