031. MENCIPTA ADAM n HAWA

Posted on August 18, 2015

0


Walau Satu Ayat ep. 031. Adam ع adalah khalifah sekaligus manusia pertama; Allah س berfirman dalam Kitab Al Quran, Adam ع diciptakan dari tanah, kemudian mencipta Hawa sebagai pasangan hidupnya; disebut-sebut, Hawa dicipta dari tulang iga Adam ع, meski belum tegas sumber rujukannya. Bila terciptanya manusia masa kini, mudah dimengerti dan dialami; lalu bagaimana proses penciptaan Adam ع?

Usai tausiah ba`da dhuha dibuka, Banas mengemukaan, “Sesudah Allah س mencipta Jin dan Malaikat, lalu mencipta semesta alam dan dunia dengan struktur dan infrastruktur yang sempurna, untuk menjadi panggung dunia. Kemudian diciptakan manusia yang nantinya menjadi penghuni dunia; untuk mengetahui kisah penciptaan Adam, marilah mencermati makna QS Al Hijr (15):28, difirmankan,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَراً مِّن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ ﴿٢٨

Artinya, Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Ayat ini berisi penegasan, manusia diciptakan dari tanah yang dibuat seperti bentuk manusia; pembentukannya bukan di dalam rahim, karena waktu itu belum ada manusia. Untuk mengetahui bagaimana bentuk awal penciptaan Adam ع, marilah mencermati kelanjutan firman Nya pada ayat 29,

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُ سَاجِدِينَ﴿٢٩

Arti ayat ini, Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Dalam ayat ini terdapat lafadz apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dapat digunakan sebagai pertanda, manusia pertama bukan dibentuk sekali jadi, melainkan melalui proses. Kalau dibayangkan, semula Dia mencipta bentukan manusia sebagai cikal bakal Adam ع; mungkin pada awalnya tubuhnya dibentuk kecil, begitu juga tangan dan kakinya; lalu seiring dengan berjalannya waktu, bentukan tubuh menjadi sempurna wujudnya; sesudah sempurna wujudnya, maka ditiupkan ruh”.

Lalu diteruskan, “Untuk mengetahui wujud akhir sebelum ditiupkan ruh, dapat dicermati dari HR Muslim dari Abu Hurairah عنهُما; mengisahkan,Rasulullah ص bersabda, “Allah menciptakan Adam dalam bentuknya setinggi enam puluh hasta. Setelah menciptakannya, Allah berkata, ‘Pergilah dan ucapkanlah salam kepada kelompok itu, yaitu beberapa malaikat yang sedang duduk, dan dengarkanlah apakah jawaban mereka karena itulah ucapan selamat untukmu dan keturunanmu’. Maka Adam pergi menghampiri lalu mengucapkan, ‘Semoga keselamatan menyertai kalian’. Mereka menjawab, ‘Semoga keselamatan dan rahmat Allah menyertai kalian’. Mereka menambahkan ‘rahmat Allah’. Maka setiap orang yang memasuki surga itu seperti bentuk Adam yang tingginya enam puluh hasta. Seluruh mahluk setelah Adam terus berkurang tingginya sampai sekarang”. Dari Hadis ini terdapat penjelasan, tinggi Adam ع pada saat diciptakan, adalah 3,6 meter, dengan perkiraan 1 hasta adalah 60 cm; meski begitu, Rasulullah ص menerangkan, tinggi badan manusia berkurang sampai ukuran normal seperti masa kini”. Lalu ada taklim bertanya, “Pak Ustadz, mohon maaf; sekali lagi mohon maaf. Masa kehidupan antara Rasulullah ص dengan Adam ع begitu lama; mungkin ribuan atau bahkan jutaan tahun selisihnya. Pertanyaan kami, kenapa Rasulullah ص dapat menerangkan kisah penciptaan Adam ع”; apakah kita harus percaya begitu saja?”.

Atas pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Betul, jarak waktu kehidupan keduanya amat sangat jauh; tetapi jangan lupa, sumber hukum dasar Islam, adalah Al Quran dan Al Hadis. Selain itu, Al Quran adalah ahlak Rasulullah ص; artinya, apa yang disabdakan beliau adalah atas ijin dan atas perintah Allah س. Sebagaimana telah ditetapkan, landasan keberimanan umat Islam, antara lain tertuang dalam Rukun Iman; salah satu rukunnya, beriman atas diutusnya para Nabi/Rasul dan meyakini Nabi Muhammad adalah Utusan Nya. Ini berarti, semua sabdanya adalah benar, bersumber dan atas ijin dari Allah س”.

Ada taklim bertanya, “Pak Ustadz, kami pernah mendengar, sebelum diberi nama Adam, betulkah beliau bernama Abul Basyari?”. Atas pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Bila didasarkan pada QS Al Baqarah (2):30, terdapat firman Nya, mengenai rencana Allah س untuk mencipta Khalifah; lalu pada ayat 31, difirmankan, dan Dia mengajarkan kepada Adam ع, dst; dalam Al Quran dan Al Hadis, tidak pernah ada sebutan Abul Basyari; penamaan ini berasal dari Bahasa Arab, artinya, bapaknya manusia; ya memang beliau cikal bakal manusia. Dalam tausiah ini, tidak merujuk pada sumber-sumber informasi yang bukan berasal dari Al Quran dan Al Hadis”; lalu diteruskan, “Kita dapat berandai-andai; seandainya kita sedang menunggu kelahiran anak, sepertinya sudah sejak lama nama itu dipersiapkan; mungkin ketika kandungan masih berumur tiga bulan. Sedangkan Allah س adalah Dzat Yang Maha Tahu, apakah mungkin Dia tidak menyiapkan nama sebelum meniupkan ruh ke dalam bentukan tubuh Adam ع?”

Ada taklim lainnya bertanya, “Pak Ustadz, betulkah Hawa dicipta dari tulang rusuk Adam ع?” Mendapat pertanyaan ini, Banas mengatakan, “Ada ustadz mengisahkan, ketika tinggal di Surga, Adam ع nampak selalu gelisah; Allah س yang memiliki sifat Maha Tahu, kegelisahan ini karena beliau tidak memiliki teman. Lalu kata ustadz itu, ketika beliau sedang tidur, Allah س mengambil tulang iga sebelah kirinya, sebagai bahan untuk mencipta Hawa. Penjelasan ustadz mengenai kegelisahan beliau, diambilnya iga beliau dan proses penciptaan Hawa, tidak dijelaskan dalam Al Quran atau Al Hadis. Karena itu, jawaban atas pertanyaan ini, hanya dapat dijawab, wallahu a`lam bis sawab; terlebih lagi membicarakan dimana letak kuburnya; setelah beliau wafat, tidak ada rujukan yang patut dipercaya, dimana letak kuburnya”.

Lalu dikatakan, “Dengan penjelasan tadi, dapat diketahui, sesungguhnya Adam ع diciptakan dari tanah lempung kering; yaitu tanah dalam pengertian yang sesungguhnya. Proses kejadiannya, semula diberi bentuk manusia, setelah sempurna kejadiannya, yaitu setinggi 60 hasta, lalu ditiupkan ruh. Sekalipun Allah س memiliki kekuasaan untuk mencipta dengan berfirman “kun”, tetapi dalam kisah penciptaan Adam ع juga melalui suatu pemrosesan. Sedangkan penciptaan Hawa, tidak ada kisah yang bersumber dari Al Quran maupun Al Hadis”; lalu Banas menutup tausiah, dan para taklim pulang dengan tertib secara beriringan.

Advertisements
Posted in: Hikmat