036. KITABULLAH

Posted on January 18, 2016

0


Walau Satu Ayat ep. 036. Para Nabi/Rasul dalam mendakwahkan firman Nya, bertumpu pada wahyu yang diterima; sebagian diantaranya dibukukan. Agama Islam mengakui 4 Kitab Suci, semuanya disebut Kitabullah; Kitab Zabur oleh Nabi Daud ع, Kitab Taurat oleh Nabi Musa ع, Kitab Injil oleh Nabi Isa ع, dan Al Quran dimuskhafkan oleh Rasulullah ص

“Seperti telah dibahas dalam tausiah yang lalu”; begitu Banas mengemukakan sesudah membuka tausiah ba`da dhuha, lalu diteruskan, “Diantara orang-orang pilihan, ada diantaranya ditetapkan menjadi Nabi/Rasul; para Nabi/Rasul; setiap Nabi/Rasul, masing-masing memperoleh mukjizat; ada taklim bertanya, “Pak Ustadz, kami pernah mendengar orang berkata, ia selamat dari kecelakaan hebat karena mendapat mukjizat; apakah betul seperti itu?” Atas pertanyaan ini, Banas mengatakan, “Sesungguhnya, lafadz mukjizat, digunakan dalam Al Quran saja, yang dibekalkan kepada para Nabi/Rasul; makna mukjizat adalah sesuatu keistimewaan pada Nabi/Rasul sebagai tanda-tanda kebenaran akan keberadaan Allah س . Tetapi dalam pembicaraan keseharian, kata mukjizat menjadi salah kaprah, yang diartikan, sesuatu keajaiban yang diterima; dapat saja karena terhindar dari bencana, dapat berupa prestasi yang tak terduga, juga mendapat undian, atau hal lainnya. Dengan memahami, mukjizat adalah karunia Nya khusus bagi Nabi/Rasul, maka kita tidak perlu menggunakan istilah mukjizat dalam kehidupan sehari-hari”.

Lalu diteruskan, “Salah satu bentuk mukjizat adalah diterimanya wahyu berisi firman Nya yang diantar oleh Malaikat Jibril; terdapat empat Nabi/Rasul yang wahyunya dibukukan lalu disebut dengan Kitab Suci. Sedangkan duapuluh satu Nabi/Rasul lainnya tidak membukukan firman Nya, disebabkan oleh pertimbangan kompleksitas komunitasnya; semakin kompleks, semakin banyak firman yang diwahyukan sehingga perlu dibukukan. Dalam menegakkan dan mendakwahkan Islam sebagai Agama yang diridhai di sisi Nya, terdapat empat Kitab Suci, yaitu:

Pertama, Nabi Daud ع membukukan wahyu yang diterimanya menjadi Kitab Zabur; hal ini misalnya dapat dibuktikan melalui firman Nya dalam QS An Nisa’ (4):163, antara lain difirmankan …. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.

Kedua, Nabi Musa ع membukukan wahyu yang diterimanya menjadi Kitab Taurat, yang dapat dibuktikan melalui firman Nya, misalnya dalam QS Al Baqarah (2):51, Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, …dst.

Ketiga, Nabi Isa ع membukukan wahyu yang diterimanya menjadi Kitab Injil, sebagaimana difirmankan dalam QS Maryam (19):30, Berkata Isa (dari ayunan), “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi”. Dalam firman-firman berikutnya, Allah س menfirmankan dengan sebutan Isa Al Masih ibni Maryam; misalnya dalam QS Ali Imran (3):45,

إِذْ قَالَتِ الْمَلآئِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِّنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهاً فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ ﴿٤٥

Melalui ayat ini difirmankan, (Ingatlah), ketika Malaikat berkata, “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh”. Penegasan sebutan Al Masih Isa putera Maryam, menjadi bukti sifat Allah س Maha Mengetahui atas segala sesuatu; karena pada masa berikutnya, Bani Israil mempertuhankannya dan menganggap sebagai Anak Alah dengan sebutan Isa Al Masih.

Keempat, setelah sekitar lima abad berlalu sejak masa kenabian Isa ع, lahir seorang laki-laki dari keluarga Abdullah, bernama Muhammad. Berita kehadirannya telah diwahyukan kepada Nabi Isaع, tersurat dalam Kitab Injil, lalu difirmankan dalam QS Ash Shaf (61):6,

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّراً بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ ﴿٦

Dalam ayat ini difirmankan, Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata, “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)…dst. Penetapan Muhammad sebagai Rasulullah ص, misalnya difirmankan dalam QS Ali Imran (3):3,

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنزَلَ التَّوْرَاةَ وَالإِنجِيلَ﴿٣

Artinya, antara lain, Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil”.

Ada taklim bertanya, “Pak Ustadz, Kitab Injil termasuk Kitabullah; kenapa pada saat ini kita diharamkan berpedoman pada kitab itu?”. Dengan hati-hati Banas mengatakan, “Dalam nash Kitab Injil yang asli, sebagaimana difirmankan dalam QS Ash Shaf (61):6 tadi, telah diberitakan sesungguhnya `Isa عadalah Nabi/Rasul; juga difirmankan kedatangan Nabi sesudah beliau, yaitu Ahmad (Muhammad); sedangkan Kitab yang harus dijadikan pedoman hidup pada masa kenabian Rasulullah ص sampai akhir jaman, difirmankan dalam QS Al Maidah (5):3, antara lain difirmankan, ……. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada Ku. Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat Ku, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu. …dst. Selain adanya ketetapan penyempurnaan Islam pada masa kenabian Rasulullah ص, dalam Kitab Injil yang sekarang ini dituliskan, bahwa Nabi/Rasul `Isa عtelah dipertuhankan; hal ini bertentangan dengan akidah Islam yang haq”.

Kemudian Banas menutup tausiah, dengan mengatakan, “Setiap Nabi/Rasul menerima firman yang diwahyukan melalui Malaikat Jibril; sebagian diantara para Nabi/Rasul membukukannya menjadi Kitab Suci, yaitu Kitab Zabur, Taurat, Injil dan Kitab Al Quran; pewahyuan ini merupakan salah satu bentuk mukjizat. Menjadi kewajiban kaum muslim pada masa kenabian Rasulullah ص sampai akhir jaman, beriman kepada Al Quran sebagai satu-satunya Kitab Suci yang harus dipedomani”; usai Banas berkata begitu, para taklim berdiri tertib, bersegera pulang.

Advertisements
Posted in: Hikmat