021. SEKILAS JIN

Posted on October 18, 2014

0


Walau Satu Ayat ep. 021. Jin adalah mahluk ghaib, yang mulai diperkenalkan melalui kisah penciptaan manusia pertama; golongan ini terbagi menjadi beriman dan kafir. Jin beriman banyak difirmankan dalam Surah Al Jin (surah ke 72), meski tidak disebut secara spesifik sebagai muslim. Dalam Al Quran, Allah س banyak memfirmankan golongan jin kafir, dengan sebutan iblis, ifrit dan setan.

Sesudah Banas mengucapkan kata pembuka dalam tausiah ba`da dhuha, lalu mengatakan, “Sesudah angin, ruh, dan suara, mahluk ghaib yang akan dibahas dalam tausiah ini adalah iblis; dalam Kitab Al Quran difirmankan, iblis adalah bagian dari jin yang mengkafiri perintah Allah س. Selain iblis, golongan jin yang kafir juga disebut dengan ifrit; tetapi yang paling banyak difirmankan, menggunakan sebutan setan. Sebutan iblis, untuk pertama kali difirmankan dalam kisah penciptaan khalifah pertama, yaitu Adam ع, antara lain difirmankan dalam QS Al Baqarah (2):34, yang menfirmankan; iblis tidak menuruti perintah bersujud kepada Adam, ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan yang kafir. Selain itu, dapat disimak dalam QS Al A`raf (7):11,

وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلآئِكَةِ اسْجُدُواْ لآدَمَ فَسَجَدُواْ إِلاَّ إِبْلِيسَ لَمْ يَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ ﴿١١

Artinya, Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat, “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Kemudian Allah س berfirman dalam ayat 12,

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ ﴿١٢

Artinya, Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis, “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. Rasa percaya diri karena tercipta dari api, telah menjadikan iblis sombong dan takabur, enggan melaksanakan perintah Nya. Iblis sebagai sempalan golongan Jin memang telah dicipta lebih awal, sebagaimana difirmankan dalam QS Al Hijr (15):27, وَالْجَآنَّ خَلَقْنَاهُ مِن قَبْلُ مِن نَّارِ السَّمُومِ, artinya, Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas; faktor inilah yang juga menjadikan rasa percaya diri Iblis begitu tinggi”..

Lalu diteruskan, “Usai mencipta Adam ع, Dia mencipta Hawa sebagai pasangan hidupnya; kemudian diperintahkan tinggal di surga; bagaimana kiprah iblis ketika tinggal bersama Adam ع?; dalam QS Al Baqarah (2):35, difirmankan, setan menggelincirkan keduanya dari keteguhan imannya; bagaimana caranya, marilah mencermati firman Nya dalam QS Thaha (20):120,

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَى ﴿١٢٠

Artinya, Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?”. Ayat ini menunjukkan kerja setan menggelincirkan umat, yaitu dengan cara berbisik; ini bemakna, setan mendatangi manusia langsung ke dalam hati. Kemudian pada ayat 123 difirmankan,

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعاً بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى ﴿١٢٣

Arti ayat ini, Allah berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. Sejak difirmankannya ayat ini, para penghuni surga, kecuali malaikat, harus turun ke bumi untuk menjalani hidup bersama; dan Allah س wanti-wanti, mereka akan saling bermusuhan dalam keberimanan; untuk meneguhkan keberimanan, marilah mencermati makna dari QS Fathir (35):5, difirmankan,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ ﴿٥

Artinya, Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Secara tersirat, ditegaskan, setan memiliki kepandaian menipu dan memperdayakan manusia, antara lain melalui hingar bingar duniawi”. Ada taklim bertanya, “Pak Ustadz, kenapa setan menjadi musuh manusia?”

Banas mengemukakan, “Menyimak kembali kisah penciptaan Adam ع, setan memusuhi karena beliau beriman; demikian juga dalam kehidupan dunia, setan menjadi musuh manusia. Allah س memberikan rambu-rambu yang nyata agar menghindari setan; misalnya dalam QS Al Baqarah (2):169, difirmankan,

إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاء وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ﴿١٦٩

Artinya, Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. Dalam ayat ini tersirat perintah, agar tidak berkawan dengan setan, karena mengajak pada perbuatan jahat, keji dan menipu mengenai keberadaan Allah;.selain itu dapat dicermati QS An Nisa’ (4):120, difirmankan,

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُرُوراً ﴿١٢٠

Artinya, Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. Melalui ayat ini, Allah سmenegaskan kembali, bagaimana kiprah setan dalam mengajak manusia agar mengikuti langkahnya”.

Kemudian Banas menutup tausiah dengan mengatakan, “Iblis, ifrit atau setan, adalah mahluk ghaib yang menentang perintah Nya; lantaran merasa lebih tinggi kedudukannya, disebabkan tercipta dari api. Allah س mengingatkan kepada manusia agar tidak mengikuti langkah setan; karena setan mengajak pada perbuatan jahat, keji, mensekutukan Dzat Nya, memberikan janji-janji dan angan-angan kosong serta membuat tipuan dengan kehidupan duniawi. Korban pertama atas bujuk rayu setan, adalah Adam ع dan Hawa”. Seusai berkata begitu, tausiahpun diakhiri, para taklim masih termangu memikirkan setan yang patut dicegah kehadirannya dalam hati.

Advertisements
Posted in: Hikmat