009. Allah س, Tuhan para tuhan

Posted on October 18, 2013

0


Sampaikan Walau Satu Ayat; Ep. 009. Allah س, Tuhan para tuhan.
Sejarah mencatat, penuhanan selain kepada Allah س selalu dikaitkan dengan kekuatan alam yang melingkupi kehidupannya. Akhir dari pencarian tuhannya, mereka memvisualkan menjadi wujud nyata, seperti berhala, patung, dsb.
Padahal Allah س adalah Pencipta dari semua yang dipertuhankan,
maka sesungguhnya Dia adalah satu-satunya Tuhan dan Tuhan para tuhan.

Semangat para taklim untuk mengikuti tausiah makin menggelora; merekapun rela menangguhkan urusan di rumah, agar dapat meraih pencerahan Agama Islam. Ketika rehat usai menunaikan Shalat Dhuha berjamaah sudah dirasa cukup, Banas segera membuka tausiah, lalu mengatakan, “Dalam Surah Al Anbiya` terdapat firman Allah س yang mengisahkan perjuangan pemuda Ibrahim sesudah memperoleh hidayah Nya. Pemuda Ibrahim membuktikan ketidak berdayaan patung yang ditempatkan di sekitar bangunan Ka`bah; beliau menghancurkan semua patung dan meninggalkan satu patung terbesar; difirmankan,

Mereka bertanya, “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?” Ibrahim menjawab, “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”. ~ QS Al Anbiya` (21):62-63 ~

Dalam ayat ini terdapat lafadz tuhan yang penulisannya diawali dengan huruf kecil, artinya tuhan selain Allah س. Ayat ini menyiratkan teknik beliau dalam mendakwahkan Islam, yaitu menumbuhkan kesadaran terhadap para penyembah berhala yang dipertuhankan, karena ternyata berhala sama sekali tidak dapat berbicara; lalu dalam ayat lainnya difirmankan,

Ibrahim berkata, “Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?”. ~ QS Al Anbiya` (21):66 ~

Melalui ayat ini, difirmankan perkataan beliau yang berisi pertanyaan kepada kaum penyembah berhala. Sesungguhnya, pertanyaan ini diharapkan dapat semakin menumbuhkan kesadaran, karena berhala itu tidak memberikan manfaat atau mudharat apapun. Atas kejadian ini, beliau ditangkap lalu dibakar dalam keadaan hidup; tetapi, Allah س menyelamatkan beliau.

Ketika Banas berhenti bicara, ada taklim yang ingin bertanya; setelah disilahkan, ditanyakan, “Pak Ustadz; kalau menganggap api sebagai tuhan, mungkin agak aneh, karena kita dapat memadamkan api. Tetapi bagaimana kalau mempertuhankan ratu ini ratu itu; bukankah itu sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi seringkali mampu memberikan kekuatan yang melindungi dan memberikan rejeki?”

Dengan hati-hati Banas mengemukakan,. “Ya, ada sekelompok orang yang memuja-muja kekuatan ghaib itu karena menganggap sebagai pelindung dan pemberi rejeki. Kita ambil contoh yang paling marak, menempatkan tuyul sebagai pemberi rejeki; ini bermakna mempertuhankan tuyul. Tetapi dipastikan, orang yang mempertuhankan tuyul selalu diiring dengan sesuatu perjanjian; misalnya, setiap tahun satu anaknya mati; atau setiap tanggal 10 Syura atau Muharam harus mengorbankan sapi ptuih”; dari taklim terdengar bisik-bisik lirih, si A cepat kaya dan setiap Muharam bersedekah seekor sapi jantan warna putih; lalu si B, kenapa anaknya mati setiap tahunnya. Bisik-bisik itu terhenti, ketika Banas mulai bicara, “Penuhanan tuyul atau sekutunya, sesungguhnya bukan mempertuhankan; melainkan mengabdi kepada tuyul alias iblis. Bila penuhanan itu, berakibat adanya tumbal, alangkah ruginya mereka; padahal mempertuhankan Allah س dipastikan memperoleh rejeki yang bermanfaat di dunia dan akhirat, tanpa ada tumbal”.

