012. ASMAUL KHUSNA

Posted on January 18, 2014

0


Walau Satu Ayat ep. 012. Allah س , Tuhan Yang Maha Esa, harus diyakini sebagai satu-satunya Tuhan; Dia berfirman dalam Kitab Al Quran, Dia memiliki sifat-sifat yang disebut Asmaul Khusna. Sembilan puluh enam sifat Nya terdapat dalam nash Al Quran dan tiga lainnya diriwayatkan dalam Al Hadis. Dia bersifat “Maha” untuk menunjukkan “satu-satunya sifat” yang tidak dimiliki mahluk Nya.

Sebulan sebelum datangnya Bulan Ramadhan, memang banyak keluarga yang menyelenggarakan hajatan; ya kawinan, ya khitanan atau yang lainnya. Karena itu, sebelum Banas memulai tausiah, ada yang berbisik, mohon sedikit dipersingkat waktunya, karena harus bersiap untuk mendatangi hajatan, sebagaimana sunah Rasulullah ص. Banas mengangguk, karena juga ada beberapa undangan yang akan dihadirinya; seusai membuka tausiah, ada taklim yang bertanya, “Pak Ustadz, dalam beberapa tausiah, dikatakan, Allah س memiliki sifat-sifat yang tidak dimiliki mahluk Nya. Apa maksudnya?”

Banas mengemukakan, “Memang betul, Allah س memiliki sifat-sifat khas yang tidak dapat dibayangkan umat Nya; dan sifat-sifat itu tidak dimiliki mahluk Nya; antara lain difirmankan dalam QS Al Isra’ (17):110,

قُلِ ادْعُواْ اللّهَ أَوِ ادْعُواْ الرَّحْمَـنَ أَيّاً مَّا تَدْعُواْ فَلَهُ الأَسْمَاء الْحُسْنَى وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً ﴿١١٠

Arti sebagian ayat ini, Katakanlah, “Serulah Allah atau serulah Ar Rakhman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaul khusna (nama-nama yang terbaik) …dst“. Dalam ayat ini ditegaskan, sesungguhnya Allah س adalah satu-satunya Dzat yang memiliki Nama-nama Terbaik; dalam keseharian, kita menyebut Asmaul Khusna sebagaimana dilafadzkan pada ayat tadi. Salah satu nama Nya disebut dalam ayat ini, adalah Ar Rakhman, artinya Yang Maha Penyayang; kemudian dalam HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah عهم; mengisahkan, Rasulullah ص bersabda, “Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Siapa saja yang menghafal nama-nama itu, tentulah masuk surga. Dia adalah tunggal (Esa), senang kepada yang tunggal/ganjil”. Dalam Hadis ini, Rasulullah ص memberikan penekanan, agar umat meneguhkan keberimanan, bahwa Allah س adalah Dzat Yang Maha Esa. Secara khusus, sifat Yang Maha Esa terdapat dalam QS Al Ikhlas (112):1-4, difirmankan,

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ ﴿٤

Secara keseluruhan, arti surah ini, Katakanlah, “Dia lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia”. Ayat ini diwahyukan, ketika Rasulullah ص ketika beliau ditanya kaum kafir Mekah, mengenai siapa tuhan beliau. Rasulullah ص sangat menekankan sifat Maha Esa, karena pada masa kenabiannya dan ternyata sampai kini, banyak umat yang mempertuhankan selain Allah س dan memposisikan keyakinannya, Allah س memiliki anak dan tuhannya adalah anak Allah س. Bahkan ada sekelompok umat muslim yang mengembangkan pemahaman, panutan hidupnya adalah anak Allah س”.

Setelah berhenti sejenak, lalu dikatakan, “Melalui tausiah ini, marilah meneguhkan keberimanan, sesung-guhnya Allah س adalah Maha Esa, Allah س tidak mempunyai anak dan tiada tandingan bagi Allah س”. Kemudian Banas mohon maaf dan untuk keperluan bersama, karena banyaknya undangan hajatan, untuk mempersingkat tausiah. Sebelum berpisah, Banas mengemukakan, dalam naskah tausiah yang dibagikan, terdapat daftar Asmaul Khusna, untuk dipahami dan diamalkan sesuai Hadis yang sudah disampaikan; mendengar penjelasan ini, para taklim merasa lega, meski tausiah lebih singkat tetapi tidak perlu repot mengumpulkan nama-nama Asmaul Khusna.

