098. SEKUTU ALLAH س

Posted on May 18, 2015

0


Seseorang tidak ingin menjadi muslim, beralasan tuhannya tidak boleh diserupakan. Menurutnya, jika ada duplikat tuhan dihadapannya, dapat lebih konsentrasi ibadahnya. Allah س berfirman, penyerupaan itu haram hukumnya dan merupakan dosa besar.

Banas membuka tausiah ba`da dhuha dengan mengulas kembali perbincangan yang lalu; dikatakannya, seperti difirmankan dalam Surah Al Ikhlas, ditegaskan, Allah س adalah Maha Esa, menjadi tempat bergantung, tidak beranak, tidak diperanakkan dan tiada yang serupa dengan Nya. Lalu ada taklim yang bertanya, “Pak Ustadz, saya beriman kepada Allah س dan menggantungkan seluruh hidup kepada Nya; kalau shalat, saya letakkan tulisan Allah di sajadah saya. Dengan cara begini, saya dapat merasa seperti berhadapan dengan Allah س; apakah dibenarkan?” Lalu dikatakan, “Jika tulisan itu, menciptakan kondisi merasa berhadapan dengan Allah س, maka tulisan ini sudah disetarakan dengan Allah س, sekalipun ditulis dengan Huruf Arab.”.
Kemudian diteruskan, “Yang tercatat dalam Al Quran, pada masa kenabian Ibrahim ع, kaum kafir Mekah membuat patung untuk disembah; dengan demikian, kaum ini telah mensetarakan Allah س dengan patung buatannya. Atas pensetaraan ini, Allah س berfirman dalam QS Al A`raf (7):195,
أَلَهُمْ أَرْجُلٌ يَمْشُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ أَيْدٍ يَبْطِشُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ أَعْيُنٌ يُبْصِرُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا قُلِ ادْعُواْ شُرَكَاءكُمْ ثُمَّ كِيدُونِ فَلاَ تُنظِرُونِ ﴿١٩٥
Artinya, Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar? Katakanlah, “Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan) ku, tanpa memberi tangguh (kepada ku)”. Dalam ayat ini ditegaskan, patung-patung itu, meski punya kaki, tak dapat berjalan; meski punya tangan, tak dapat memegang; meski punya mata, tak dapat melihat; meski punya telinga, tak dapat mendengar. Bagaimana penyembah patung ini mensetarakan Allah س dengan patung, padahal Dia Maha Kuasa sedangkan patung itu tidak mampu berbuat untuk dirinya sendiri, apalagi berbuat untuk para penyembahnya”.
Lalu dikatakan, “Sesudah itu, muncul penuhanan terhadap mahluk ghaib; kalau dipikir secara jernih, namanya mahluk, artinya ciptaan; kenapa memuja ciptaan Nya bukan langsung kepada Pencipta Nya, yaitu Allah س”; Banas berhenti bicara, ada taklim yang bertanya, “Pak Ustadz, saya pernah mengikuti upacara sedekah laut, sebagai ucapan syukur kepada bu ratu. Apakah ini juga mensetarakan Allah س”.
Dengan hati-hati Banas menjelaskan, “Banyak diantara kaum muslim yang menyelenggarakan sedekah laut, sedekah bumi, sedekah di makam; pertimbangannya sebagai ucapan rasa syukur. Mereka yang mengucap syukur kepada penguasa laut, atau penguasa manapun, harus mencermati QS An Naml (27):61, difirmankan,
أَمَّن جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَاراً وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَاراً وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزاً أَإِلَهٌ مَّعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ ﴿٦١
Artinya, Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan) nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui. Firman ini menegaskan, bumi, sungai, gunung dan laut adalah ciptaan Allah س;  sehingga seluruh aktifitas dan rejeki didalamnya adalah milik Nya. Jika ingin bersyukur karena mendapat karunia dari tempat itu, hanya kepada Nya saja, bukan yang lain”.
Lalu diteruskan, “Jika kita mengucap syukur kepada mahluk ghaib dengan sebutan ratu ini ratu itu, dewi ini dewi itu, atau mahluk ghaib yang bersemayam di makam sini makam sana, pohon miring pohon tegak, itu bermakna mensetarakan mahluk ghaib Dzat Allah س, Yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Marilah mencermati firman Nya dalam QS Al An`am (6):100,
وَجَعَلُواْ لِلّهِ شُرَكَاء الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ وَخَرَقُواْ لَهُ بَنِينَ وَبَنَاتٍ بِغَيْرِ عِلْمٍ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَصِفُونَ ﴿١٠٠
Artinya, antara lain, Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah yang menciptakan jin-jin itu, …dst. Melalui ayat ini diingatkan, jin dan sekutunya adalah ciptaan Nya, tidak layak dan tidak patut disetarakan dengan Penciptanya”.
Kemudian dikatakan, “Melalui taklim ini, kita sudah membahas, sesungguhnya bersyukur kepada mahluk ghaib, mengabdi kepada mahluk ghaib, menuhankan mahluk ghaib, mematungkan tuhan menggunakan ciptaan Nya, adalah perbuatan membuat kesetaraan dengan Dzat Allah س. Perbuatan semacam ini, dilarang keras dan mendapatkan balasan berupa siksa di Hari Kiamat nanti; bahkan menempatkan tulisan Allah yang ditulis dengan hruf Arab, sudah termasuk mensetarakan Dia”; seusai berkata begitu, Banas menutup tausiah. Para taklim bersegera pulang dengan hati yang semakin tertata, untuk tidak melakukan perbuatan sekecil apapun yang mempunyai makna menyetarakan Dzat Allah س  dengan sesuatu.
Advertisements
Posted in: Ketauhidan