030. KHALIFAH

Posted on July 18, 2015

0


Walau Satu Ayat ep. 030. Jadilah orang bijak, dengan cara memahami kandungan makna firman Allah س yang diwahyukan kepada Rasulullah ص dalam Al Quran. Dalam penciptaan Adam ع dikisahkan, Dia menciptanya untuk dijadikan khalifah. Bila manusia tidak memahami dirinya sebagai khalifah, niscaya kehidupannya di dunia tidak dapat membawa kebaikan akhirat. Sesungguhnya, manusia adalah Khalifah.

Seusai membuka tausiah ba`da dhuha, Banas mengemukakan, “Marilah kita memahami, untuk apa kita diciptakan; banyak orang mengira, penciptaan dirinya adalah sebagai penerus generasi yang telah dirintis orangtuanya. Jawaban seperti ini juga benar, tetapi memahami apa hakekat penciptaan manusia, menjadi lebih penting guna meraih kenikmatan hidup di Hari Akhir nanti”; setelah berhenti sejenak, lalu diteruskan, “Untuk memahami hakekat penciptaan manusia, marilah mencermati firman Nya dalam QS Al Baqarah (2):30,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ﴿٣٠

Arti ayat ini, Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Melalui ayat ini, Allah س menegaskan, hendak menciptakan khalifah, kemudian para malaikat mempertanyakan, kenapa menciptakan manusia sebagai khalifah yang akan memperbuat kerusakan di muka bumi. Dari dialog ini, dapat diambil pembelajaran, sesungguhnya manusia adalah khalifah”.

Kemudian diteruskan, “Lafadz khalifah berasal dari Bahasa Arab yang diindonesiakan; maknanya duta; yaitu duta Allah س untuk menjalankan segala perintah yang berisi kewajiban dan larangan. Seluruh perintah Nya telah diwahyukan kepada para Nabi dan Rasul untuk diamalkan bagi kepentingan dirinya sendiri dan meneruskannya kepada lingkungan yang terbatas, misalnya lingkungan keluarga atau tetangga terdekat dan kenalan. Selain itu, ada sebagian manusia menjadi duta Nya yang memperoleh wahyu untuk dirinya sendiri dan berkewajiban mendakwahkan kepada umat manusia semasa hidupnya; mereka adalah para Nabi yang ditetapkan menjadi Rasul. Dalam tarih Islam, tercatat 25 Nabi yang mendapat tugas sebagai Rasul, yaitu menjadi Utusan Allah س untuk menyampaikan kepada umatnya”.

Lalu dikatakan, “Ini berarti, tugas manusia di dunia yang diawali dengan penciptaan Adam, adalah mengemban tugas sebagai khalifah, yaitu berkehidupan dengan memedomani ketentuan Nya. Seluruh ketentuannya, disampaikan kepada umat, melalui para Nabi dan para Rasul; dengan demikian, para Nabi dan Rasul inilah yang berkewajiban memberikan tuntunan kepada umat pada masa hidupnya. Sedangkan pemahaman fungsi manusia sebagai khalifah yang diemban oleh Nabi Muhammad Rasulullah ص diperuntukkan bagi umat semasa kenabiannya dan umat sesudah itu. Dengan demikian, jika kita ditanya, apa hakekat penciptaan manusia, maka jawabannya adalah berkehidupan sesuai dengan perintah Sang Pencipta, yaitu Allah س; dimana perintah ini terdiri dari kewajiban dan larangan. Karena kita hidup pada masa sesudah kenabian Rasulullah ص, maka firman Nya yang harus dipedomani adalah sebagaimana dibukukan menjadi Al Quran; misalnya terdapat perintah Nya, dalam QS Al Baqarah (2):21,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿٢١

Arti ayat ini, Hai manusia, beribadahlah kepada Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Ayat ini mengandung perintah Nya agar setiap manusia, bukan terbatas pada kaum muslim, agar beribadah kepada Nya saja; pemaknaan beribadah, berasal dari nash Al Quran dengan lafadz a`budu; lalu diindonesiakan menjadi sembahlah. Ini bermakna, jika ada manusia yang menyembah selain kepada Allah س maka manusia itu tidak menjalankan fungsinya sebagai khalifah”.

Kemudian dikatakan, “Contoh lainnya, merujuk pada firman Nya dalam QS Adz Dzariyat (51):56, وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya, Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah Ku. Melalui ayat ini, Dia menegaskan, penciptaan jin dan manusia adalah untuk bersembah kepada Nya. Atas dasar kandungan makna ini, maka setiap bani Adam yang menyembah atau mengabdi kepada setan, maka manusia ini tidak menjalankan fungsinya sebagai khalifah”.

Lalu Banas menutup tausiah, dengan berpesan, “Melalui tausiah ini, marilah kita meneguhkan keberimanan, sesungguhnya kita adalah Khalifah; fungsi khalifah adalah berkehidupan sesuai dengan perintah Nya. Jenis perintah Nya, dapat berupa kewajiban dan dapat juga berupa larangan; menjalankan perintah dan menjauhi larangan merupakan bentuk ibadah kepada Nya”; setelah penutupan ini, para taklimpun bergegas pulang mengingat mendung menghitam di langit pada pagi hari itu.

Advertisements
Posted in: Hikmat