016. ENAM MASA, how ?

Posted on May 18, 2014

0


Walau Satu Ayat ep. 016. Kisah penciptaan semesta alam selama enam hari, menjadi bukti, bahwa sesungguhnya Allah س mengajarkan kepada umat Nya untuk belajar atas tanda-tanda Kekuasaan Nya. Semua ciptaan Nya tidak dilakukan secara ujug-ujug, tetapi berproses yang disebut dengan “sunatullah” atau atas kehendak Nya. Dia berfirman dalam Al Quran, tanda-tanda Kekuasaan itu bagi kaum berakal.

Sejak pagi-pagi, seorang ibu dari luar kompleks sudah punya rencana untuk bertanya mengenai kisah penciptaan semesta alam; karena itu, begitu Banas membuka tausiah, langsung ia bertanya, “Pak Ustadz, apakah enam hari yang diperlukan Allah س untuk mencipta semesta alam, sama dengan enam hari kita?” Menanggapi pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Wallahu a`lam bis Sawab, apakah lama harinya Allah س sama dengan harinya umat; meski begitu kita tidak boleh berhenti pada pemikiran, bahwa semua itu atas Kehendak Nya. Untuk menjawab pertanyaan seperti itu, perlu ada kesepahaman terlebih dulu, makna lafadz ayyam dalam nash Al Quran. Secara kebahasaan, ayyam berasal dari kata dasar yaum yang artinya hari; tetapi dalam penterjemahannya, ayyam adalah masa. Karena itu, kita patut mengikuti makna ayyam adalah masa. Sedangkan istilah masa yang digunakan umat, dapat memberikan arti terbatas; misalnya masa kehamilan, masa pertumbuhan, masa panen, masa puber, masa pensiun, masa lajang, masa gadis, dan masa lainnya”.

Lalu diteruskan, “Dia menciptakan semesta alam selama enam masa; dua masa untuk mencipta langit dan seluruh hiasannya yang ditata apik dan berkeseimbangan. Lalu selama empat masa untuk mencipta bumi dan seluruh struktur dan infra strukturnya. Secara teori evolusi pembentukan semesta alam, yang pertama tercipta adalah tujuh lapis langit dengan seluruh hiasannya selama dua masa. Adapun empat masa lainnya adalah untuk menciptakan cukilan matahari untuk dijadikan bumi yang semula berwujud konglomerat (batu padat keras) selama satu masa, dikenal dengan jaman batu. Masa kedua, Dia ciptakan bumi yang dibalut es, disebut jaman es. Masa ketiga, Dia kokohkan bumi dengan meletakkan gunung dan merias dengan lembah serta celah diantara gunung; lalu diturunkan air hujan yang meniti celah, menjadi sungai berkumpul di laut. Masa keempat, Dia ciptakan tumbuhan, hewan dan manusia, sampai datangnya Hari Kiamat”.

Setelah berhenti sejenak, lalu dikatakan, “Dalam ayat Al Quran yang dibahas pada tausiah yang lalu disebutkan, Dia selalu dalam kesibukan untuk segala urusan; secara tafsir, yang dimaksud dengan urusan adalah mencipta, memelihara, mematikan, menghidupkan, mematikan kembali lalu menghidupkan kembali untuk menerima pengadilan Nya di Hari Hisab; ini bermakna, semua itu melalui suatu proses secara bertahap seiring waktu. Kalau menjawab pertanyaan, enam hari itu berapa lama, sampai kini belum ilmu pengetahuan yang dapat menjawab; meski begitu, kita tidak boleh berhenti sampai pada kebuntuan itu. Kita dapat merujuk pada temuan ilmiah; antara lain perkiraan usia kura-kura yang sudah eksis sejak ratusan juta tahun yang lalu; atau perkiraan pengubahan binatan dan pohon yang mati menjadi fosil perlu waktu sekian juta tahun; lalu proses pengubahan dari fosil menjadi minyak perlu sekian juta tahun. Semua temuan ilmiah ini, dapat dijadikan rujukan untuk menerangkan lamanya penciptaan semesta alam memerlukan waktu amat sangat, sangat dan sangat lama; mungkin milyaran tahun. Itulah lamanya Allah س mencipta alam”; bicara Banas terhenti, karena ada taklim yang bertanya, “Pak Ustadz, kenapa perlu enam masa?”.

Atas pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Enam masa yang kadar waktunya sangat lama, merupakan proses penciptaan. Proses seperti itu, disebut berproses secara evolusi; teori evolusi itu hasil pemikiran umat, antara lain mengikuti sunatullah yang difirmankan dalam QS Al Baqarah (2):164,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ ﴿١٦٤

Artinya, Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dalam ayat ini terdapat penegasan, seluruh proses penciptaan semesta alam dengan isinya, menjadi pembelajaran bagi kaum yang memikirkan, artinya kaum yang berakal. Seandainya, ya seandainya, Allah سberfirman kun ketika mencipta bumi tanpa proses, maka umat tidak akan menemukan teori evolusi; atau seandainya Dia mencipta pohon jati dengan berfirman kun tanpa proses, maka munculnya pohon jati akan menjadi pergunjingan umat; terlebih lagi, seandainya Dia mencipta manusia dengan berfirman kun, langsung jadi manusia tanpa proses kehamilan, wah, tidak ada Ilmu Kedokteran tentang kelahiran, tentang persalinan, tentang janin, tentang bayi, dan lainnya”.

Kemudian Banas menyudahi tausiah, dengan mengatakan, “Dari tausiah ini, sudah kita bahas tentang lamanya masa yang diperlukan Allah س untuk mencipta alam, tidak sama dengan masa dalam pemikiran mahluk. Sedangkan diperlukannya enam masa, menjadi petunjuk bahwa dalam penciptaan itu ada proses yang menyemangati umat yang berakal untuk memikirkan tanda-tanda keesaan dan kekuasaan Nya”. Seusai menutup tausiah, para taklimpun bergegas pulang.

Advertisements
Posted in: Hikmat