014. SEMESTA ALAM

Posted on March 18, 2014

0


Walau Satu Ayat ep. 014. Pada awalnya, Malaikat dan Jin bertasbih di Arsy, tempat kedudukan Nya; suatu tempat yang dapat diketahui makhluk, nanti sesudah Hari Kiamat. Sebelumnya, Allah س telah menciptakan semesta alam yang disediakan bagi makhluk untuk menjalani kehidupan. Dengan bahasa yang tidak dimengerti manusia, secara sunatullah, semesta alam juga selalu bertasbih kepada Nya.

Banas makin tersemangati, dengan melihat makin bertambahnya taklim yang hadir dalam tausiah ba`da dhuha; setelah tausiah dibuka, lalu dikatakan, “Mungkin ada sebagian orang tidak memikirkan tentang bumi, tempat dimana ia tinggal. Untuk pertama kalinya, nash Al Quran tentang bumi, difirmankan dalam QS Al Baqarah (2):35,

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُواْ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ ﴿٣٦

Artinya, Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”. Firman ini berisi penegasan, Allah س menghukum Adam ع termakan oleh bujuk rayu Iblis, sehingga tergelincir dari berserah diri dan menghukum Iblis yang melakukan tipu daya; hukumannya adalah kedua-duanya harus turun dari kediaman surge berpindah ke bumi dan Dia menetapkan keduanya saling bermusuhan. Ini bermakna, Allah س telah menciptakan bumi terlebih dahulu; dari sifatnya Yang Maha Mengetahui, bumi diperuntukkan bagi tempat tinggal bani Adam dan Iblis beserta sekutunya”.

Kemudian diteruskan, “Allah س menciptakan bumi dengan segala kelengkapannya; misalnya dalam QS Al Mulk (67):3-5, difirmankan,

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقاً مَّا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِن تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِن فُطُورٍ ﴿٣﴾ ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِأً وَهُوَ حَسِيرٌ ﴿٤﴾ وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُوماً لِّلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ ﴿٥

Artinya, Dia, yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, Kamu sama sekali tidak melihat ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah itu sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah olehmu berulang-ulang, adakah engkau melihat menemukan yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu sesungguhnya lemah. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. Firman ini menegaskan, Dia menciptakan langit sebanyak tujuh lapis yang dihias dengan berbagai bentukan secara sempurna dan setiap elemen ciptaan Nya ditata apik dan berjalan sesuai sunnatullah atau kehendak dan tata aturan Allah س. Tiada kecacatan sekecil apapun; misalnya jarak matahari-bumi selalu berada pada manzilah (orbit) yang tetap, tidak pernah bergeser; tidak pernah matahari atau bulan salah arah terbitnya, tidak pernah bumi mendekati mars, atau mendekati planet lainnya, dan tanda penataan lainnya. Kelengkapan lainnya dapat dicermati dalam QS Ar Ra`du (13):3, difirmankan,

وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَاراً وَمِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ﴿٣

Arti ayat ini, antara lain, Dan Dia lah, Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. …dst. Ayat ini menegaskan, Dia menciptakan gunung dan sungai; kemudian disediakan pakan, sebagaimana difirmankan dalam QS Ibrahim (14):32,

اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الأَنْهَارَ ﴿٣٢

Artinya, Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rejeki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai”.

Setelah berhenti sejenak, dikatakan, “Melalui tausiah ini telah dipaparkan ayat-ayat yang memberikan penjelasan, sebagai Sang Maha Pencipta, Allah س sangat istiqamah menyediakan semua kebutuhan dan kelengkapan bagi umat Nya. Langit, bumi dan segala isinya, lebih sering disebut dengan semesta alam; seperti dalam QS Al Fatikhah (1):2, yang maknanya Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Dalam ayat ini, lafadz al `alamin, diterjemahkan menjadi semesta alam dan seringkali kita menyebutnya dengan alam dan kadang-kadang diterjemahkan dengan seluruh alam atau diterjemahkan dengan jagad raya. Pemaknaan yang terkandung dalam pengertian semesta alam, bukan terbatas pada bumi tetapi juga bulan, bintang, matahari, langit, planet-planet lainnya dan seluruh isinya; termasuk juga alam ruh, alam dunia, alam kubur dan alam akhirat”; selepas berkata begitu, Banas menutup tausiah; para taklim bersiap pulang dengan pemahaman yang lebih komprehensif.

Advertisements
Posted in: Hikmat