029. PANGGUNG DUNIA

Posted on June 18, 2015

0


Walau Satu Ayat ep. 029. Allah س berfirman dalam Al Quran, kehidupan dunia tak ubahnya permainan dan senda gurau. Maksudnya, jangan menjadikan hidup ini untuk bermain dan bersenda gurau. Karena itu, Dia menyiapkan panggung yang ditata apik; dilengkapkan dengan Malaikat, Jin, Iblis, Semesta Alam berikut kelengkapannya; lalu dicipta manusia dan mahluk lainnya disertai dengan pemenuhan kebutuhannya.

Saat membuka tausiah ba`da dhuha, Banas mengemukakan, “Sudah tujuh bulan lamanya kita selenggarakan tausiah ini; kepada taklim sudah saya sampaikan, betapa banyak umat yang mencari kekuatan eksternal untuk dipertuhankan, sampai akhirnya pemuda Ibrahim mencari lalu mendapatkan hidayah Nya. Sejak itu, umat yang mempertuhankan selain Allah س, disebut sebagai penyembah Thoghut dan Jibt”. Lalu diteruskan, “Meski sejak Nabi Adam ع, Islam telah ditegakkan, tetapi baru mulai masa kenabian Ibrahim ع, Islam semakin diteguhkan dan diperjuangkan kepenganutannya; misalnya tersurat dalam QS Al Baqarah (2):132, difirmankan,

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ﴿١٣٢

Artinya, Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata), “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. Ayat ini menjadi salah satu pesan utama para ustadz dan kyai ketika memulai tausiah, khutbah dan acara lainnya; mungkin diantara mereka tidak menyadari bahwa itu adalah wasiat Nabi Ibrahim ع”.

Lalu dikatakan, “Allah س yang ditemukan dalam akal, fikiran, pemahaman dan kemudian didakwahkan Nabi Ibrahim ع adalah ghaib dan disebut dengan Dzat. Dalam pewahyuan Al Quran, Allah س sering disebut dan menyebut jatidiri dengan Allah, Aku, Tuhan, Ku, Nya, yang semuanya itu untuk menunjukkan sifat Nya yang Maha Esa dan Maha Kuasa atas segala sesuatu; tetapi sifat yang sering dikedepankan adalah Ar Rahman (Maha Pengasih) dan Ar Rakhim (Maha Penyayang), sebagaimana tersurat dalam lafadz basmalah.. Selain itu, juga sering disebut dan menyebut jatidiri dengan Engkau, Mu, Dia, sebagai tanda kedekatan dengan umat Nya; dan ada juga sebutan Kami, untuk mengisyaratkan, segala sesuatu peristiwa adalah dengan menyertakan obyeknya. Sifat lain yang tidak terjangkau akal umat adalah Dia tidak berawal dan tidak berakhir; Dia tidak mengantuk dan tidur tidur; inilah sifat khas dan tiada sesuatupun menjadi tandingan Nya”.

Kemudian diteruskan, “Meski Dia memiliki sifat Maha Kuasa dan setiap mencipta dengan berfirman “kun”tetapi sifat Maha Kuasa ini tidak dilakukan secara semena-mena; antara lain terbukti, Dia mencipta semesta alam dalam waktu enam masa atau dalam nash Al Quran disebut sittati ayyam, artinya enam hari. Ungkapan enam masa atau enam hari, sangat berbeda dengan ukuran yang digunakan umat; dalam sejarah terkuak melalui bukti analisis karbon, bumi telah tercipta sejak miliaran tahun yang lalu”.

Lalu dikemukakan, “Berdasar firman-firman Nya dalam Al Quran, Dia mencipta sedikitnya lima mahluk ghaib, yaitu angin, suara, ruh, Jin dan Malaikat. Angin dan suara, merupakan mahluk ghaib yang dapat dirasakan kehadirannya dan dapat diukur keberadaannya; sedangkan ruh, sangat sedikit ilmu diberikan kepada umat. Adapun Jin yang semula bertasbih, sejak penciptaan Adam sebagai khalifah pertama terjerat dengan persoalan akidah, sehingga terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Jin Beriman dan Jin Kafir yang disebut Iblis, Ifrit, Setan, Thoghut, Jibt dan sebutan lain yang diciptakan umat. Dari literatur Islam yang terpercaya, Jin berjenis kelamin, mereka mengalami kelahiran tetapi kematiannya beriring dengan datangnya Hari Kiamat, sesuai ijin Allah س. Sifatnya yang berkehendak, membuat golongan Iblis dan sekutunya diijinkan mengajak umat mengikuti jejak langkahnya menuju ke Neraka Jahanam, kecuali umat yang teguh keberimannya. Kemudian mahluk ghaib terakhir adalah Malaikat; sedikitnya ada 10 Nama dengan tugas khusus. Malaikat dicipta miliaran jumlahnya karena bertugas mengiringi kehidupan mahluk, baik manusia, hewan, maupun benda lainnya, seperti gunung, matahari, dsb. Keberadaan Malaikat tidak berperan seperti Iblis yang mengajak pada kemungkaran, tetapi Malaikat menjalankan tugas untuk mengemban tugas Allah س untuk memindai amal umat Nya”.

Ada taklim bertanya, “Pak Ustadz, jika Allah س mencipta manusia untuk bertuhan kepada Nya sebagaimana didakwahkan para Nabi/Rasul, terlebih lagi makin diintensifkan sejak masa kenabian Ibrahim ع, kenapa Allah س menciptakan Iblis yang dapat menyeret umat ke jurang api Jahanam?”. Atas pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Marilah kita cermati firman Nya dalam QS Muhammad (47):36,

إِنَّمَا الحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَإِن تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ ﴿٣٦

Artinya, Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. Melalui ayat ini, Allah س menegaskan, kehidupan dunia tak ubahnya seperti permainan dan senda gurau; dengan pengingatan jangan terkecoh lantunan Iblis dan sekutunya. Perintah Allah س, difirmankan dengan lafadz bertakwalah; antara lain dalam QS Az Zukhruf (43):62, وَلَا يَصُدَّنَّكُمُ الشَّيْطَانُ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ, artinya Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan; sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu; dengan begitu kehadiran Iblis menyanding manusia, tak lain untuk mengekalkan kehiidupan dunia sebagai permainan dan senda gurau, agar umat mengabaikan Allah س sebagai Pencipta”.

Setelah berkata begitu, Banas menutup tausiah dengan mengatakan, “Dalam tausiah pagi ini, sudah kita bahas kehidupan dunia; Allah س sudah melengkapkan struktur dan infrastruktur yang cukup bagi seluruh umat. Dihadirkannya Iblis dan sekutunya untuk menjadikan kehidupan dunia sebagai permainan dan senda gurau, sekaligus melantunkan bujuk rayu sebagai ujian dan cobaan bagi umat”; usai menyampaikan penutup ini, para taklim pulang dengan tertib secara beriringan menembus sinar matahari yang makin meninggi.

Advertisements
Posted in: Hikmat