013. BERSERAH

Posted on February 18, 2014

0


Walau Satu Ayat ep. 013. Yang dicipta (mahluk) tunduk, patuh dan berserah kepada Pencipta; karena Pencipta lebih mengetahui seluk beluk ciptaan Nya. Ibarat panggung sandiwara, pelakon mengikut kehendak sutradara; begitu juga kehidupan, dimana setiap mahluk harus berserah diri kepada Nya. Mahluk, tidak terbatas pada manusia, juga hewan, tumbuhan, gunung, bulan, bintang, matahari atau seluruh semesta alam.

Tidak seperti biasanya, sesekali turun rintik hujan mengiring perjalanan taklim menuju masjid; usai membuka tausiah, Banas mengemukakan, “Secara sederhana, orang boleh bertanya, bagaimana kesiapan Allah س untuk mengelola alam semesta. Dari Kitab Al Quran, dapat diketahui, Dia mencipta bumi, langit dan seisinya, antara lain difirmankan dalam QS Az Zumar (39):5,

إخَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى أَلَا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ ﴿٥

Artinya, Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Dari ayat ini dapat diketahui, sesungguhnya Allah س telah mencipta bumi, langit, kemudian mencipta siang, malam dan mengatur matahari dan bulan”.

Lalu dikatakan, “Manusia tidak mampu membayangkan, bagaimana Dzat Allah س; karena Dia mencipta langit, bumi, isi didalamnya, mempertukarkan siang dengan malam dan mengatur peredaran matahari dan bulan. Dapat dikatakan, Dzat Allah س adalah unik; artinya, memiliki sesuatu yang khas, tidak dipunyai oleh mahluk Nya. Marilah mencermati QS Al Baqarah (2):255, difirmankan,

اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ ﴿٢٥٥

Artinya, Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. Firman ini sangat dikenal dengan sebutan Ayat Kursi; makna lafadz ”Kursi” adalah “Kekuasaan atau Kedudukan”, sehingga Kursi dapat dimaknakan menjadi, sesungguhnya Kekuasan dan Kedudukan Nya meliputi seluruh alam semesta. ,Manusia tidak mungkin dapat membayangkan bagaimana Dzat Allah س, yang dalam ayat tadi difirmankan, hidup kekal, tidak pernah terlepas dari mengurus mahluk Nya, tidak tidur, tidak mengantuk, memberikan syafaat, dan memberikan ijin atas semua peristiwa yang terjadi di semesta alam. Kemudian Allah س membuat pedoman bagi semua mahluk, agar perikehidupan umat selaras dengan perintah Nya”.

Lalu diteruskan, “Pedoman yang diberlakukan, misalnya, terdapat dalam QS Ali Imran (3):19; antara lain difirmankan, Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah adalah Islam. Dalam petikan ayat ini, terdapat dua konsep utama, yaitu “agama” dan “Islam”; berhenti sejenak. Kemudian dikemukakan, “Konsep pertama, yaitu agama, berasal dari bahasa Sanskerta (Jawa Kuno) untuk menerjemahkan arti Ad Din dari Bahasa Al Quran; dalam budaya Jawa juga dikenal istilah ugama yang berarti angger-angger yaitu tata aturan hidup. Dalam Islam, agama sebagai terjemahan dari Ad Din, merupakan tata aturan yang bersumber dari pesan-pesan yang diwahyukan Allah س, kepada Nabi/Rasul; sebagian firman Nya dibukukan menjadi 4 Kitab Suci (yaitu Zabur, Taurat, Injil dan Al Quran). Lalu konsep kedua, adalah Islam; dalam nash Al Quran, Islam diberi makna dengan berbagai tafsir. Penafsiran pertama, Islam berarti tunduk dan patuh kepada Allah س; misalnya dalam QS Al Baqarah (2):128, difirmankan bahwa Ibrahim ع menyatakan tunduk dan patuh kepada Nya. Penafsiran kedua, Islam dimaknakan dengan patuh kepada Allah س; misalnya dalam QS Al Insyiqaq (54):1-5, difirmankan bahwa langit dan bumi patuh kepada Nya. Penafsiran ketiga, Islam berarti berserah diri kepada Allah س; misalnya dalam QS Ali Imran (2):64, difirmankan bahwa Ibrahim ع menyatakan sebagai orang yang berserah diri”.

Setelah berhenti sejenak, lalu dikatakan, “Dengan begitu, sejak Allah س menciptakan malaikat dan jin, semesta alam beserta isi dan kehidupan didalamnya dan diciptakannya manusia, Dia telah menyiapkan perangkat pedomannya, yaitu Islam”; usai berkata begitu, Banas menutup tausiah dengan mengatakan, “Dari tausiah ini telah dibahas, Allah س adalah Pencipta semesta alam beserta isinya dan memberikan pedoman berkehidupan berupa Ad Din kemudian diindonesiakan menjadi agama. Satu-satunya agama disisi Nya adalah Islam; secara totalitas, makna Islam adalah berserah diri; di dalam pengertian berserah, terdapat karakter tunduk dan patuh kepada Allah س. Dengan demikian, jika umat tidak memeluk Islam sebagai agamanya, sesungguhnya mereka tidak tunduk, tidak patuh dan tidak berserah kepada Allah س. Dapat juga dikatakan, umat seperti ini bersembah kepada Thoghut dan Jibt”. Setelah penutupan tausiah ini, para taklim bersegera pulang; haripun cerah tanpa dihias rintikan hujan.

Advertisements
Posted in: Hikmat