010. Allah س adalah Tuhan Maha Esa

Posted on November 18, 2013

0


Sampaikan Walau Satu Ayat; Ep. 010. Allah س adalah Tuhan Maha Esa
Ketauhidan dalam Agama Islam tidak harus berhenti pada pemahaman secara dogma sebagaimana makna dari lafadz Syahadat Tauhid, melainkan manusia dapat menggunakan akal pikirannya guna memahami tanda-tanda keesaan Nya.
Marilah mengkaji sifat Nya, Allah س adalah Dzat Yang Maha Esa.

Mentari memancar keras mengiring langkah para taklim menuju masjid; anak-anakpun berlarian di halaman masjid menikmati liburan sekolah; seusai para taklim duduk melingkar setelah menunaikan Shalat Dhuha berjamaah, Banas menyusul duduk di deretan depan, menghadap lingkaran; lalu bersegera membuka tausiah. Ketika diucapkannya salam pembuka; hampir serentak terdengar lirih ucapan balasan salam dari para taklim.

Belum lagi Banas melanjutkan tausiahnya, nampak seorang taklim ingin bertanya; setelah disilahkan, katanya, “Pak Ustadz, mohon maaf, bagaimana kita meyakini, bahwa Allah س adalah Maha Esa?”; tak lama kemudian Banas mulai bicara. “Untuk menjawab pertanyaan itu, marilah kita meneguhkan keberimanan dengan mematerikan makna dari QS Al Ikhlas (112):1, قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ; Katakanlah: “Dia adalah Allah, Yang Maha Esa”. Ayat ini harus dijadikan sebagai bekal yang sangat mendasar bagi kita, ketika merajut benang-benang keberimanan. Selain ayat ini, masih sangat banyak firman Nya dalam Al Quran yang menegaskan bahwa sesungguhnya Allah, adalah Tuhan Yang Maha Esa”.

Kemudian dikatakan, “Bila sudah mematerikan keesaan Nya, bolehlah kita melepaskan diri dari makna firman-firman Nya yang mengandung dogma keesaan Nya. Kita dapat mengasah akal pikiran guna menemukan tanda-tanda Kekuasaan Nya, untuk membuat simpul keesaan Nya. Antara lain dapat ditemukan dalam kisah dan proses penciptaan manusia pertama, Adam ع. Dari kisah penciptaannya, setidaknya ada tiga peristiwa yang dapat dijadikan rujukan pembuktian keesaan Nya.

Peristiwa Pertama
Ketika Allah س berkehendak untuk menciptakan khalifah.

Antara lain dapat ditelusuri dari QS Al Baqarah (2):30; pada awal ayat ini difirmankan, Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Dalam bagian ayat ini, ditegaskan kehendak Nya untuk mencipta khalifah; atas rencana ini, lalu dikisahkan, Mereka (malaikat) berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Dari bagian ayat ini tersirat makna, malaikat keberatan atas rencana penciptaan itu, dengan dalih, nantinya manusia berbuat kerusakan di bumi. Mereka memiliki nilai lebih, yaitu selalu bertahmid dan bertasbih. Lanjutan ayat ini, Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Secara keseluruhan, dalam ayat ini terdapat kisah, malaikat yang selalu bertahmid dan bertasbih di sisi Nya, menyatakan keberatan jika Allah س menciptakan manusia sebagai khalifah. Malaikat berpendapat, dalam kehidupan di dunia nantinya, manusia akan saling berbunuhan dan berbuat kerusakan seperti pernah dilakukan para jin ketika menghuni bumi. Akan tetapi, meskipun ditentang, Allah س tetap meneruskan kehendak Nya.

Setelah makhluk Nya dicipta dan diberikan nama Adam, lalu Dia memerintahkan kepada penghuni surga, sebagaimana difirmankan dalam QS Al Baqarah (2):34. Ayat ini mengisahkan, Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Pada bagian ayat ini, dikisahkan, malaikat mengikuti perintah Nya untuk bersujud, dan iblis membantah. Lalu difirmankan, ia (iblis) enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan yang kafir.

Kaitan antara ayat 30 dengan 34 ini, dapat dikatakan begini, semula malaikat menentang rencana penciptaan Adam ع, tetapi Allah س tetap menciptakannya. Setelah tercipta, malaikat diperintah untuk bersujud kepada Adam ع; dan mereka mentaati perintah itu. Melalui firman ini, Allah س menuntun Bani Adam di bumi, untuk mengasah pikiran, guna memahami makna yang tersirat dari pengisahan ini.

Marilah menerapkan cara berfikir begini; jika masih ada Tuhan selain Allah س, dipastikan malaikat akan berpindah Tuhan. Artinya, dari pada harus bersujud kepada Adam ع yang sejak awal ditentang penciptaannya, lebih baik berpindah Tuhan. Tetapi malaikat tidak dapat menemukan Tuhan selain Dia, sehingga malaikat tetap tunduk kepada perintah Nya. Kisah ini menjadi petunjuk mutlak, Tuhan adalah Allah س, Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, tiada Tuhan selain Dia.

Peristiwa Kedua
Ketika iblis secara sadar dan sombong menolak bersujud kepada Adam ع. Lalu Allah س menyebut iblis sebagai makhluk yang enggan, takabur, pembangkang dan kafir, yang difirmankan dalam QS Al Baqarah (2):34 tadi.

