027. MALAIKAT JIBRIL

Posted on April 18, 2015

0


Walau Satu Ayat ep. 027. Jika dalam Kitab Al Quran, terdapat penterjemahan firman Allah س dengan lafadz “Kami berfirman”, ini bermakna, firman itu dibawa oleh Malaikat Jibril untuk disampaikan kepada penerimanya. Malaikat Jibril adalah satu-satunya Malaikat yang memiliki tugas khusus, menyampaikan firmannya; baik kepada Nabi, Rasul atau orang-orang pilihan selain Nabi/Rasul. Siapa Malaikat Jibril ?

Sesudah menyampaikan kata pembuka tausiah ba`da dhuha, Banas mengatakan, “Malaikat yang paling banyak disebut peranannya dalam Al Quran maupun dalam Al Hadis, adalah Malaikat Jibril. Tugasnya sebagai pembawa firman Nya, untuk disampaikan kepada para Nabi, para Rasul dan kepada orang-orang pilihan tertentu”. Lalu dikatakan, “Jika kita menemukan penterjemahan Al Quran yang artinya “Kami berfriman”, maka maksud lafadz ini adalah Allah س berfirman kepada penerima firman yang firman Nya itu dibawa oleh Malaikat Jibril. Misalnya dalam QS Al Baqarah (2):34, difirmankan, Dan (ingatlah) ketika Kamiberfirman kepada para malaikat, ..dst; pada ayat ini, firman Allah س dibawa oleh Malaikat Jibril untuk disampaikan kepada Malaikat yang berada di surga; contoh lain, dalam QS Al Anbiya’ (21):69, difirmankan, Kami berfirman, “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”; pada ayat ini, firman Allah س dibawa oleh Malaikat Jibril untuk disampaikan kepada api, berisi perintah, agar api tidak membakar Nabi Ibrahim ع; dalam kisah ini, apipun tunduk pada perintah Nya”.

Lalu dikatakan, “Dalam tausiah yang lalu, sudah dibahas, tugas Malaikat Jibril adalah membawa wahyu Nya untuk disampaikan kepada umat pilihan; lalu bagaimana pewujudannya, saat menyampaikan firman Nya?”; tanpa menunggu jawaban, lalu dikatakan, “Al Quran menerangkan, Malaikat Jibril memiliki wujud yang berbeda dalam berbagai kesempatan; misalnya difirmankan dalam QS At Takwir (81):23, وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ, artinya, Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang”. Contoh lain, terdapat dalam QS Maryam (19):17 difirmankan,

فَاتَّخَذَتْ مِن دُونِهِمْ حِجَاباً فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَراً سَوِيّاً ﴿١٧

Artinya, maka ia (Maryam) mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka (kaumnya); lalu Kami mengutus ruh Kami (yaitu Jibril) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna; melalui ayat ini ditegaskan, Malaikat Jibril menjelma menjadi wujud manusia sempurna”.

Lalu Banas mengemukakan, “Pewujudan Malaikat Jibril sebagai manusia biasa, juga dapat dicermati dalam HR Muslim ر, dikisahkan, Dalam suatu peristiwa, para sahabat sedang berkumpul dengan Rasulullah ص; lalu datang seseorang berpakaian putih, rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda perjalanan. Orang ini bertanya mengenai Islam, Iman dan Ihsan. Rasulullah ص memberikan penjelasan yang didengar oleh para sahabat. Usai mendapat jawaban, orang itu pergi; lalu Rasulullah ص bertanya kepada Umar, “Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?” Lalu aku (Umar) menjawab, “Allah dan rasul Nya lebih mengetahui”. Rasulullah ص bersabda, “Itulah Jibril, datang untuk mengajarkan agama kepada kalian”. Dari Hadis ini dapat diperoleh pembelajaran, Malaikat Jibril menghampiri Rasulullah ص dengan wujud sebagai manusia; selain itu, Hadis ini menjelaskan, sesungguhnya Malaikat Jibril juga menyampaikan tuntunan mengenai ajaran Islam, atas ijin Nya, untuk disampaikan kepada orang selain Nabi atau Rasul”.

Ketika Banas berhenti bicara, ada taklim bertanya, “Pak Ustadz, Rasulullah ص adalah Nabi/Rasul terakhir; apakah tugas Jibril berakhir?” Atas pertanyaan ini, Banas berkata, “Memang ditegaskan, Rasulullah ص adalah Nabi/Rasul penutup, sehingga dapat muncul pertanyaan, apakah tugas Malaikat Jibril juga berakhir?”; tanpa menunggu jawaban, lalu dikatakan, “Tidak ada ayat Al Quran atau kisah dalam Al Hadis yang secara tegas dapat menjawab pertanyaan seperti itu; meski begitu, kita dapat mencermati, setidaknya tiga firman Nya yang dapat digunakan sebagai indikator tugas Malaikat Jibril sesudah masa kenabian Rasulullah ص. Indikator pertama, dalam QS An Nahl (16):102, difirmankan,

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ ﴿١٠٢

Artinya, Katakanlah, “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. Dalam ayat ini ditegaskan, Malaikat Jibril tidak saja membawa firman Nya untuk dibukukan menjadi Al Quran, tetapi juga meneguhkan keimanan kaum mukmin. Makna yang tersurat, selama di dunia ini masih ada kaum mukmin, maka Insya Allah, Malaikat Jibril masih terus menerus meneguhkan keimanan mereka. Indikator kedua, dalam QS Al Ma`rij (70):4, difirmankan,

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ ﴿٤

Artinya, Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. Ayat ini menegaskan, setiap harinya, Malaikat Jibril beserta Malaikat lainnya, menuju ke Arsy untuk menghadap kepada Nya. Lalu indikator ketiga, dalam QS Al Qadr (97):4, difirmankan,

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ﴿٤

Artinya, Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Firman ini merupakan penjelasan dari Lailatul Qadr yang difirmankan pada ayat 1-3; yang pada ayat ini ditegaskan mengenai turunnya Malaikat Jibril bersama Malaikat lainnya pada malam penuh kemuliaan, yaitu Lailatul Qadr pada Bulan Ramadhan, untuk mengatur segala urusan”.

Usai berkata begitu, Banas menutup tausiah, dengan mengatakan, “Dalam tausiah kali ini, kita mengenali sosok Malaikat Jibril; ia bertugas membawa firman Nya untuk diwahyukan kepada umat pilihan Nya. Ia juga menjadi tokoh sentral dalam penyampaian ajaran Islam sejak terciptanya Adam sebagai khalifah di bumi sampai akhir jaman. Perannya tidak pernah berakhir, meski mengemban tugas yang berbeda; pada masa kenabian, ia bertuga menyampaikan firman Nya dan sesudah datangnya Rasulullah ص sebagai Nabi/Rasul penutup, maka tugasnya adalah meneguhkan keberimanan umat dan menyampaikan rahmat Nya bagi umat pilihan”; selesai kata penutup ini, para taklim pulang beriringan dengan tertib.

Advertisements
Posted in: Hikmat