024. SEKILAS MALAIKAT

Posted on January 18, 2015

0


Walau Satu Ayat ep. 024. Malaikat, sesungguhnya bentuk jamak dari Malak, adalah mahluk ghaib yang selalu tunduk patuh dan berserah diri kepada perintah Allah س ; pertama kali diperkenalkan dalam kisah penciptaan Adam ع. Dalam Kitab Al Quran banyak difirmankan mengenai malaikat, bahwa mereka selalu melaksanakan kehendak Nya tanpa bantahan apapun sebagai pertanda ketundukannya, dalam berbagai peran.

Sesudah Banas mengucapkan kata pembuka dalam tausiah ba`da dhuha, lalu mengatakan, “Dalam tausiah yang lalu sudah dibahas mahluk ghaib berupa angin, suara, ruh dan iblis beserta sekutunya; pada kesempatan ini, tausiah membahas Malaikat. Lafadz Malaikat adalah bentuk jamak dari kata dasar malak; meski seringkali dalam terjemahan Al Quran dituliskan para malaikat; ini penulisan yang salah tetapi lumrah, atau salah kaprah. Sebutan malak, atau satu mahluk ini, antara lain difirmankan dalam QS Al An`am (6):8,

وَقَالُواْ لَوْلا أُنزِلَ عَلَيْهِ مَلَكٌ وَلَوْ أَنزَلْنَا مَلَكاً لَّقُضِيَ الأمْرُ ثُمَّ لاَ يُنظَرُونَ ﴿٨

Artinya, Dan mereka (orang-orang kafir Mekah) berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?”; dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikitpun). Dalam penterjemahan ayat ini, juga ada salah kaprah; lafadz مَلَكاً diterjemahkan menjadi seorang malaikat; salah kaprah pertama, malaikat bukan orang, dan salah kaprah kedua, malaikat bermakna jamak dari malak. Seharusnya diterjemahkan menjadi satu malak; tetapi penterjemahan ini tidak banyak dipahami kaum mukmin, sehingga salah kaprahpun berjalan terus. Semoga Allah س mengampuni kita. Insya Allahu Amin”.

Lalu diteruskan, “Untuk pertama kalinya, sebutan malaikat terdapat dalam QS Al Baqarah (2):30,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ﴿٣٠

Artinya, Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Penyebutan malaikat pada ayat ini, terdapat dalam kisah penciptaan manusia pertama sebagai khalifah, yaitu Adam ع; Malaikat menyatakan mereka selalu bertasbih. Makna bertasbih adalah tunduk dan patuh; dan ini menjadi sifat dasar Malaikat, sebagaimana juga difirmankan dalam QS Al A`raf (7):206,

إِنَّ الَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ ﴿٢٠٦

Artinya, Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan beribadah kepada Allah dan mereka mentasbihkan Nya dan kepada Nya saja mereka bersujud. Ayat ini menegaskan, Malaikat memiliki sifat dasar tidak enggan beribadah dan selalu bertasbih kepada Nya”. Ada taklim bertanya, “Pak Ustadz, apakah ada penjelasan mengenai wujud Malaikat?”.

Banas mengemukakan, “Al Quran, tidak menyebut secara terperinci wujud Malaikat; tetapi dari literatur Islam yang terpercaya, diperoleh keterangan, Malaikat dicipta dari cahaya atau nur. Mereka tidak berjenis kelamin, sehingga jumlahnya tidak bertambah dan tidak berkurang, artinya tidak ada kematian dan tidak ada kelahiran sampai datangnya Hari Kiamat. Meski begitu, dalam Al Quran terdapat ayat-ayat yang menerangkan garis besar wujud Malaikat; antara lain dalam QS Fathir (35):1, difirmankan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلاً أُولِي أَجْنِحَةٍ مَّثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿١

Dalam ayat ini, difirmankan, Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan Nya apa yang dikehendaki Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kemudian dalam QS Al Mursalat (77):2, terdapat firman Nya, فَالْعَاصِفَاتِ عَصْفاً; artinya, dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya. Selain itu, dalam QS Al Maarij (70):4, difirmankan,

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ ﴿٤

Artinya, Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. Dari beberapa ayat tadi, ciri-ciri wujud Malaikat, antara lain bersayap yang memiliki kemampuan terbang kencang, setiap hari selalu menghadap Allah س dengan takaran sama dengan limapuluh ribu tahun penerbangan manusia. Selain itu, secara khusus Al Quran menerangkan tentang Malaikat Jibril, yang diutus dengan jelmaan yang diijinkan; misalnya dalam QS Maryam (19):17, difirmankan,

فَاتَّخَذَتْ مِن دُونِهِمْ حِجَاباً فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَراً سَوِيّاً ﴿١٧

Dalam ayat ini dikisahkan kehamilan Maryam, dengan firman Nya, maka ia (Maryam) mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus ruh Kami (yaitu Jibril) kepadanya, maka Jibril menjelma dihadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Lalu dalam QS An Najm (53):6, difirmankan, ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى; artinya, antara lain, dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli; kemudian pada ayat 13 difir-mankan, وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى; artinya, Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain”. Dalam ayat 6 dan 13 ini berisi kisah pewahyuan firman Nya kepada Rasulullah ص”.

Usai berkata begitu, Banas menutup tausiah, dengan mengatakan, “Dalam tausiah kali ini, sudah dibahas tentang mahluk ghaib yang disebut Malaikat; sebutan Malaikat sesungguhnya bentuk jamak dari sebutan malak; tetapi karena sudah salah kaprah, sebutan Malaikat menjadi standar penyebutan mahluk ghaib itu. Malaikat dicipta dari cahaya, tidak berjenis kelamin, jumlahnya tidak bertambah dan tidak berkurang, tidak ada kematian dan tidak ada kelahiran sampai datangnya Hari Kiamat. Wujud Malaikat tidak dirinci, tetapi dalam beberapa ayat Al Quran dijelaskan, mereka bersayap, kemampuan terbangnya sangat tinggi dan kadang-kadang menjelma menjadi manusia; secara umum, Malaikat mengubah bentuk atas kehendak Nya jua. Khusus Malaikat Jibril, Allah س menerangkan dalam Al Quran, walau sedikit saja penjelasannya”; selesai kata penutup ini, para taklim bergegas pulang.

Advertisements
Posted in: Hikmat