034. MANUSIA PILIHAN

Posted on November 18, 2015

0


Walau Satu Ayat ep. 034. Kecuali Adam, Hawa dan Isa عنهُم, manusia dicipta dengan bahan yang sama, yaitu dari saripati tanah yang dipancarkan dari antara tulang sulbi kemudian bertemu dengan indung telur dalam rahim. Tetapi Allah س berfirman dalam Al Quran, ada diantara manusia yang dilebihkan kecakapan dan kejuangannya untuk mendakwahkan perintah Nya. Kenapa ?

Seusai membuka tausiah ba`da dhuha, Banas mengemukakan, “Sebagaimana pernah kita bahas dalam tausiah ini, banyak orang mengira, penciptaan dirinya adalah sebagai penerus generasi yang telah dirintis orangtuanya. Selain itu, ada baiknya memahami apa hakekat penciptaan manusia, guna meraih kenikmatan hidup di Hari Akhir nanti”; setelah berhenti sejenak, lalu diteruskan, “Karena sesungguhnya manusia adalah mahluk yang diciptakan secara sempurna dan telah mengakui Ke Maha Esa an Allah س; kesempurnaan manusia juga difirmankan dalam QS At Tin (95):4, لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ , artimya, Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Sebagai manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, mereka dilengkapi dengan tiga bekal sebagaimana difirmankan dalam QS An Nahl (16):78, yang artinya, Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (qalbu), agar kamu bersyukur”.

Lalu dikatakan, “Manusia, sebagai sebaik-baiknya mahluk, telah dibekali dengan pendengaran, penglihatan dan kalbu, serta suratan takdir untuk menjalani kehidupan; dalam nash Al Quran, manusia mempunyai empat sebutan, yaitu :

1. Disebut dengan خَلِيفَةً, dibaca khalifah, yang difirmankan dalam QS Al Baqarah (2):30; dalam ayat ini, antara lain difirmankan, Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. …dst.

2. Sebutan lain adalah الْإِنسَانَ, dibaca al insan; misalnya difirmankan dalam QS At Tin (95):4, artinya, Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

3. Juga disebut dengan بَشَرٌ, dibaca basyar; misalnya difirmankan dalam QS Ar Rum (30):20, dalam firman Nya, Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.

4. Sebutan yang paling banyak digunakan adalah النَّاسِ, dibaca an nas, misalnya dalam QS Al Baqarah (2):8, difirmankan, Di antara manusia ada yang mengatakan, “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

Kemudian dikatakan, “Dengan memperhatikan proses penciptaannya dan bekal yang disertakannya, maka secara keseluruhan manusia dimaknakan sebagai sebaik-baiknya mahluk yang memiliki jasmani dan rohani dengan bekal pendengaran, penglihatan dan kalbu yang memiliki tanggung jawab dalam menjalankan seluruh ketetapan Nya. Pemaknaan ini dapat digunakan untuk membedakan antara manusia dengan hewan, dengan Malaikat, Jin, Iblis, Setan dan dengan ciptaan lainnya. Dalam proses perjalanan kehidupan, manusia memiliki dua pilihan, yaitu mematuhi (takwa) atau mengingkari (kafir) terhadap perintah Nya”.

Kemudian diteruskan, “Dengan berpedoman ketentuan mengenai penciptaan manusia, maka pertama, setiap manusia diciptakan dengan bahan dan bekal yang sama untuk dapat digunakan memikirkan keberadaan Allah س. Kedua, memiliki kewajiban untuk beriman kepada Allah س dan taat kepada Nabi/Rasul sesuai dengan masa kenabiannya dan taat kepada Rasulullah ص pada masa kenabiannya dan sesudah kewafatannya. Ketiga, ketika menjalani hidup di duna, setiap manusia dihadapkan pada dua pilihan, yaitu bertakwa atau kafir, yang kedua-duanya adalah pilihan yang bersifat pribadi. Ketiga aspek tadi, merupakan tanggung jawab manusia sebagai khalifah, sebagai al insan, sebagai an nas dan sebagai basyar”.

Lalu dikatakan, “Meski manusia tercipta dengan bahan dan cara yang sama, terdapat sebagian diantaranya yang dilebihkan; beberapa nama yang difirmankan dalam Al Quran, antara lain Imran dan Maryam, misalnya difirmankan dalam QS At Tahrim (66):12, artinya, antara lain, dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehormatannya, …dst. Melalui rangkaian ayat-ayat ini, Imran dilebihkan karena pada usia yang sudah sangat tua, isterinya dapat melahirkan anak perempuan, Maryam, yang kemudian melahirkan `Isa, lalu ditetapkan menjadi Nabi/Rasul. Kemudian terdapat nama Khidr, misalnya dalam QS Al Kahfi (18):65, difirmankan, Lalu mereka (Musa dan pngikutnya) bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Maksud hamba dalam ayat ini adalah Khidr, yang difirmankan pada ayat 66. Dalam Surah Al Kahfi juga disebut nama Dzulqarnain, pada ayat 84, yang artinya Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu; nama Dzulqarnain disebutkan pada ayat 83. Nama lainnya adalah Luqman, misalnya difirmankan dalam QS Luqman (31):12, artinya, antara lain, Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, …dst”.

Lalu diteruskan, “Nama lainnya, adalah Uzair yang tidak tersurat dalam Al Quran, tetapi diurai dalam Kitab Tafsir Al Quran; antara lain dalam QS At Taubah (9):30-31,Artinya, Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair itu putera Allah” …dst. Uzair dalam ayat ini, hidup pada masa kenabian Sulaiman ع; pada masa itu, Allah س menghancurkan suatu negeri dan mematikan seluruh penduduknya, yang difirmankan dalam QS Al Baqarah (2):259. Melalui ayat ini dikisahkan, setelah seratus tahun berlalu, seseorang bernama Uzair ternyata bangkit dari kematiannya, lalu dipertuhankan; padahal Uzair sendiri berkata “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”

Usai berkata begitu, Banas menutup tausiah, dengan mengatakan, “Manusia, adalah mahluk paling sempurna yang dihadapkan pada pilihan akidah, yaitu beriman atau kafir; diantara mereka yang beriman, telah dilebihkan dari yang lain. Sebagian diantaranya, disebut dalam Al Quran atau dalam Tafsir Al Quran, misalnya, Imran, Maryam, Khidr, Dzulqarnain, Luqman, Uzair. Mereka yang dilebihkan ini telah mendapat karunia hikmat yaitu pemahaman yang lebih baik mengenai ketuhanan”; mereka ini adalah contoh dari manusia pilihan, yang kisahnya diwahyukan kepada Rasulullah ص kemudian dibukukan dalam Al Quran; agar kisah-kisah ini didakwahkan sebagai tauladan bagi umat”; setelah penutupan ini, para taklimpun bergegas pulang menembus matahari yang semakin memancarkan terik sinarnya.

Advertisements
Posted in: Hikmat