028. MALAIKAT MIKAIL

Posted on May 18, 2015

0


Walau Satu Ayat ep. 028. Sangat jarang kita membicarakan Malaikat Mikail, padahal kedudukannya sselalu hadir dalam kehidupan mahluk. Atas ijin Nya, Malaikat Mikail berperan sebagai penyampai karunia rejeki Nya. Bahkan ada sesuatu bangsa yang mempertuhankannya dan membenci Malaikat Jibril. Dalam Al Quran dan Al Hadis, Malaikat Mikail sering disandingkan dengan Malaikat Jibril. Siapa Malaikat Mikail?

Usai membuka tausiah ba`da dhuha, Banas mengemukakan, “Salah satu Malaikat yang memiliki peran penting dalam kehidupan umat, adalah Malaikat Mikail; dalam tausiah yang lalu, sudah dibahas, Malaikat Mikail mengemban tugas menyampaikan karunia rejeki Nya kepada semua umat. Sesungguhnya, dalam nash Al Quran dan yang dikisahkan dalam Al Hadis, Malaikat Mikail juga ikut berperan bersama Malaikat Jibril. Msalnya dalam QS Al Baqarah (2)::98 difirmankan,

مَن كَانَ عَدُوّاً لِّلّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللّهَ عَدُوٌّ لِّلْكَافِرِينَ ﴿٩٨

Artinya, Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat Nya, rasul-rasul Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir. Melalui ayat ini, terdapat penegasan, bagi yang memusuhi Allah س, memusuhi rasul-rasul dan memusuhi Malaikat, adalah musuh Allah س; yang sangat spesial dalam ayat ini, nama Malaikat Jibril dan Mikail, disebut secara tersendiri. Penyebutan ini menjadi pertanda, betapa istimewanya status kedua Malaikat itu dalam Islam. Jika memperhatikan tugas yang diembannya, Malaikat Jibril adalah sebagai penyampai wahyu kepada para Nabi, Rasul dan umat pilihan; meski masa kenabian telah diakhiri dengan datangnya Rasulullah ص sebagai Nabi pungkasan, tetapi Malaikat Jibril masih bertugas sampai akhir jaman. Sedangkan Malaikat Mikail, adalah Malaikat yang membagikan karunia rejeki Nya, dan dalam beberapa peristiwa, membantu Rasulullah ص dalam memenangkan peperangan penegakan ajaran Islam”.

Saat berhenti bicara, ada taklim bertanya, “Pak Ustadz; pada tausiah yang lalu dapat kita ketahui keistimewaan Malaikat Jibril, lalu bagi Malaikat Mikail, selain sebagai pembagi karunia rejeki Nya, apa keistimewaan lainnya?” Mendapat pertanyaan ini, Banas meneruskan, “Salah satu keistimewaan Malaikat Mikail, masih terkait dengan ayat tadi; yaitu berkaitan dengan sebab-sebab turunnya wahyu (asbabun nuzul), dapat dicermati dalam HR Ibnu abi Hatim dari Abdurrahman bin Laila عنهُما; menguatkan kisah pertemuan antara Umar bin Khattab dengan Kaum Yahudi, dimana beliau menjawab pertanyaan Kaum Yahudi dengan mengatakan, bahwa Malaikat Jibril adalah sebagai penyampai kenabian Rasulullah ص. Kaum Yahudi berkata, mereka memusuhi Malaikat Jibril karena menurunkan kekerasan, kekejaman, peperangan dan kecelakaan”. Saat Umar bin Khattab bertanya, Kaum Yahudi menjawab, penyampai kenabian kaumnya adalah Malaikat Mikail, yang menurunkan hujan dan rahmat”. Lalu Umar bin Khattab bertanya, “Dimana keduanya duduk apabila berada di Arsy”. Kaum Yahudi menjawab, “Jibril di kiri dan Mikail di kanan”. Kemudian Umar bin Khattab mencari Rasulullah ص untuk menceritakan pertemuannya dengan Kaum Yahudi. Rasulullah ص bersabda, “Sesungguhnya baru saja turun wahyu, ‘Barangsiapa yang memusuhi Allah, Malaikat Nya, para Rasul Nya, Jibril dan Mikail, sesungguhnya Allah memusuhinya”. Umar bin Khattab berkata, “Ya Rasulullah, baru saja saya akan bercerita tentang Kaum Yahudi yang memusuhi Jibril, tetapi Allah telah mendahuluiku”. Ayat yang disampaikan Rasulullah ص dalam Hadis ini dibukukan menjadi QS Al Baqarah (2):98, yang dibacakan pada awal tausiah tadi”.

Lalu dikatakan, “Nama Malaikat Mikail juga sering disebut dalam Hadis, misalnya HR Muslim dari Saad عنهُما, ia berkata, Pada Perang Uhud aku pernah melihat di sisi kanan dan kiri Rasulullah ص dua orang lelaki yang berpakaian putih sebelum dan sesudahnya aku tidak pernah melihat mereka lagi, yaitu Malaikat Jibril dan Mikail. Perang yang dimaksud dalam Hadis ini, terjadi pada tanggal 3 Syawal 3H berlangsung selama 9 tahun; beliau mengalami kekalahan, karena tentara penjaga bukit tidak disiplin. Penyebutan Malaikat Mikail, juga dapat dicermati dalam HR Muslim dari Abdullah bin Mas`ud عنهُما; mengisahkan, “Ketika kami shalat di belakang Nabi, kami mengucapkan, `Assalaamu `alallah, artinya `Keselamatan atas Allah`, `Assalaamu `ala Jibril wa Mikail, assalamu `ala fulan wa fulan` artinya `keselamatan atas Jibril dan Mika’il, keselamatan atas Fulan dan Fulan`. Kemudian Nabi ص menoleh kepada kami, lalu bersabda, “Janganlah kamu mengucapkan, Assalaamu `alallah, karena sesungguhnya Allah adalah Maha Penyelamat. Apabila salah seorang di antara kamu duduk dalam shalat, maka ucapkanlah doa tasyahud. Dalam Hadis ini terdapat kisah, dahulu, lafadz yang dibaca saat duduk dalam shalat adalah pemberian salam kepada Allah س, kepada Malaikat Jibril dan Malaikat Mikail, kemudian Rasulullah ص memberikan tuntunan dengan lafadz bacaan tasyahud seperti yang dibaca saat ini”.

Kemudian diteruskan, “Dalam penterjemahan Al Quran, jika terdapat lafadz yang maknanya “Kami turunkan rejeki” itu berarti, Allah س mengaruniakan rejeki kepada umat Nya yang dijalankan oleh Malaikat Mikail. Selain itu, Malaikat Mikail juga melakukan tugas yang difirmankan dengan makna “Kami turunkan hujan”, “Kami tumbuhkan tanaman”, “Kami hidupkan bumi”, dan beberapa karunia lain yang berhubungan dengan rahmat dan rejeki umat”. Setelah berkata begitu, Banas menutup tausiah dengan mengemukakan, “Dalam tausiah pagi ini, kita sudah membahas mengenai sosok Malaikat Mikail; ia memiliki kedudukan istimewa seperti halnya Malaikat Jibril. Tugas utamanya membagikan karunia rahmat dan rejeki, dalam bentuk menurunkan hujan, menghidupkan tanaman, dsb. Selain itu, Malaikat Mikail juga bahu membahu dengan Malaikat Jibril dalam membantu Rasulullah ص untuk menegakkan ajaran Islam”. selesai menyampaikan penutup ini, para taklim pulang dengan tertib secara beriringan.

Advertisements
Posted in: Hikmat