Kemudian dikatakan, “Yang namanya berhala atau patung, dibuat dari batu, dari kayu, dsb; semuanya itu ciptaan Allah س. Jika mempertuhankan api, maka api adalah ciptaan Allah س; bila mempertuhankan tuyul, sekalipun khusus untuk menambah rejeki, maka tuyul adalah setan dan setan adalah makhluk Allah س. Katakanlah, batu dan api yang dipertuhankan, tidak dapat berbicara; tetapi tuyul dapat diajak berkomunikasi melalui ahlinya; ya kalau ahlinya tidak berbohong, tuyulnya bilang ini bilang itu, padahal sekedar karangan si ahli itu. Sehingga pertanyaannya, bagaimana mungkin tuhan yang memiliki sifat memberikan segala permintaan itu, khususnya rejeki, harus ditambal dengan tumbal?”

Tanpa menunggu jawaban, Banas meneruskan, “Allah س adalah Tuhan Yang Maha Pemberi Rejeki dan memiliki sifat Maha Kaya. Sebagian kecil kekayaan Nya tidak habis walaupun dibagi rata untuk seluruh umat sejak Nabi Nabi Adam ع. Sampai akhir jaman nanti, semua makhluk dapat menikmati udara untuk bernapas, menikmati sinar matahari dan menikmati karunia lainnya. Allah س memberikan karunia nikmat, tanpa meminta balasan apapun, tanpa tumbal sedikitpun”; terlihat para taklim mengangguk-angguk. Kemudian diteruskan, “Bahkan ada diantara umat yang menjadikan manusia sebagai tuhannya; misalnya difirmankan,

Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata, “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Mereka dilaknati Allah; bagaimana mereka sampai berpaling?
~ QS At Taubah (9):30-31 ~

Dalam ayat ini terdapat nama Uzair; beliau hidup pada masa kenabian Nabi Sulaiman ع. Ketika itu, Allah س menghancurkan suatu negeri dan mematikan seluruh penduduknya, sebagaimana dikisahkan dalam QS Al Baqarah (2):259. Melalui ayat ini dikisahkan, setelah seratus tahun berlalu, seseorang bernama Uzair ternyata bangkit dari kematiannya, lalu dipertuhankan oleh Kaum Yahudi; padahal Allah س memfirmankan perkataan Uzair “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”; sehingga ia dibangkitkan dari kematian. Sampai masa kini, Uzair dipertuhankan, padahal Uzair bertuhan kepada Allah س. Selain itu, ayat ini juga menyebut nama Al Masih, yaitu Nabi Isa ع; bagaimana perkataan beliau, dapat disimak dalam firman Nya,

Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. ~ QS Ali Imran (3):51 ~

Dalam ayat ini difirmankan perkataan Nabi Isa ع kepada Bani Israil, ketika mereka mempertuhankan dirinya. Penuhanan Uzair oleh Kaum Yahudi dan penuhanan Nabi Isa ع oleh Bani Israil, merupakan penuhanan kepada makhluk Nya”.

Setelah berhenti sejenak, lalu diteruskan, “Melalui tausiah ini, sudah kita semaikan pemahaman, banyak kaum yang mempertuhankan makhluk Allah س; ya batu, ya api, ya ratu ini ratu itu, dewa ini dewa itu yang semuanya adalah setan; juga menjadikan manusia sebagai tuhannya. Padahal semua yang dipertuhankan itu adalah ciptaan Nya. Dengan demikian, sesungguhnya Allah س adalah Tuhan dari para tuhan atau semua yang dipertuhankan”. Sesudah berkata begitu, Banas menutup tausiah; terlihat wajah taklim yang dipenuhi kepuasan memperoleh tambahan pemahaman ini; bahkan ada diantaranya terperangah atas penuhanan-penuhanan selain kepada Allah س.

Advertisements
Posted in: Ketauhidan