017. MAHLUK GHAIB

Posted on June 18, 2014

0


Walau Satu Ayat ep. 017. Dalam Kitab Al Quran, Allah س tidak menfirmankan kategorisai mahluk ghaib dan kisah-kisah penciptaannya; dan sedikit saja diterangkan karakteristik mahluk ghaib. Karena itu, belum ada ilmu pengetahuan yang membahasnya, kecuali secara filosofi dan atau tafsir. Secara konseptual, mahluk ghaib didefinisikan sebagai ciptaan yang ada tetapi keberadaannya tidak tembus oleh pandangan mata.

Salah seorang Guru dari Perguruan Islam yang rajin bertaklim, menganjurkan kepada siswanya untuk mengikuti jejaknya; hasilnya sangat menggembirakan, mereka berbondong ikut hadir. Setelah Banas membuka tausiah, lalu dikatakan, “Secara kejasadan, mahluk Allah س dapat dibedakan menjadi mahluk wadag dan mahluk ghaib; maksud mahluk wadag adalah yang tembus oleh pandangan mata, sedangkan mahluk ghaib tidak tembus. Secara ilmu pengetahuan, setidaknya terdapat tiga mahluk (ciptaan) ghaib, yaitu angin, ruh, malaikat dan jin”; belum lagi Banas melanjutkan bicara, seorang taklim bertanya, “Pak Ustadz, kenapa angin disebut mahluk ghaib?”. Banas mengemukakan, “Mahluk artinya hasil ciptaan dan ghaib artinya tidak tembus oleh pandangan mata; atau dapat dikatakan, angin adalah ciptaan Allah س yang tidak tembus pandang; begitu juga ruh”.

Lalu dikatakan, “Sedangkan mahluk ghaib yang dikisahkan secara terperinci dalam Al Quran, adalah malaikat dan jin; misalnya dalam QS Al Kahfi (18):50 difirmankan,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاء مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلاً ﴿٥٠

Arti ayat ini, antara lain, Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia (iblis) adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. …dst. Ayat ini menegaskan, sebelum diciptakannya Adam ع, telah tercipta malaikat dan jin; sebagian golongan jin melawan perintah Nya, lalu disebut iblis. Selain iblis, dalam Al Quran disebutkan juga kelompok mahluk ghaib kafir lainnya, yaitu ifrit, sebagaimana difirmankan dalam QS An Naml (27):39, yang mengisahkan kesediaan ifrit untuk memindahkan singgasana Ratu Bilqis pada masa kenabian Sulaiman ع. Sedangkan pada masa kenabian Rasulullah ص sebagian dari golongan jin, beriman kepada Allah س, sebagaimana difirmankan dalam QS Al Jin (72):1-3,

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآناً عَجَباً ﴿١﴾ يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَداً ﴿٢﴾ وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَداً ﴿٣

Artinya, (1) Katakanlah (hai Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Quran), lalu mereka berkata, “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (2) (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami, dan bahwa Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak”. Melalui ayat ini, kita dapati penegasan, ada sebagian jin yang beriman kepada Allah س; yaitu setelah mendengar Rasulullah ص membacakan ayat-ayat Nya. Selain itu, juga ditegaskan, golongan jin berjanji sekali-kali tidak menyekutukan atau menyetarakan Allah س dengan sesuatu”.

Lalu diteruskan, “Disamping adanya penegasan keislaman jin, golongan jin ini juga mengemukakan, mereka yang tidak beriman adalah kaum yang tidak berakal, sebagaimana difirmankan dalam QS Al Jin (72):4-5,

وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّهِ شَطَطاً ﴿٤﴾ وَأَنَّا ظَنَنَّا أَن لَّن تَقُولَ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِباً ﴿٥

Artinya, (4) Dan bahwa orang yang kurang akal daripada kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah, (5) dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah. Melalui ayat ini, Allah س mengingatkan kepada manusia, bahwa jin dapat memberikan penilaian, manusia yang tidak beriman kepada Nya termasuk dalam golongan kaum tidak berakal”.

Ada taklim yang bertanya, “Apakah kita patut percaya kepada iblis?. Merespon pertanyaan seperti ini, Banas mengemukakan, “Setiap mukmin wajib mempercayai adanya iblis sebagai mahluk atau ciptaan Allah س; kalau tidak percaya, lalu iblis diciptakan oleh siapa?”; tanpa menunggu jawaban, Banas mengatakan, “Namun perlu berhati-hati dalam menyikapi keberadaan iblis; kaum mukmin wajib percaya bahwa mereka mahluk Nya. Yang diharamkan adalah tumbuhnya kepercayaan, iblis atau sekutunya, dapat dinamai setan, tuyul, gendruwo, dan nama lainnya, sebagai mahluk ghaib yang menentukan hidup manusia. Apalagi oleh sebagian umat, mereka diajak bekerja sama mengumpulkan harta bagi diri umat itu sendiri. Dalam keseharian, umat yang percaya pada kedigdayaan iblis dan sekutunya, atau bekerja sama dalam kekaryaan, dengan cara menyelenggarakan upacara-upacara dan sesaji, membakar kemenyan, sekalipun dihias dengan bacaan ayat-ayat suci Al Quran”.

Setelah dirasa cukup bertausiah, Banas menutup tausiah, dengan mengatakan, “Pada tausiah kali ini, sudah dibahas mengenai sedikitnya empat mahluk ghaib, yaitu angin, ruh, malaikat dan jin. Keberimanan malaikat tidak diragukan lagi; sedangkan dari mahluk jin, terbagi menjadi dua golongan, yaitu ada yang beriman dan ada yang kafir”; ketika Banas berhenti bicara, para taklim bersiap pulang.

Advertisements
Posted in: Hikmat