037. MUKJIZAT

Posted on February 18, 2016

0


Walau Satu Ayat ep. 037. Selain pewahyuan firman Nya kepada para Nabi/Rasul, Allah س membentengi para Nabi/Rasul Nya, dengan mukjizat yang khusus dimiliki oleh para Nabi/Rasul. Mukjizat, merupakan kecakapan khas yang digunakan untuk menghadapi tantangan kaum yang didakwahi. Meski begitu, para Nabi/Rasul tidak dapat mengulang kemukjizatannya. Semua itu untuk meneguhkan keberimanan kaum mukmin dan pembelajaran bagi kaum kafir.

Ketika Banas membuka tausiah ba`da dhuha mengakatakan, “Pada tausiah yang lalu sudah dibahas, para Nabi/Rasul memperoleh mukjizat, antara lain pewahyuan firman-firman Nya; sebagian diantaranya dibukukan menjadi empat Kitab Suci. Dalam tausiah pagi ini, kita urai mukjizat lainnya, yaitu membekali suatu kecakapan yang khas, yang tidak dapat dilakukan oleh siapapun; meski begitu, kemampuan ini tidak dapat diulang kembali atau terjadi untuk satu kali saja”. Lalu diteruskan, “Misalnya pada awal dakwahnya, Nabi Ibrahim ع ditentang oleh kaumnya, lalu dibakar; apakah beliau wafat terbakar api, marilah mencermati firman Nya dalam QS Al Anbiya’ (21):68-69,

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِن كُنتُمْ فَاعِلِينَ ﴿٦٨﴾ قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْداً وَسَلَاماً عَلَى إِبْرَاهِيمَ﴿٦٩

Artinya, (68) Mereka (kaum kafir) berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. (69) Kami berfirman, “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. Mukjizat yang difirmankan dalam ayat ini, untuk menyelamatkan Nabi Ibrahim ع dari api yang membakar dirinya. Contoh lainnya, dikaruniakan kepada Musa ع selagi masih bayi, yang difirmankan dalam QS Al Qashash (28):9,

وَقَالَتِ امْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِّي وَلَكَ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَن يَنفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَداً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ ﴿٩

Artinya, Dan berkatalah isteri Fir`aun, “(Ia, bayi Musa) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari. Ayat ini mengisahkan perjalanan hidup bayi Musa ع, yang pada saat itu, Fir`aun laknatullah membunuh semua bayi lelaki; atas ijin Nya jua, bayi Musa ع tidak dibunuh. Pada masa kenabian beliau, pada awal dakwahnya berhadapan dengan Fir`aun laknatullah, beliau dikaruniai kecakapan khas, sebagaimana difirmankan dalam QS Al A`raf (7):107-108,

فَأَلْقَى عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُّبِينٌ ﴿١٠٧﴾ وَنَزَعَ يَدَهُ فَإِذَا هِيَ بَيْضَاء لِلنَّاظِرِينَ ﴿١٠٨

Artinya, (107) Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. (108) Dan ia mengeluarkan tangannya, maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya. Dalam rangkaian ayat-ayat ini, beliau memperoleh mukjizat, yaitu tongkatnya menjadi ular, lalu memakan ular-ular hasil sihir pemuka Fir`aun laknatullah. Selain itu, tangan beliau mengeluarkan sinar yang menyilaukan. Kecakapan lain, terjadi pada saat beliau mengajak duabelas kaum pengikutnya eksodus, setelah diusir Fir`aun lajnatullah, sebagaimana difirmankan dalam QS Al Baqarah (2):60,

وَإِذِ اسْتَسْقَى مُوسَى لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِب بِّعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْناً قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ كُلُواْ وَاشْرَبُواْ مِن رِّزْقِ اللَّهِ وَلاَ تَعْثَوْاْ فِي الأَرْضِ مُفْسِدِينَ ﴿٦٠

Artinya, antara lain, Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). …dst”. Ada taklim bertanya, “Pak Ustadz, kenapa mata airnya ada duabelas?”; lalu Banas mengemukakan, “Beliau bereksodus beserta duabelas suku yang diusir Fir`aun laknatullah; dengan terpancarnya mata air itu, maka duabelas suku pengikut beliau masing-masing mendapat satu mata air”.

Lalu dikatakan, “Kecakapan khas Nabi Isa ع dikaruniakan sejak awal kehidupannya, sebagaimana difirmankan dalam QS Ali Imran (3):46, وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلاً وَمِنَ الصَّالِحِينَ , artinya, dan dia (Isa) berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh. Lalu pada masa kenabiannya, beliau memperoleh kecakapan khas, sebagaimana difirmankan dalam QS Ali Imran (3):49,

وَرَسُولاً إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُم بِآيَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُم مِّنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْراً بِإِذْنِ اللّهِ وَأُبْرِئُ الأكْمَهَ والأَبْرَصَ وَأُحْيِـي الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللّهِ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ﴿٤٩

Artinya, Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka), “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seijin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seijin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman”. Sedangkan kecakapan khas yang dikaruniakan kepada Rasulullahص, misalnya dalam QS Al A`raf (7):157, antara lain difirmankan, (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, …dst. Melalui ayat ini, Allah س menerangkan, Rasulullahص adalah Nabi yang ummi, artinya, tidak pandai membaca; karunia yang diperolehnya, beliau memiliki kemampuan menghafal semua firman yang diwahyukan, sekitar 6.666 ayat yang dibukukan menjadi Kitab Al Quran”.

Kemudian Banas menutup tausiah, dengan mengatakan, “Semua Nabi dan Rasul memperoleh karunia; yang kita bahas pada pagi ini, berupa kecakapan khas, sebagaimana contoh-contoh tadi. Kecakapan khas ini adalah salah satu bentuk mukjizat, tidak dapat diulang kembali, sekalipun oleh Nabi atau Rasul itu sendiri”; masih ada taklim yang bertanya, “Maaf Pak Ustadz, sebelum tausiah ini diakhiri, mohon penjelasan, kenapa kemukjizatan itu dikaruniakan sekali saja”. Banas mengemuakakan, “Kecakapan khas itu digunakan untuk membuktikan kebenaran Islam sebagai agama yang haq; artinya, bila sudah diwujudkan tanda-tanda kekuasaan Nya tetapi kaum itu tidak mengimaninya, maka mereka termasuk kaum yang mengingkari keberimanan kepada Allah س, kepada Nabi Nya dan kepada Rasul Nya”; usai berkata begitu, tausiahpun berakhir; para taklim mulai beranjak, bersegera pulang.

Advertisements
Posted in: Hikmat