011. Allah س adalah Dekat

Posted on December 18, 2013

0


Sampaikan Walau Satu Ayat; Ep. 011. Allah س adalah Dekat.
Firman Allah س dalam Kitab Al Quran, sebagian diantaranya menunjukkan nuansa kedekatan jarak dengan makhluk Nya. Antara lain ditandai dengan penggunaan lafadz Engkau, Dia, Nya. Penulisannya dalam Bahasa Indonesia selalu menggunakan huruf awal kapital (huruf besar), baik pada awal kalimat maupun di tengah atau pada akhir kalimat.

Banas bersegera membuka tausiah, begitu diisyarati Takmir Masjid; kemudian terdengar suara lirih para taklim menjawab salam yang disampaikan Banas. Lalu dikatakan, “Kalau dalam tausiah yang lalu telah dibahas, sesungguhnya Allah س tidak memiliki sifat sombong. Bahkan dalam banyak firman, Allah س menunjukkan kedekatan jarak dengan semua makhluk Nya. Kedekatan ini sekaligus mencerminkan sifat Yang Maha Pengasih, sebagaimana terdapat dalam lafadz basmalah. Sebagai titik tolak awal untuk mengetahui kedekatan ini, marilah mencermati firman Nya,

Dan apabila hamba-hamba Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. ~ QS Al Baqarah (2):186 ~

Ayat ini berisi pembelajaran kepada Nabi Muhammad Rasulullah ص, sesungguhnya Allah س adalah dekat; kedekatan ini dapat ditandai dari lafadz bahwa Aku adalah dekat; dan karena itu, Allah س menegaskan, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada Ku. Lafadz ini dapat menjadi tolok ukur, sekalipun Allah س adalah Dzat yang tak tembus oleh pandangan makhluk, tetapi begitu dekatnya Allah س dengan makhluk, sehingga mengabulkan permohonan mereka yang berdoa kepada Allah س. Sedangkan tuntunan Rasulullah ص antara lain dapat disimak dari HR Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Marduwaih, Abussyaikh dan lain-lainnya dari beberapa jalan, dari Jarir bin Abdul Hamid, dari Abdah As Sajastani, dari As Shalt bin Hakim bin Mu`awiyah bin Jaidah, dari bapaknya yang bersumber dari datuknya عنهُم; mengisahkan, Ayat dalam QS Al Baqarah (2):186 ini turun, ketika Nabi ص kedatangan seorang Arab Badui, lalu bertanya, “Apakah Tuhan kita itu dekat, sehingga kami dapat memohon kepada Nya, atau jauh, sehingga kami harus berseru kepada Nya?” Nabi ص terdiam, lalu turunlah ayat ini”.

Lalu diteruskan, “Ada beberapa lafadz yang digunakan dalam Al Quran untuk menunjukkan kedekatan jarak, misalnya terdapat dalam QS Al Fatikhah (1):6-7, Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. Melalui ayat ini, Allah س mengajarkan kepada Rasulullah ص, yang dalam firman Nya menggunakan jati diri Engkau; ini bermakna, Allah س telah berkenan menurunkan ordinatnya dari Yang Maha Tinggi menjadi berada pada ordinat umat, dengan menggunakan sebutan Engkau. Dalam keseharian kita, tidak mungkin menyebut posisi lawan bicara menggunakan kata engkau, bila tidak berada pada ordinat yang sama; tetapi patut diingat, penulisan terjemahan Engkau sebagai sebutan Allah س harus diawali dengan huruf kapital”. Kemudian Banas mengemukakan, “Nuansa kedekatan juga dapat disimak dalam firman Nya,

Dia lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rejeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. ~ QS Al Baqarah (2):22 ~

Melalui ayat ini, Allah س mengajarkan kepada Rasulullah ص, agar mendakwahkan, sesungguhnya Allah س yang berfirman menggunakan sebutan Dia, merupakan perwujudan kedekatan dengan umat. Munculnya sebutan Dia, bukan berasal dari Rasulullah ص melainkan Allah س memfirmankan ayat-ayat Nya, dan kita menduga hal itu sekaligus sebagai pertanda kedekatan jarak. Kedekatan Nya dengan para makhluk, juga dapat dicermati dari firman Nya,

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. ~ QS Qaf (50):16-17 ~

Dalam ayat ini, Allah س menegaskan, sesungguhnya Dia sangat dekat dengan manusia. Bahkan dilukiskan melalui ayat ini, Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya; disini terdapat kata ganti Kami sebagai pertanda, keberadaan Nya adalah dengan mengutus malaikat Nya.

Ketika Banas berhenti bicara, ada taklim yang bertanya, “Pak Ustadz; dalam Bahasa Indonesia, sebutan dia adalah untuk kata ganti orang ketiga; dapat juga menggunakan kata ganti nya. Pertanyaan saya, apakah dalam contoh firman itu menunjukkan Allah س sebagai pihak ketiga?” Menjawab pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Betul sekali, dalam Bahasa Indonesia, kata dia dan nya adalah sebagai kata ganti ketiga; dan melalui taklim ini dapat diperoleh pembulatan paham, penterjemahan Bahasa Al Quran menjadi Bahasa Indonesia adalah sebagai langkah etika bahasa untuk menunjukkan kedekatan. Penggunaan lafadz Dia dan Nya yang diterjemahkan dari Bahasa Al Quran menunjukkan kesediaan Allah س untuk menurunkan ordinat Nya sehingga berada dekat dengan umat Nya; jadi sama sekali bukan dimaksudkan sebagai pihak ketiga. Juga telah kita sepahamkan, sesungguhnya melalui malaikat utusan Nya, Allah س sangat dekat dengan qolbu manusia; bahkan lebih dekat jika dibandingkan antara qolbu dengan urat lehernya sendiri”. Setelah selesai berkata begitu, Banas menutup tausiah disertai doa, semoga Allah س selalu menambahkan semangat bertaklim.

Advertisements
Posted in: Ketauhidan