Kelanjutan kisah ini, antara lain difirmankan dalam QS Shad (38):77-78. Dalam ayat ini difirmankan, Allah berfirman, “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah yang terkutuk, sesungguhnya kutukan Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan”. Melalui ayat ini ditegaskan, karena pembangkangannya, iblis dan kaumnya diusir dari surga; dan dikutuk sampai Hari Hisab. Kemudian dalam ayat lain difirmankan, Neraka Jahanam menjadi tempat mereka kembali dan kekal didalamnya. Juga ditegaskan, selain dikutuk, juga dilaknat dan dimasukkan ke Neraka Jahanan sebagai ancaman, yang menyiratkan suatu siksaan yang tiada terbayangkan deritanya.

Dari pengungkapan peristiwa ini, dapat dihimpun pembelajaran untuk memahami makna yang tersirat didalamnya. Maksudnya, jika iblis dan kaumnya dapat menemukan Tuhan selain Allah س, pasti mereka akan bertuhan kepada Tuhan yang lain, agar dapat tetap tinggal di surga. Ternyata iblis dan kaumnya tidak dapat menemukan Tuhan selain Dia. Kisah dalam ayat ini menjadi petunjuk mutlak, Tuhan adalah Allah س, Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, tiada Tuhan selain Dia.

Peristiwa Ketiga
Setelah iblis menerima laknat Allah س dengan kompensasi diijinkan mengajak manusia ke jalannya, maka mulailah menjadikan Adam ع dan isterinya sebagai sasaran pertama.

Dalam berbagai kesempatan, iblis mengajak keduanya untuk memperoleh kenikmatan abadi, bila bersedia makan buah khuldi. Tipu daya dan bujuk rayu iblis yang berlangsung lama ini, berhasil menggelincirkan Adam ع dan isterinya. Sehingga keduanya melakukan kesalahan yaitu makan buah khuldi. Atas kesalahan yang diperbuat ini, Allah س menghukum keduanya, sebagaimana difirmankan dalam QS Al Baqarah (2):36. Ayat ini berisi firman Nya, Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula; pada bagian awal ayat ini dikisahkan, beliau termakan tipu daya iblis, sehingga mengikuti ajakannya. Akibat pertama yang diterima adalah beliau dikeluarkan dari keadaan semula; artinya, semula mendapat kenikmatan surgawi, kemudian kenikmatan itu dicabut.

Kelanjutan firman Nya, dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”. Pada bagian ayat ini, beliau dan isterinya diberi hukuman tambahan, yaitu diperintahkan untuk turun ke bumi berteman dengan iblis yang menjadi musuh.

Secara keseluruhan, melalui ayat ini dikisahkan, Adam ع dan isterinya terkena tipu daya iblis. Keduanya melakukan kesalahan bukan dengan kesadaran penuh, tetapi karena mengikuti bujukan iblis. Atas kesalahannya ini, nikmat kehidupan surga dicabut dan keduanya diusir ke bumi. Ditambah lagi, telah ditetapkan, ketika kelak menjalani kehidupan di dunia, dari kalangan Bani Adam akan terjadi permusuhan. Selain itu, antara Bani Adam dengan iblis juga bermusuhan, karena iblis mendapat ijin Nya untuk mengajak manusia pada kekafiran.

Peristiwa ini dapat menuntun akal pikiran manusia, dan memaksimalkan nalar dengan cara manusia. Maksudnya, seandainya ada Tuhan selain Allah س, pasti Adam ع dan isterinya mencari Tuhan yang lain. Alasannya, dari pada diusir dari kehidupan di surga dan dipermusuhkan dengan iblis, lebih baik berpindah Tuhan, agar dapat tetap menghuni surga. Tetapi Adam ع dan isterinya tidak dapat menemukan Tuhan selain Dia. Karena itu, Adam ع dan isterinya tetap tunduk kepada Nya, yaitu mengikuti perintah Nya untuk turun ke bumi bersama iblis yang kelak menjadi musuhnya. Kisah ini menjadi petunjuk mutlak, bahwa Tuhan adalah Allah س, Tuhan Yang Maha Esa, tiada tandingan bagi Nya”.

Kemudian Banas mengemukakan, “Dalam taklim kali ini, kita sudah meneguhkan keberimanan, sesungguhnya Allah س adalah Dzat Yang Maha Esa. Salah satu buktinya, ketika para malaikat semula menolak penciptaan khalifah, tetapi akhirnya tunduk dan patuh kepada Allah س karena tiada tempat yang lain untuk bersembah. Begitu juga ketika iblis dilaknat dan diusir dari surga, mereka mematuhinya walau nantinya dijerembabkan ke neraka jahanam; kemudian, Adam ع dan isterinya tunduk dan patuh pada perintah Nya, ketika diturunkan dari surga. Tiga peristiwa yang mengiringi kisah penciptaan manusia pertama, Adam ع, dapat digunakan sebagai pembuktian, sesungguhnya Allah س adalah Dzat Yang Maha Esa”; usai berkata begitu, Banas bergegas menutup tausiah. Para taklim bersegera pulang dengan mengusung dada yang dipenuhi perluasan pemahaman dan wawasan; mereka menembus pancaran matahari yang makin meninggi.

Advertisements
Posted in: Ketauhidan