035. NABI & RASUL

Posted on December 18, 2015

0


Walau Satu Ayat ep. 035. Allah س memberi tugas khusus kepada sebagian diantara manusia yang dilebihkan, untuk menyampaikan kabar gembira dan peringatan kepada umat. Sebagian diantara mereka ini ditetapkan menjadi Nabi atau Nabi sekaligus Rasul. Peranan para Nabi/Rasul sangat penting untuk mencetak rancang biru kehidupan setiap insan di Hari Kiamat. Kenapa perlu ditetapkan Nabi dan Rasul?

Banas membuka tausiah ba`da dhuha, lalu mengemukakan, “Pada tausiah yang lalu, telah dibahas mengenai orang-orang yang dilebihkan pada masanya; mereka diberi hikmat, yaitu pemahaman yang lebih mendalam tentang ketuhanan. Dalam proses perjalanan waktu, Dia menetapkan sebagian diantara orang-orang pilihan itu menjadi Nabi/Rasul. Sebab-sebab penetapan ini, antara lain dapat ditemukan dalam QS Al Baqarah (2):213, difirmankan,

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُواْ فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلاَّ الَّذِينَ أُوتُوهُ مِن بَعْدِ مَا جَاءتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْياً بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ لِمَا اخْتَلَفُواْ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴿٢١٣

Pada awal ayat ini dijelaskan, Manusia itu adalah umat yang satu. Ini bermakna, pada masa kenabian Adam ع, Hawa, lalu melahirkan Qabil, Habil, Syit dan keterunannya, merupakan umat yang berada dalam satu kesatuan akidah, yaitu beriman kepada Nya saja. Lalu diterangkan dalam ayat ini, (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Kelanjutan ayat ini mengemukakan, sejalan dengan semakin banyaknya keturunan dari keturunan Adam ع, lalu disebut Bani Adam, mulai muncul perselisihan; terdapat lafadz perselisihan, bermakna perbedaan pendapat mengenai keimanan kepada Allah س dan ketaatan kepada Nabi/Rasul, dan aspek hubungan antar manusia. Untuk itulah, Dia mengutus Nabi/Rasul sebagai pemberi kabar gembira; maksud kabar gembira adalah, bagi siapapun yang beriman kepada Nya, mendapat pahala untuk ditempatkan di surga”.

Lalu diteruskan, “Selain kabar gembira, para Nabi/Rasul juga menyampaikan peringatan Nya, yaitu bagi siapapun yang mengkafirinya mendapat dosa dan kelak dijerembabkan ke neraka. Seluruh kabar gembira dan peringatan itu, difirmankan kepada para Nabi/Rasul; sebagian firman Nya ada yang dibukukan menjadi 4 Kitab Suci dan sebagian lainnya tidak dibukukan, Terusan makna ayat ini, Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Lafadz Kitab, bermakna firman Nya yang diwahyukan kepada Nabi/Rasul; meski Kitab Suci difirmankan oleh Tuhan yang haq tetapi ada sebagian diantara manusia yang memperselisihkan, lantaran munculnya rasa dengki satu sama lain. Ayat ini ditutup dengan firman Nya, Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki Nya kepada jalan yang lurus”. Lalu diteruskan, “Penegasan lainnya, misalnya dalam QS Al An`am (6):48, difirmankan,

وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلاَّ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿٤٨

Allah س berfirman, Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Pada ayat ini sekali lagi dapat ditemukan penegasan Nya, diutusnya para Nabi/Rasul adalah untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Pada ayat ini terdapat lafadz mengadakan perbaikan, maksudnya adalah adanya kesempatan memohon ampun dan bertaubat bagi umat yang telah melakukan kesalahan. Jika mengadakan perbaikan, Allah س menjamin tak ada kekhawatiran dan tidak (pula) bersedih hati. Kekhawatiran dan bersedih hati dapat terjadi kelak di kemudian hari sebagai tanda penyesalan, kenapa semasa hidup di dunia tidak beriman kepada Nya dan kepada Nabi/Rasul. Karena itu, kewajiban Nabi/Rasul sesudah menerima wahyu, antara lain difirmankan dalam QS An Nur (24):54,

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُم مَّا حُمِّلْتُمْ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ﴿٥٤

Artinya, Katakanlah, “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian (wahai manusia) adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepada rasul, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. Ayat inilah yang menjadi pedoman bagi setiap Nabi/Rasul, yaitu mendakwahkan seluruh firman Nya yang berisi kabar gembira dan peringatan; Nabi/Rasul tidak boleh memaksakan kehendak keberimanan umat”; ada taklim bertanya, “Pak Ustadz, mohon maaf; kalau Nabi/Rasul tidak diperbolehkan memaksa keberimanan, kenapa ada peperangan?”.

Atas pertanyaan ini, Banas menyampaikan, “Dalam Islam, makna berperang pada umumnya dilafadzkan dengan jihad atau menggunakan lafadz bunuhlah; pelaksanaan jihad harus mengacu pada ketentuan dalam Al Quran, misalnya difirmankan dalam QS Al Baqarah (2):190,

وَقَاتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُواْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبِّ الْمُعْتَدِينَ ﴿١٩٠

Artinya, Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Melalui ayat ini, Allah سmemerintahkan berperang kepada mereka yang memerangi kaum mukmin; bahkan diwanti-wanti, melarang berlebihan. Dari contoh ayat tadi, menjadi jelas, berperang dengan siapapun yang mengganggu, memerangi atau menghalangi peribadahan kaum muslim; tidak asal memerangi kaum kafir begitu saja. Untuk mencegah terjadinya peperangan, ada satu pedoman dasar keberimanan Islam, yang difirmankan dalam QS Al Baqarah (2):256,

لاَ إِكْرَاهَ وَيُؤْمِنْ بِاللّهِ فَقَدِاسْتَمْسَكَ بِا لعُرْوَةِ الْوثْقَ لا أنْفِصَامَ لَهَا وَ اللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴿٢٥٦

Artinya, Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.Dalam ayat ini dengan sangat jelas ditegaskan, tidak ada paksaan beragama Islam; sekaligus Allah س memberikan peringatan, Islam adalah agama yang haq”.

Usai berkata begitu, Banas menutup tausiah, dengan mengatakan, “Manusia, adalah mahluk paling sempurna yang dihadapkan pada pilihan akidah, yaitu beriman atau kafir; sekalipun tidak ada paksaan dalam memeluk Islam, Allah سtetap mengutus Nabi/Rasul guna menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Untuk menjawab pertanyaan, kenapa diutus Nabi/Rasul, adalah mendakwahkan kabar gembira dan peringatan, bukan memaksa; jika ada kaum kafir yang mengganggu atau menghalangi peribadahan, perangilah”; setelah penutupan ini, para taklimpun bergegas pulang menembus hujan rintik yang semakin menderas.

Advertisements
Posted in: Hikmat