022. IBLIS DIRIDHAI

Posted on November 18, 2014

0


Walau Satu Ayat ep. 022. Ada “orang pinter” yang mengaku muslim bahkan ada kalanya ustadz, yang mengecoh, bahwa jimat yang diberikannya adalah atas ridho Nya. Memang dalam Al Quran, difirmankan, bahwa Allah س meridhai iblis, sebagai kompensasi kesediaan Iblis dicemplungkan ke Neraka Jahanam seiring dengan kisah penciptaan manusia pertama. Tetapi sekaligus mengingatkan iblis, ifrit dan setan mengajak pada kehinaan.

Usai Banas membuka tausiah ba`da dhuha, seorang taklim bertanya, “Pak Ustadz, saya pernah memiliki sesuatu, yang dikatakan untuk menjaga diri; apakah diperbolehkan?”; atas pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Memiliki sesuatu untuk menjaga diri, kita sebut saja namanya jimat”; berkata begitu sambil menatap taklim itu, yang mengangguk. Lalu Banas mengemukakan, “Jimat atau apapun namanya, dimiliki dengan niat menjaga diri, menglariskan dagangan, mempercepat jodoh, mengharmoniskan rumah tangga, disayangi suami, disayangi isteri, disayangi pacar, semua itu menempatkan jimat sebagai pelindung dan penentu kehidupan. Dengan demikian, peranan Allah س sebagai pelindung dan penentu kehidupan digantikan dengan jimat. Tumbuh perasaan percaya diri, karena jimat dapat diraba sementara Allah س hanya dapat dibayangkan. Ini berarti, jimat disetarakan dan menjadi tandingan Allah س yang memiliki sifat Maha Kuasa; sehingga bermakna musyrik”.

Taklim itu menyela, “Pak Ustadz, tetapi jimat itu diberikan oleh Pak Yai; apakah beliau tidak mengetahui musyrik?” Banas mengemukakan, “Inilah persoalan umat Islam sejak dahulu kala; ustadz, kyai atau cerdik pandai Islam lainnya, berpegang pada pemahaman, segala sesuatu yang dilakukan dengan bertumpu pada ayat-ayat Al Quran, dianggap sebagai mendapat ridho Nya. Untuk memperteguh keberimanan, marilah kita mengingat kembali kisah penciptaan Adam ع yang berdampak pada kekafiran iblis. Akibat keingkaran ini, antara lain, dapat dicermati firman Nya dalam QS Al A`raf (7):13,

قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ ﴿١٣

Artinya, Allah berfirman, “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri didalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. Melalui ayat ini, terdapat perintah kepada iblis untuk turun dari surga; artinya turun mendiami bumi; lalu pada ayat 14-15 terdapat firman Nya,

قَالَ أَنظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ ﴿١٤﴾ قَالَ إِنَّكَ مِنَ المُنظَرِينَ ﴿١٥

Artinya, (14) Iblis menjawab, “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. (15) Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh”. Dalam ayat ini tersirat makna, iblis bersedia diusir, tetapi minta diberi tangguh sampai waktu dibangkitkan; maksudnya, tidak mati sampai datangnya Hari Kiamat. Lalu apa yang hendak dikerjakan iblis dengan umur selama itu?; marilah kita cermati ayat 16-17,

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿١٦﴾ ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ ﴿١٧

Artinya, (16) Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, (17) kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”. Kedua ayat ini merupakan sumpah iblis, sampai Hari Kiamat nanti, akan selalu mencegah manusia beriman kepada Allah س. Cara kerja iblis adalah mendatangi, maksudnya membujuk, menipu dan memperdaya manusia dari arah muka dan belakang, dari arah kiri dan kanan; iblis bersumpah, pasti berhasil sehingga banyak manusia yang ingkar seperti dirinya”.

Lalu diteruskan, “Pada ayat tadi, difirmankan dari arah kiri dan arah belakang; maksudnya, bujukan terhadap mereka yang lemah imannya dengan iming-iming harta benda dan kedudukan. Dibisikkan ke telinga orang-orang ini, dengan harta benda yang berlimpah, dengan kedudukan yang tinggi, dibiuskan angan-angan kosong, dapat berbuat ini, itu, untuk membantu orang lain. Lalu terdapat lafadz membujuk dari arah depan dan arah kanan, ditujukan kepada mereka yang beriman tetapi memiliki keterbatasan; misalnya, tidak punya anak, hidup dalam kemiskinan, tidak naik jabatan, dan masih banyak kekurangan lainnya. Nah, ada ustadz, ada kyai, ada tokoh-tokoh lainnya yang mengalami kekurangan seperti itu, sehingga digalinya ilmu untuk dapat berkawan dengan iblis dan sekutunya”; lalu Banas mengatakan, “Berbekal ilmu itu, mereka dapat memperoleh upah yang dianggapnya sebagai rejeki dari Allah س. Niscaya, pada awalnya ada kegamangan dalam hatinya, betulkah ini rejeki halalan toyyiban. Pada saat seperti inlah, iblis membisikkan bujukannya, upah itu adalah rejeki halalan toyyiban, sehingga diraupnya pemberian itu”.

Suasana hening terpecahkan oleh pertanyaan taklim lainnya, “Bukankah iblis takut dengan ayat Al Quran?”; kemudian Banas mengemukakan, “Kita dapat mengambil tamsil dalam keseharian; jika kita mendengar suara tembakan, niscaya takut, lari atau ngumpet. Berbeda dengan mereka yang sudah terbiasa mendengar suara tembakan, jika mendengar suara itu, niscaya dicarinya dari mana datangnya dan mencari tahu, kenapa ada tembakan”. Lalu dikatakan, “Dalam kisah penciptaan Adam ع, iblis tetap berkawan dengan beliau, meskipun diyakini beliau memiliki keimanan yang kuat; demikian juga dalam kisah Nabi Sulaiman ع, ifrit berdialog dengan beliau, bukankah beliau tidak terlepas dari dzikrullah?; tanpa menunggu jawaban, lalu dikatakan, “Ada ayat-ayat tertentu atau lafadz-lafadz tertentu yang jika dibaca sekian kali, malahan mendatangkan iblis; ilmu seperti inilah yang dicari dan dikuasai para ustadz dan kyai tertentu untuk membuatkan jimat, dengan dalih mencari pahala melalui pemberian bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Para ustadz dan kyai ini sadar berkawan dengan iblis dan sekutunya, tetapi didorong oleh desakan untuk memenuhi kebutuhan lebih besar, sehingga mengabaikan kesadaran itu”.

Seusai berkata begitu, Banas menutup tausiah, dengan mengatakan, “Melalui tausiah kali ini, kita sudah membahas, bagaimana sumpah iblis dan sekutunya untuk mengajak pada kehinaan karena keingkarannya. Apa yang dilakukan iblis dan sekutunya telah mendapat ridho atau mendapat ijin Allah س sebagai kompensasi kesediaan mereka diusir dari surga dan nantinya menjadi penghuni neraka jahanam. Ini bermakna, manusia yang mengikuti langkah iblis dan sekutunya, dipastikan menjadi kawan di neraka; kekal di dalamnya”. Usai sudah tausiah pagi itu, para taklim bersiap pulang setelah menyusuri ilmu Nya.

Advertisements
Posted in: Hikmat