018. ANGIN

Posted on July 18, 2014

0


Walau Satu Ayat ep. 018.  Secara definisi, angin, dapat disebut sebagai mahluk (ciptaan) ghaib. Meski angin tidak tembus oleh pandangan mata, tetapi kehadirannya dapat dirasakan. Allah س  telah berfirman dalam Kitab Al Quran, menggunakan angin untuk memberikan karunia, musibah dan menjadi tamsil. Kemudian dalam Hadis Qudsi, Rasulullah ص  bersabda angin memiliki kekuatan dahsyat, bahkan melebihi mahluk dhahir lainnya.

Pagi ini, seperti hari-hari Minggu sebelumnya, Banas sudah bersiap menyampaikan tausiah; seusai disampaikan kalimat-kalimat pembuka, lalu dikatakan, “Pada tausiah yang lalu, sudah sama-sama kita pahami, angin adalah salah satu mahluk ghaib; dikatakan sebagai mahluk, karena angin adalah ciptaan Allah س; dan dikatakan ghaib, karena umat tidak dapat melihat kewadagannya. Angin, adalah udara yang bergerak; dan udara telah menjadi karunia nikmat bagi semua mahluk, tak terkecuali hewan, tumbuhan dan lainnya. Fungsi angin sebagai pembawa karunia nikmat Nya, antara lain difirmankan dalam QS Ar Rum (30):46,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَن يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ وَلِيُذِيقَكُم مِّن رَّحْمَتِهِ وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴿٤٦

Artinya, Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Nya ialah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia Nya; mudah-mudahan kamu bersyukur. Melalui firman ini ditegaskan, diciptakanya angin, antara lain, sebagai pembawa kabar gembira. Berita gembira ini, berupa pergerakan angin yang dapat melayarkan kapal-kapal, sehingga manusia dapat lebih banyak meraih nikmat Nya. Selanjutnya dalam QS Ar Rum (30):48 ditegaskan, angin membawa berita gembira, yaitu dengan angin itu, awan diarak dari satu tempat ke tempat lain sehingga terkumpul menjadi mendung lalu tercurah airnya menjadi hujan yang menghidupkan bumi”.

Setelah berhenti sejenak, lalu diteruskan, “Angin, dapat juga diperintah untuk menimpakan musibah bagi sesuatu kaum yang dikehendaki Nya; misalnya dalam QS Adz Dzariyat (51):41-42 difirmankan,

وَفِي عَادٍ إِذْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيحَ الْعَقِيمَ ﴿٤١﴾ مَا تَذَرُ مِن شَيْءٍ أَتَتْ عَلَيْهِ إِلَّا جَعَلَتْهُ كَالرَّمِيمِ ﴿٤٢

Artinya, (41) Dan juga pada (kisah) `Aad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan, (42) angin itu tidak membiarkan suatupun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk. Melalui ayat ini dikisahkan, bagaimana angin telah diperintah untuk membinasakan Kaum`Aad pada masa kenabian Hud ع; dibinasakannya semua yang ada dalam komunitas itu sehingga menjadfi serbuk. Selain itu, Allah س telah menimpakan musibah kepada sesuatu kaum pada masa kenabian Luth ع yang difirmankan dalam QS Al Qamar (54):34,

إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِباً إِلَّا آلَ لُوطٍ نَّجَّيْنَاهُم بِسَحَرٍ ﴿٣٤

Artinya, Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing, Dalam ayat ini dikisahkan, bagaimana angin mampu membawa batu-batu yang menghancurkan seluruh kaum, kecuali keluarga Nabi Luth ع karena keberimanannya, sehingga terbebas dari musibah itu”..

Ketika Banas berhenti bicara, ada taklim yang bertanya, “Pak Ustadz, seberapa kuatkah angin itu, sehingga dapat menimbulkan bencana?” Atas pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Dalam keseharian, dapat kita saksikan melalui tayangan tv, betapa sesuatu kebakaran tidak dapat dikendalikan, disebabkan oleh angin yang bertiup kencang; masih ada lagi bencana yang disebabkan oleh keganasan angin puting beliung yang mampu memporakperandakan rumah-rumah sedesa. Selain itu, dapat juga merujuk pada HR Ibnu Hajar dan Anas bin Malik عنهُما; ia mengisahkan, bahwa Rasulullah ص, ”Tatkala Allah menciptakan bumi, bumi tersebut bergoyang-goyang, maka Allah pun menciptakan gunung-gunung lalu Allah lemparkan gunung-gunung tersebut di atas bumi maka tenanglah bumi. Maka para malaikatpun terkagum-kagum dengan penciptaan gunung, mereka berkata, ”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari mahluk Mu yang lebih kuat dari gunung?” Allah berkata, “Ada yaitu besi”. (lalu dikisahkan, para malaikat bertanya tentang mahluk Nya yang lebih kuat, dan dijawab, besi lebih kuat dari gunung; api lebih kuat dari besi; air lebih kuat dari api, dan angin lebih kuat dari air).Melalui Hadis Qudsi ini, diperoleh tuntunan, angin lebih kuat dari api, angin lebih kuat dari air, angin lebih kuat dari besi dan angin lebih kuat dari gunung; ini bermakna, atas perintah Nya, angin mampu membedol gunung sekokoh apapun”.

Lalu dikatakan, “Dalam Kitab Al Quran, angin juga sering digunakan untuk memberikan tamsil atau perumpamaan; misalnya dalam QS Ibrahim (14):18, difirmankan,

مَّثَلُ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمْ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ لاَّ يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُواْ عَلَى شَيْءٍ ذَلِكَ هُوَ الضَّلاَلُ الْبَعِيدُ ﴿١٨

Artinya, Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. Ayat ini menegaskan, amal kebaikan kaum kafir, tak ubahnya seperti abu yang ditiup angin kencang; tak berbekas apa-apa di hadapan Nya”; kemudian Banas menutup tausiah, dengan mengatakan, “Dalam tausiah hari ini, sudah kita pelajari bersama, angin adalah mahluk ghaib yang memiliki kekuatan yang dahsyat; ia tunduk dan patuh kepada perintah Allah س untuk menjalankan tugas memberikan karunia, memberikan musibah dan menjadi tamsil bagi manusia yang berakal”; usai ini, para taklim bubar dan bergegas pulang.

Advertisements
Posted in: Hikmat