033. SURATAN TAKDIR

Posted on October 18, 2015

0


Walau Satu Ayat ep. 033. Allah س berfirman dalam Al Quran, ketika mencipta manusia telah mengambil sumpah akan keesaan Nya, sekalipun dikandung dalam rahim perempuan non-muslim. Usai Dia meniupkan ruh, lalu dikaruniakan pendengaran, penglihatan dan kalbu sebagai bekal menjalani kehidupan dunia. Selain itu, Dia mengutus Malaikat ke dalam rahim untuk menyuratkan takdir bagi calon bayi.

Sesudah tausiah ba`da dhuha dibuka, ada taklim bertanya, “Pak Ustadz, kami merasakan, meski sudah bekerja sambilan, tetapi pemenuhan kebutuhan rumah tangga ketimbang pas-pasan saja. Apakah ini sudah menjadi takdir kami?” Atas pertanyaan ini, Banas mengajak para taklim untuk selalu bersyukur atas karunia yang telah diterima, apakah banyak atau sedikit; lalu dikatakan, “Untuk lebih memahami siapa diri kita dan bagaimana hari depan kita, marilah kita menelusuri kisah penciptaan manusia, dengan terlebih dahulu mencermati HR Anas bin Malik dan Muslim عهما; yang mengisahkan, Rasulullahص bersabda, “Sesungguhnya Allah س mengutus malaikat ke dalam rahim. Malaikat itu berkata, ‘Ya Tuhan! Masih berupa air mani. Ya Tuhan! Sudah menjadi segumpal darah. Ya Tuhan! Sudah menjadi segumpal daging’. Manakala Allah sudah memutuskan untuk menciptakannya menjadi manusia, maka malaikat akan berkata, ‘Ya Tuhan! Diciptakan sebagai lelaki ataukah perempuan? Sengsara ataukah bahagia? Bagaimanakah rejekinya? Dan bagaimanakah ajalnya? Semua itu sudah ditentukan sejak dalam perut ibunya”. Melalui Hadis ini, Rasulullahص memberi tuntunan, proses kehidupan dimulai sejak janin dicipta. Ketetapan yang berlaku, yaitu dituliskannya jenis kelamin (lelaki atau wanita), perjalanan hidupnya (sengsara atau bahagia), kesakinahannya (miskin atau kaya), dan perjalanan akhir hidupnya (berapa usianya dan bagaimana akhir hayatnya. Yang dapat mendorong manusia untuk berihtiar dan mampu bertahan hidup, adalah karena manusia tidak mengingat dan tidak memahami pembicaraan antara Malaikat dengan Tuhannya. Tetapi kepada taklim penanya, apakah ihtiar memang tidak akan menghasilkan perbaikan hidup, maka tiada seorangpun mengetahui takdir Nya”.

Taklim lainnya bertanya, “Pak Ustadz, kami pernah mendengar ustadz mengatakan, Allah س tidak akan merubah nasib seseorang kecuali orang itu berusaha merubah nasibnya. Apakah memang betul demikian?”. Atas pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Ada dua cara untuk menguji kebenaran ucapan semacam itu; pertama, takdir atau diindonesiakan menjadi nasib, adalah kepastian Allah س yang tidak diketahui oleh seorangpun, bahkan oleh penyandangnya sendiri. Bagaimana kita dapat mengubah nasib yang kita sendiri tidak tahu bagaimana nasib kita; lalu bagaimana kita tahu bahwa sudah mengalami perubahan nasib?’; tanpa menunggu jawaban, lalu diteruskan, “Kedua, dalam Al Quran ada ayat, yang sering diterjemahkan secara keliru, sebagaimana difirmankan dalam QS Ar Ra`du (13):11, artinya, antara lain, …. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. …dst. Dalam ayat ini terdapat lafadz, لاَ يُغَيِّرُ مَا, dengan arti harfiahnya, Dia tidak mengubah apapun; dalam hal ini, arti dari lafadz apapun diterjemahkan menjadi keadaan. Kemudian secara sadar atau tidak sadar, para ustadz menterjemahkan keadaan menjadi nasib. Dengan bertumpu pada pemaknaan ini, maka ayat itu memiliki kebenaran yang haq; bahwa Allah س tidak mengubah keadaan siapapun, bila tidak berusaha untuk mengubahnya sendiri. Misalnya, kita selamanya tidak dapat membaca Al Quran, jika tidak mempelajarinya; dalam contoh ini, belajar membaca Al Quran merupakan ikhtiar untuk mengubah keadaan dari tidak dapat membaca menjadi dapat membaca”.

Lalu dikatakan, “Dalam proses kehamilan, bila janin sudah memiliki catatan takdirnya dan menyatakan kesaksian atas ke Maha Esa an Allah س, lalu Dia menurunkan karunia lainnya, yang difirmankan dalam QS As Sajdah (32):7-9,

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ ﴿٩

Artinya, Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam tubuhnya, ruh (ciptaan)Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. Dalam ayat ini terdapat penegasan, sesungguhnya setiap manusia telah diberi pendengaran, penglihatan dan hati sejak dalam kandungan, sebagai modal dasar untuk menempuh perjalanan hidup duniawi; optimalisasi ketiga modal dasar ini pada jalur Islami, Insya Allah dapat membawa peraihan surga Nya. Karena itu, sebelum bayi terlahir, ia sudah bersaksi, yang difirmankan dalam QS Al A`raf (7):172,

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ ﴿١٧٢

Artinya, Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”; ayat ini menegaskan, agama apapun yang dianut oleh pemilik rahim, semuanya menyatakan kesaksian Tuhannya adalah Allah س. Karena itu, semua janin yang kemudian dilahirkan menjadi bayi, terlahir dalam keadaan fitrah, suci dan Islami; sebagaimana HR Bukhari ر; mengisahkan, bahwa Rasulullah ص bersabda, “Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-Islami). Ayah dan ibunya lah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala)”; Hadis ini sekaligus menegaskan, tiada dosa apapun yang disandang bayi ketika dilahirkan; sekalipun terlahir dari rahim seorang ibu yang non-muslim atau dari rahim seorang perempuan yang bayinya merupakan hasil perzinahan”.

Kemudian Banas menutup tausiah, dengan mengatakan, “Dalam kesempatan kali ini, sudah kita bahas, sesungguhnya dalam penciptaan manusia, Allah س sudah menetapkan takdirnya. Lalu ditiupkan ruh ke dalam janin dan segera bersaksi sesungguhnya Allah س adalah Tuhannya; kemudian dikaruniakan pendengaran, penglihatan dan hati sebagai bekal mengarungi kehidupan dunia untuk mengumpulkan bekal menuju kehidupan ukhrawi. Setiap bayi yang dilahirkan, berada dalam keadaan suci, fitrah dan Islami; tiada dosa turunan baginya, sekalipun terlahir dari hasil perzinahan”; usai tausiah ditutup, para taklim bersegera pulang secara beriringan.

Advertisements
Posted in: Hikmat