الْأَسْمَاء الْحُسْنَى

01. أَلاحَدٌ (Maha Esa); (02) الرَّحْمـن (Maha Penyayang); 03. الَّحِيمِ (Maha Pengasih); 04. الْقُدُّوسِ (Maha Suci); 05. السَّلَامُ (Maha Sejahtera); 06. الْمُؤْمِنُ (Maha Terpercaya); 07. الْمُهَيْمِنُ (Maha Memelihara); 08. الْعَزِيزُ (Maha Perkasa); 09. الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (Maha Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan); 10. الْمُتَكَبِّرُ (Maha Memiliki Kebesaran); 11. الْمَانعُ (Maha Mencegah Hadis); 12. الخِافِضُ (Maha MerendahkanHadis); 13. الغَفُورٌ (Maha Pengampun); 14. الْقَهَّارُ (Maha Perkasa); 15. الْخَالْقُ (Maha Pencipta); 16. الْحَكِيمُ (Maha Bijaksana); 17. العَلِيمٌ (Maha Mengetahui); 18. القْابِضُ (Maha Mengendali); 19. البْاسطُ (Maha Melapangkan); 20. الرَّزَّاقُ (Maha Pemberi Rizki); 21. الرَّافَعُ (Maha Meninggikan); 22. المُعِزُّ (Maha Terhormat); 23. المُذلُّ (Maha Menghinakan): 24. السَّمِيعُ (Maha Mendengar); 25. البَصِيرٌ (Maha Melihat); 26. الْمَتِينُ (Maha Kokoh); 27. الْعَدْلاً (Maha Adil); 28. اللَّطِيفُ (Maha Lembut); 29. الْخَبِيرُ (Maha Mengetahui); 30. الحَلِيمٌ (Maha Penyantun); 31. الْعَظِيمُ (Maha Agung); 32. العَلِيّاً (Maha Tinggi); 33. القاَدِيرٌ (Maha Menentukan); 34. الحَفِيظٌ (Maha Penjaga); 35. المُقِيت (Maha Pemelihara); 36. الْجَليلِ (Maha Luhur); 37. الْكَرِيمٌ (Maha Mulia); 38. الرَّقِيب (Maha Mengawasi); 39. الوَاسِعٌ (Maha Luas); 40. المُجِيبٌ (Maha Mengabulkan); 41. الْوَدُودُ (Maha Mengasihi); 42. مَالِكَ الْمُلْكِ (Maha Memiliki Kerajaan); 43. الشَكُورٌ (Maha Penerima Syukur); 44. الحَسِيب (Maha Membuat Perhitungan); 45. الحَكَمَ (Maha Memutuskan Hukum); 46. البَاعثَ (Maha Membangkitkan); 47. الشَهِيدٌ (Maha Menyaksikan); 48. الْحَقُّ (Maha Benar); 49. الوَكِيلٌ (Maha Pemelihara); 50. القَوِيٌّ (Maha Kuat); 51. الْوَهَّابُ (Maha Pemberi); 52. الوَلِيّاً (Maha Melindungi); 53. الحَمِيد (Maha Terpuji); 54. أَلمحْص (Maha Menghitung); 55. الْمُبْدِئُ (Maha Memulai); 56. الْمعِيدُ (Maha Mengembalikan); 57. لَمُحْيِي ا (Maha Menghidupkan); 58. الُممِيتُ (Maha Mematikan); 59. الْحَيِّ (Maha Hidup); 60. الْقَيُّومُ (Maha Mandiri); 61. الْؤاجِدْ (Maha Menemukan); 62. الْمَلِكُ (Maha Merajai); 63. الْؤاجِدْ (Maha Tunggal); 64. الْكَبِيرُ (Maha Besar); 65. المُّقْتَدِرٍ (Maha Berkuasa); 66. الْمُقَدَّمْ (Maha Mendahulukan); 67. المؤَخِّرُ (Maha Mengakhirkan); 68. الْأَوَّلُ (Maha Awal); 69. الْآخِرُ (Maha Akhir); 70. الظَّاهِرُ (Maha Nyata); 71. الْبَاطِنُ (Maha Ghaib); 72. الوَالٍى (Maha Memerintah); 73. الْمُتَعَالِي (Maha Tinggi); 74. الْبَرُّ (Maha Dermawan); 75. التَوَّاب (Maha Penerima Taubat); 76. الْبَارِئُ (Maha Mengadakan dari Tiada); 77. الْوَهَّابُ (Maha Pemberi Karunia); 78. الْفَتَّاحُ (Maha Membuka Hati); 79. المُنتَقِمُ (Maha Penyiksa); 80. العَفُوّاً (Maha Pemaaf); 81. الرَؤُوفٌ (Maha Mengasihani); 82. الْمَجِيدُ (Maha Mulia); 83. الْجَبَّارُ (Maha Berkehendak); 84. الْمقِّسطِ (Maha Adil); 85. الْجْامعُ (Maha Pengumpul); 86. الغَنِيٌّ (Maha Kaya); 87. الْامُغْنَى (Maha Mencukupi); 88. الْمُصَوِّرُ (Maha Membuat Bentuk); 89. الضُرّ (Maha Pemberi Derita); 90. النَافْعً (Maha Pemberi Manfaat); 91. النُورُ (Maha Bercahaya); 92. الَهَادِى (Maha Pemberi Petunjuk); 93. البَدِيعُ (Maha Pencipta); 94. البْاقُى (Maha Kekal); 95. الْوَارِثُ (Maha Mewarisi); 96. الْرَشِيَد (Maha Pandai); 97. الصَبُوِّر (Maha SabarHadis); 98. الصَّمَدُ (Maha Dibutuhkan); dan 99. الحَكَمَ (Maha Memutuskan Hukum).

Advertisements
Posted in: Ketauhidan