008. Kami adalah Allah س

Posted on September 18, 2013

0


Sampaikan Walau Satu Ayat; Ep. 008. Kami adalah Allah س.
Allah س banyak berfirman kepada Nabi Muhammad Rasulullah ص dalam Kitab Al Quran, menyatakan jati diri dengan sebutan Kami. Dalam Bahasa Indonesia, penulisannya selalu diawali huruf kapital (besar), baik pada awal, di tengah atau pada akhir kalimat.
Mungkin banyak kaum muslim yang membaca begitu saja, tanpa memahami makna,
kenapa Allah س menggunakan sebutan jati diri dengan lafadz Kami.

Cerahnya sinar matahari pagi yang memancar dari timur sisi utara, ikut menjadi penyemangat langkah para taklim agar cepat sampai di masjid. Ketika sudah rehat secukupnya seusai Shalat Dhuha berjamaah, Banas segera membuka tausiah. Begeitu selesai mengucap salam pembuka, seorang taklim mengacungkan tangannya; setelah diiyakan, katanya, “Pak Ustadz, secara kebetulan kemarin saya menerima undangan kawinan; disitu disebutkan, Kami mengharap kedatangan Bapak/Ibu/Sdr, dan seterusnya. Lalu saya mencoba mengingat kembali, sepertinya saya pernah membaca terjemahan Al Quran yang penterjemahannya menggunakan lafadz Kami. Apakah dalam ayat itu, Allah س bermaksud merendahkan diri seperti dalam undangan tadi?”

Sekedar untuk mengecek ucapan taklim itu, Banas menanyakan pada ayat mana, terdapat lafadz Kami; taklim itu menjawab, “Ya namanya juga baru mulai belajar; terjemahan lafadz Kami terdapat pada awal Surah Al Baqarah”. Setelah berhenti beberapa saat, Banas mengemukakan, “Ya, dalam QS Al Baqarah (2):3 terdapat lafadz Kami. Terjemahan ayatnya, mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami anugrahkan kepada mereka”. Melalui ayat 3 ini, Allah س menegaskan kategori orang yang bertakwa, antara lain mereka yang menafkahkan sebagian rejeki yang Kami anugrahkan kepada mereka. Contoh lainnya dapat dicermati dari surah pendek yang sering dibaca, yaitu QS Al Kautsar (108):1,اِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ; artinya, Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak”.

Lalu diteruskan, “Dalam Kitab Terjemahan Al Quran, jika menemukan pemaknaan Kami yang selalu ditulis menggunakan huruf kapital, merupakan pelafadzan jati diri Allah س. Dalam pelafadzan itu, bukan berarti Allah س merendahkan diri dihadapan makhluk Nya, melainkan terkandung makna, bahwa :

(1) Segala sesuatu yang difirmankan itu merupakan ketetapan yang menyertakan obyek firman Nya; dan
(2) Allah س berfirman atau memberikan sesuatu kepada obyeknya melalui malaikat utusan Nya.

Dengan menggunakan dua pemikiran ini, maka dari contoh QS Al Baqarah (2):3 dan QS Al Kautsar (108):1, dapat ditelaah lebih lanjut makna lafadz Kami, yaitu :

Dalam QS Al Baqarah (2):3, antara lain difirmankan, sebagian rejeki yang Kami anugrahkan kepada mereka”.

Diurai menjadi sbb: yang difirmankan adalah pemberian rejeki; obyeknya atau yang diberi rejeki adalah mereka, sebagai kata ganti semua makhluk, ya manusia, binatang, hewan, dsb. Allah س mengutus Malaikat Mikail untuk memberikan rejeki; dan menyertakan peranan obyek dalam pemberian rejeki, yaitu seluruh makhluk Nya. Ini berarti, setiap makhluk harus berusaha untuk dapat meraih rejeki Nya. Manusia harus bekerja untuk meraih rejeki; tumbuhan harus bekerja dengan menjulurkan akar-akarnya untuk meraih rejeki berupa air; semut harus bekerja mencari kesana-kemari untuk mendapat seonggok gula, atau makanan lainnya dan masih banyak obyek lainnya sebagai penerima rejeki Nya. Dapat dipastikan, seorang ustadz tidak mendapat rejeki, meskipun selama duapuluh jam dalam sehari semalam, berdzikir, berwirid dan berdoa memohon curahan rejeki Nya.

