015. ENAM MASA

Posted on April 18, 2014

0


Walau Satu Ayat ep. 015. Allah س adalah Dzat Maha Kuasa dan Maha Pencipta; bila berkehendak mencipta, Dia berfirman “jadi” atau dalam nash Al Quran, “kun” maka jadilah segala yang dikehendaki, yang dilafadzkan “fa yakun”; tetapi Kekuasaan Nya tidaklah dilakukan secara semena-mena; antara lain dapat dibuktikan, penciptaan semesta alam berproses selama enam hari, itupun terbagi menjadi dua tahapan.

Dari tausiah yang lalu, menyisakan pertanyaan di dada para taklim; karena itu, begitu Banas membuka tausiah, langsung ada taklim yang bertanya, “Pak Ustadz, pada tausiah yang membahas semesta alam, pada satu sisi menunjukkan kekaguman atas sifat Nya Yang Maha Pencipta dan pada sisi lain dapat menimbulkan ketidakpercayaan. Kemudian Dzat Allah س yang sangat ghaib dalam pikiran para mahluk, bagaimana menciptakan semesta alam?”.

Menghadapi pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Kekaguman memang patut dilayangkan; tetapi ketidakpercayaan harus dibuang jauh dan dikubur dalam-dalam. Karena fondasi ajaran Islam adalah beriman kepada Allah س sebagai Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta; marilah mencermati firman Nya dalam QS Al Baqarah (2):117,

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْراً فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ ﴿١١٧

Artinya, Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia mengatakan kepadanya, “Jadilah”; lalu jadilah (segala sesuatu yang dikehendaki). Dalam ayat ini terdapat penegasan, Dia adalah Dzat yang memiliki sifat Maha Pencipta; berhenti sejenak.

Lalu diteruskan, “Untuk menjawab pertanyaan, bagaimana menciptakan semesta alam, Allah س menggunakan hak prerogatif, cukup mengatakan kun atau jadilah; maka fayakun atau jadilah atau terciptalah apa yang diciptakan. Meski demikian, kisah penciptaan segala yang dikehendaki, selalu melalui proses; marilah mencermati ayat dalam QS Qaf (50):38, difirmankan,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ ﴿٣٨

Artinya, Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan. Dalam ayat ini digunakan sebutan “Kami” untuk menunjukkan jatidiri Dzat Nya; seperti pernah kita bahas dalam tausiah yang lalu, penggunaan sebutan Kami untuk menunjukkan, sesungguhnya penciptaan karunia ini mengikutsertakan obyek ciptaan Nya. Dalam kisah penciptaan langit, bumi dan segala isinya, terjadi dalam sautu proses, yang dalam ayat tadi disebutkan, lamanya enam masa, sebagai terjemahan dari lafadz sittati ayyam; lafadz ayyam, dari kata dasar yaum dan bentuk jamaknya menjadi ayyam, arti harfiahnya hari. Ayat ini sekaligus menegaskan, Dia, Dzat Yang Maha Pencipta yang dalam penciptaannya tidak dilakukan secara semena-mena; selalu terjadi dengan berproses”.

Kemudian dikemukakan, “Enam hari yang dilafadzkan pada ayat tadi, terbagi menjadi dua tahapan, sebagaimana firman Nya dalam QS Fushshilat (41):9-12,

قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَندَاداً ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ ﴿٩﴾ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِن فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاء لِّلسَّائِلِينَ ﴿١٠﴾ ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاء وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ اِئْتِيَا طَوْعاً أَوْ كَرْهاً قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ ﴿١١﴾ فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاء أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظاً ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ ﴿١٢

Makna ayat ini, Katakanlah, “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi Nya?” (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Pada awal ayat ini ditegaskan, Allah س menciptakan bumi dan menempatkan gunung sebagai pengokoh, dalam dua masa; kemudian difirmankan, Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Setelah bumi dan infrastrukturnya terbentuk, diciptakanlah tanaman sebagai sumber makanan bagi penghuni; ayat ini dakhiri dengan firman Nya, Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya (langit) dan kepada bumi, “Datanglah kamu keduanya menurut perintah Ku dengan suka atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati”. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Penegasan tentang berpadunya langit dan bumi, dapat dicermati dalam QS Al Anbiya’ (21):30, difirmankan,

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقاً فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ ﴿٣٠

Artinya, Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”; usai membacakan ayat ini, Banas menutup tausiah dan mengatakan, “Marilah meneguhkan keberimanan, penciptaan semesta alam itu, terbagi menjadi dua tahapan. Tahap pertama, penciptaan bumi berpadu dengan langit dalam waktu dua masa, lalu dipisahkan; kemudian tahap kedua, disempurnakannya bumi dengan membangun struktur dan infrastruktur berupa gunung, lembah, sungai, laut dilengkapkan dengan penciptakaan hewan, udara, tumbuhan, manusia dan sumber makanan bagi mahluk, selama empat masa. Kisah penciptaan ini sekaligus menegaskan, meski dalam penciptaan cukup difirmankan kun, tetapi hak ini tidak dijalankan secara semena-mena, agar mahluk berfikir tentang proses kejadian”. Kemudian para taklim, dengan membawa kelegaan pemahaman yang semakin dalam.

Advertisements
Posted in: Hikmat