019. SUARA

Posted on August 18, 2014

0


Walau Satu Ayat ep. 019. Suara, secara konseptual termasuk sebagai mahluk ghaib; keberadaannya dapat diketahui dari pendengaran; kehadirannya dapat beriring dengan guruh, guntur dan lainnya. Allah س berfirman dalam Al Quran, menggunakan suara sebagai tuntunan doa, tamsil, musibah dan pelukisan siksa neraka.Secara khusus Dia menegaskan larangan bagi manusia untuk bersuara melebihi suara Rasulullah ص.

Seperti pada hari-hari Minggu selama ini, Banas bersiap bertausiah ba`da dhuha; usai menyampaikan untaian kata pembuka, ada taklim bertanya, “Pak Ustadz; semula kami tidak yakin, bahwa angin adalah mahluk ghaib; tetapi setelah mendengar uraian Pak Ustadz, maka kami yakin, angin adalah memang ciptaan Allah س yang tidak tembus pandangan mata. Lalu bagaimana dengan suara, apakah termasuk mahluk ghaib?”. Mendapat pertanyaan ini, Banas membuka Kitab Tafsir Al Quran, mencari indeks mengenai pembahasan suara; lalu dikatakan, “Berdasar makna yang tersurat dalam Kitab Al Quran, sedikitnya terdapat empat uraian mengenai suara”.

Setelah berhenti sejenak, lalu diteruskan, “Uraian Pertama, suara dijadikan sebagai tamsil mengenai kaum kafir; misalnya dalam QS Al Baqarah (2):18-19, difirmankan,

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَ يَرْجِعُونَ ﴿١٨﴾ أَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصْابِعَهُمْ فِي آذَانِهِم مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ واللّهُ مُحِيطٌ بِالْكافِرِينَ ﴿١٩

Artinya, (18) Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). (19) atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Ayat ini merupakan rangkaian dari ayat-ayat sebelumnya mengenai sifat orang kafir yang menolak kebenaran ibarat tuli, bisa dan buta; dalam ayat ini ditamsilkan, kebenaran yang haq disepertikan suara guruh, sehingga kaum kafir itu menutup telinga dari mendengar berita benar ini”.

Kemudian dikatakan, “Uraian Kedua, suara dijadikan tuntunan ketika melantunkan doa atau permohonan; misalnya dalam QS Al A’raf (7):55, difirmankan,

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ﴿٥٥

Artinya, Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Ayat ini menegaskan, Allah س menyukai umat yang berdoa dengan suara lembut; demikian juga pada ayat difirmankan,

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ ﴿٢٠٥

Ayat ini menerangkan, Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hati dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. Sekali lagi melalui ayat ini, Allah س mencintai umat yang selalu mengingat Nama Nya dengan suara direndahkan. Kecintaan Nya kepada Rasulullah ص juga dilukiskan melalui QS Al Hujurat (49):2, difirmankan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ ﴿٢

Artinya, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. Ayat ini menegaskan, barangsiapa yang bersuara melebihi suara Nabi ص, niscaya terhapuslah pahala amalannya”.

Lalu Banas mengatakan, “Uraian Ketiga, suara dijadikan sebagai bentuk siksaan; misalnya dalam QS Hud (11):67, difirmankan,

وَأَخَذَ الَّذِينَ ظَلَمُواْ الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُواْ فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ ﴿٦٧

Dalam ayat ini diterangkan, Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang dzalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Melalui ayat ini, dikisahkan, kaum Tsamud pada masa kenabian Saleh عyang menidakkan kenabian beliau, telah dimusnahkan dengan suara. Siksaan menggunakan suara juga ditimpakan kepada sesuatu kaum, yang difirmankan pada ayat 94,

وَلَمَّا جَاء أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْباً وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مَّنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُواْ الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُواْ فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ ﴿٩٤

Artinya, Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu`aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang dzalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Melalui ayat ini, Allah س menegaskan, telah menimpakan bencana kematian terhadap kaum pada masa kenabian Saleh عyang mengkafiri Nya”.

Lalu diteruskan, “Uraian Keempat, suara dijadikan sebagai pertanda terjadinya siksa neraka; misalnya dalam QS Al Furqan (25):12, difirmankan,

إِذَا رَأَتْهُم مِّن مَّكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظاً وَزَفِيراً ﴿١٢

Arti ayat ini, Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dalam ayat ini, Allah س melukiskan, neraka mengeluarkan suara meggeram, menakutkan kaum kafir yang akan menghuninya. Kemudian dalam QS Al Mulk (67):7, difirmankan, إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقاً وَهِيَ تَفُورُ, artinya, Apabila mereka (kaum kafir) dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak; ayat ini juga melukiskan neraka yang bersuara menakutkan”; ada taklim bertanya, “Pak Ustadz, kenapa neraka dilukiskan bersuara?”.

Atas pertanyaan ini, Banas memberikan jawaban, “Neraka, artinya api; yaitu api yang disediakan untuk menyiksa kaum kafir; kenapa neraka mengeluarkan suara, marilah mencermati makna yang terkandung dalam QS At Tahrim (66):6, difirmankan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ﴿٦

Artinya, Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan oleh Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Dalam keseharian, jika kita membakar kayu, tentu menimbulkan suara; begitu juga neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu yang terbakar, niscaya mengeluarkan suara yang bergemuruh”; kemudian Banas menutup tausiah, dengan mengatakan, “Dalam tausiah pagi ini, sudah kita pelajari bersama, suara adalah mahluk ghaib; dalam Al Quran, suara digunakan untuk tamsil bagi kaum kafir, tuntunan melantunkan doa, bentuk siksaan dan pelukisan keadaan neraka”. Usai menutup tausiah ini, para taklim bubar dan bersegera pulang beriringan.

Advertisements
Posted in: Hikmat