Dalam QS Al Kautsar (108):1, difirmankan, Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.

Diurai menjadi sbb: yang difirmankan adalah pemberian nikmat; yang diberi nikmat adalah kamu, sebagai kata ganti umat. Dalam ayat ini, Allah س mengutus Malaikat Mikail untuk memberi nikmat kepada kamu atau seluruh umat. Dalam hal ini, Allah س menyertakan peranan obyek dalam pemberian nikmat. Dengan begitu, setiap manusia dapat meraih nikmat berupa udara jika ia bernapas; dapat memperoleh vitamin D secara gratis, jika mau berjemur di panas matahari pagi; dapat meraih kenikmatan rasa segar jika tidak enggan mandi, atau berada di ruang ber AC, dsb”.

Kemudian Banas mengemukakan, “Melalui contoh-contoh tadi, nyatalah sesungguhnya pelafadzan Kami dalam Al Quran bukan untuk merendahkan diri”; bicara Banas terhenti, ada taklim yang ingin bertanya; setelah diiyakan, lalu ia bertanya, “Pak Ustadz; contoh tadi sangat mudah dipahami. Bagaimana dengan pemaknaan pemberian dari Allah س melalui malaikat Nya?” Atas pertanyaan ini, Banas membuka-buka Kitab Terjemahan Al Quran, lalu dikemukakan, “Ada contoh ayat Al Quran yang dapat menggamblangkan pemaknaan Kami sebagai jati diri Nya, misalnya dalam QS Al Baqarah (2):33, antara lain terdapat firman Nya, Allah berfirman, “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”; dalam bagian awal ayat ini, Allah س berfirman secara langsung kepada Adam ع, karena itu penterjemahannya menjadi Allah berfirman. Selanjutnya pada ayat 34, antara lain difirmankan, Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat; dalam bagian ayat ini, Allah س menyebut jati diri dengan sebutan Kami; maknanya, Allah س berfirman kepada para malaikat melalui perantaraan Malaikat Jibril”; terlihat para taklim mengangguk-angguk, semoga tanda mengerti.

Kemudian diteruskan, “Tetapi ada kalanya, penterjemahan lafadz kami, ditulis dengan awal kata yang menggunakan huruf kecil; misalnya difirmankan,

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau lah Maha Pemberi (karunia)”. ~ QS Ali Imran (3):8 ~

Dalam ayat ini terdapat 4 lafadz kami yang pada awal lafadznya ditulis dengan menggunakan huruf kecil; makna kami disini adalah manusia yang berdoa. Selain itu, kita dapat mencermati firman Nya,

Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik”. ~ QS Al Baqarah (2):58 ~

Melalui ayat ini terdapat 4 lafadz Kami yang ditulis dengan awal huruf kapital; yaitu Kami berfirman …; Kami ampuni …; Kami akan menambah ….; (pemberian Kami). Maksud lafadz Kami dalam bagian ayat ini adalah sebagai kata ganti jati diri Allah س. Selain itu terdapat lafadz kami yang ditulis dengan awal huruf kecil; yaitu Bebaskanlah kami … dst; adalah sebagai kata ganti orang banyak yang berdoa.

Setelah berhenti sejenak, lalu diteruskan, “Melalui tausiah ini, sudah dibahas penggunaan lafadz Kami, yang penulisannya diawali dengan huruf besar sebagai terjemahan dari jatidiri Allah س bukan untuk merendahkan diri; sedangkan penterjemahan lafadz kami yang diawali dengan huruf kecil merupakan kata ganti selain Allah س”. Sesudah berkata begitu, Banas menutup tausiah; terlihat wajah taklim yang dipenuhi keceriaan memperoleh pencerahan ini; meski masih harus mencerna lebih banyak lagi.

Advertisements
Posted in: Ketauhidan