020. RUH

Posted on September 18, 2014

0


Walau Satu Ayat ep. 020. Ruh adalah mahluk (ciptaan) Nya, bersifat ghaib; Allah س berfirman dalam Al Quran, bahwa umat tidak diberi pengetahuan banyak tentang ruh; begitu wahyu yang diterima Rasulullah ص untuk menjawab pertanyaan kaum Yahudi di Madinah. Setiap manusia dan hewan hidup karena ada ruh dalam jiwa raganya; bila ruhnya pergi, mereka disebut mati.

Saat dilihatnya taklim sudah memenuhi serambi masjid, Banas segera membuka tausiah; lalu dikatakan, “Ruh, adalah mahluk (ciptaan) Allah س, dimana umat tidak dapat melihat kewadagannya. Penegasan mengenai ruh, untuk pertama kali difirmankan seiring dengan penciptaan Adam ع, dalam QS Al Hijr (15):29,

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُ سَاجِدِينَ ﴿٢٩

Artinya, Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Firman ini merupakan perintah kepada para malaikat dan jin, pada saat Allah س berkehendak mencipta khalifah, yang diberi nama Adam. Dalam ayat berikutnya dikisahkan, setelah ditiupkan ruh itu, maka para malaikat tunduk sujud, kecuali iblis yang enggan bersujud”.

Setelah berhenti sejenak, lalu diteruskan, “Dalam suatu perjalanan, dikisahkan dialog antara Nabi Muhammad Rasulullah ص dengan sekaum Yahudi, sebagaimana tercatat dalam HR Abdullah (bin Mas’ud) ر; ia berkata, “Ketika saya berjalan bersama Rasulullah di reruntuhan (dalam riwayat lain disebutkan: berjalan di suatu kebun) Madinah, sedang beliau bertelekan pada tongkat dari pelepah kurma yang lurus dan halus yang beliau bawa; lewatlah sekelompok Yahudi. Lalu, sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Tanyakanlah kepadanya tentang ruh”. Lalu yang sebagian itu berkata, “Apa kepentingan kalian kepadanya?”, dan sebagian lagi dari mereka berkata, “Janganlah kamu menanyakannya, agar ia tidak membawa sesuatu (dalam riwayat lain disebutkan: agar ia tidak memperdengarkan atau mendakwahkan kepadamu sesuatu) yang kamu benci”. Sebagian dari mereka berkata,”’Sungguh kami akan bertanya kepadanya”. Lalu mereka berkata, “Tanyakanlah kepadanya”. Kemudian seorang laki-laki dari mereka berdiri (menghadap beliau) dan berkata, “Wahai Abu Qasim, apakah ruh itu?” Maka, Rasulullah ص diam, tiada menjawab sama sekali. (Dalam riwayat lain disebutkan: maka beliau berdiri sesaat memperhatikan, (sambil bertelekan atas pelepah kurma, sedang saya di belakang beliau. Maka, saya berkata, “Sesungguhnya beliau sedang diberi wahyu”. (Saya mundur dari beliau sehingga wahyu selesai turun), lalu saya berdiri di tempat saya. Ketika jelas hal itu, beliau membaca, (yang artinya) Mereka bertanya kapadamu tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu adalah urusan Tuhanku”. Dan mereka tidak diberi ilmu melainkan hanya sedikit”. Al A’masy berkata, “Demikianlah bacaan kami. (Lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Tadi sudah kami katakan, jangan tanyakan kepadanya”. Hadis tadi disebut Hadis Qudsi, yaitu Hadis yang kisahnya mengandung firman Allah س dan dibukukan dalam Kitab Al Quran. Jawaban Nabi ص atas pertanyaan kaum Yahudi tersebut terdapat dalam QS Al Isra’ (17):85, difirmankan,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً ﴿٨٥

Artinya, Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. Ayat ini menegaskan, bahwa Allah س sedikit saja memberikan pengetahuan tentang ruh; makna lafadz kamu dalam ayat ini adalah sebutan untuk Rasulullah ص yang didalamnya tersirat pembelajaran, jika beliau sebagai umat pilihan saja tidak tahu banyak tentang ruh, apalagi umat kebanyakan. Yang diketahui manusia tentang ruh, terbatas pada pemahaman, setiap umat yang bernyawa memiliki ruh dan ketika meninggal dunia, ruh itu kembali keharibaannya. Ini bermakna, tidak ada gunanya umat bertanya dan berspekulasi mengenai ruh, karean ruh adalah urusan Allah س”; terlihat ada taklim yang ingin bertanya; setelah diiyakan, dikatakan, “Kapan ruh itu dimasukkan dalam tubuh?”.

Banas mengemukakan, “Dalam kisah penciptaan Adam, Allah س menciptakan bentukan manusia dari tanah yang kering, kemudian ditiupkan ruh. Pada generasi berikutnya, ruh ditiupkan, jika sudah ada janin di dalam rahim, kecuali peniupan ruh atas Nabi Isa ع sebagaimana difirmankan dalam QS Al Anbiya’ (21):9,

وَالَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهَا مِن رُّوحِنَا وَجَعَلْنَاهَا وَابْنَهَا آيَةً لِّلْعَالَمِينَ ﴿٩١

Artinya, Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh) nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam. Dalam ayat ditegaskan, cikal bakal Nabi Isa ع dimulai dari ditiupkannya ruh dalam rahim Maryam ر kemudian ditumbuhkan janin. Sedangkan terhadap semua manusia kecuali Nabi Adam عdan Nabi Isa ع, melalui proses sebagaimana dikisahkan melalui HR Bukhari, Muslim dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Mas’ud عنهُم; antara lain dikisahkan Rasulullah ص telah bersabda kepada kami dan beliau adalah orang yang selalu benar dan dibenarkan, “Sesungguhnya setiap orang diantara kamu dikumpulkan kejadiannya di dalam rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah (air mani), kemudian menjadi ‘alaqoh (segumpal darah) selama waktu itu juga (empat puluh hari), kemudian menjadi mudhghoh (segumpal daging) selama waktu itu juga, lalu diutuslah seorang malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan ruh padanya …dst (kisah selanjutnya tentang penentuan takdir)”.

Seusasi berkata begitu, Banas mengakhiri tausiah dengan mengatakan, “Dalam tausiah ini telah dibahas mengenai ruh. Yang diketahui manusia mengenai ruh terbatas pada adanya ruh dalam jasad yang hidup, perginya ruh bila jasad mati, dan waktu ditiupkannya ruh, yaitu ketika Janis berusia 120 hari, atau sekitar 4 bulan”. Setelah tausiah berakhir, para taklim bersegera pulang dengan wawasan baru mengenai ruh.

Advertisements
Posted in: Hikmat