Allah

Posted on July 28, 2013

0


Sampaikan Walau Satu Ayat, ep. 001. Allah س, siapa Dia ?
Nelayan selalu pergi ke laut untuk menangkap ikan menggunakan jaring, pancing atau alat lainnya; petani, menggarap lahan untuk menanam dan menuai hasil bumi. Jika nelayan/petani mendapat hasil memuaskan, sebagian mengatakan, kepuasan itu diperoleh berkat kebaikan laut atau kebaikan bumi.

Aada kalanya, orang yang sedang kebingungan, lalu merenung dibawah pepohonan dan mendapatkan jawaban, lalu ia mengatakan pohon ini, pohon itu, mempunyai kuasa untuk memuaskan kebutuhannya. Berdasar kebaikan laut, bumi atau pepohonan, lalu manusia bertanya pada diri sendiri, siapa yang menjadi penguasa laut, penguasa bumi atau penguasa pohon, yang dapat memberi kepuasan hidup. Mencari penguasa hidup yang dapat memberikan kepuasaan rohani seperti inilah yang mendorong berbagai bangsa di seantero belahan dunia, mencari dan kemudian merasa telah mendapatkan elemen pemuas bathin mereka. Begitu juga Bangsa Arab pada masa sebelum kenabian Rasulullah ص ; masyarakat membuat tokoh yang dianggap berjasa memuaskan hidupnya. Kalau di Mekah dan sekitarnya, mereka menokohkan pemeran dalam cerita klasik mereka, yaitu Usaf dan Nailah; lalu kedua tokoh ini divisualkan dalam bentuk patung atau berhala dan ditempatkan di bukit Marwah dan Shafa sebagai tuhan. Selain contoh ini, masih sangat banyak patung yang dibuat pada masa kenabian Nabi Ibrahim ع; begitu juga yang dipertuhankan dan disembah oleh Fir`aun لَّعْنَةُ اللّهِ sebelum dan pada masa kenabian Nabi Musa ع.

Dalam masyarakat kita, melalui budaya pewayangan dapat dikenal nama-nama Dewa, yang dianggap sebagai penentu hidup. Mereka yang berperan sebagai pemberi rizki dari laut ada yang menyebut Nyai Ini, Nyai Itu atau Ratu Ini Ratu Itu; dan pemberi rizki dari sawah dinamakan Dewi Ini, Dewi Itu. Kekuatan yang bersemayam di pohon-pohon, ada yang dinamakan Mbah Ini, Eyang Itu, atau lainnya. Lalu tokoh-tokoh seperti ini dipuja sebagai penentu hidup manusia dan diberi sesajèn; ada sedekah untuk Ratu, untuk Dewi, sedekah bumi, sedekah ke makam, dan sedekah lainnya. Pemujaan seperti ini, sungguh-sungguh menyimpang dari ajaran Islam. Marilah kita cermati beberapa diantara firman-firman Nya,

Katakanlah; Dia lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia. ~ QS Al Ikhlas (112):1-4

Pada ayat 1 terdapat lafadz Dia lah, Allah Yang Maha Esa, artinya Allah س adalah Satu, tiada duanya dan tiada tandingan bagi Nya. Bagi mereka yang bertuhan selain kepada Allah س atau bahkan mereka yang bertuhan kepada All Allah س h س tetapi masih memuja ratu ini, ratu itu, dewi ini, dewi itu, makam keramat ini, makam keramat itu, lalu melakukan sesajèn sekalipun diiringi dengan bacaan Al Quran, sesungguhnyalah sudah menjadi golongan musyrik yaitu menserikatkan Allah س, atau disebut juga membuat tandingan atau mensejajarkan Dzat Allah س. Dalam Al Quran, terdapat kisah Nabi Yunus ع yang mengingatkan kaumnya, sebagaimana difirmankan,

Katakanlah: “Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman, dan (aku telah diperintah), Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik”. ~ QS Yunus (10):104-105 ~

Pada ayat ini, dengan sangat jelas Nabi Yunus ع diperintah untuk mengingatkan kaumnya agar menyembah Allah س dan tidak membuat tandingan bagi Nya. Didakwahkan juga, sesungguhnya bertuhan kepada Allah س merupakan ketetapan agama yang lurus. Kelak di akhirat, Allah س bertanya kepada kaum musyrik, sebagaimana difirmankan,

Dan (ingatlah), hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya (yaitu Hari Hisab) kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik; “Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dahulu kamu katakan (sekutu-sekutu Kami)?” ~ QS Al An`am (6):22 ~

Ayat ini berisi penagihan dari Allah س kepada mereka yang pada waktu hidup di dunia bertuhan selain kepada Nya. Kaum musyrik ini ditagih, dimana tuhan-tuhan yang dahulu disembah di dunia. Karena itu, berbahagialah manusia yang hidup pada masa kini, karena begitu mudah mencari dan mendapatkan bahan-bahan yang berisi pedoman hidup dalam wadah Agama Islam. Bagi mereka yang menyatakan diri sebagai penganut Agama Islam, bermakna, hidupnya mematuhi perintah Allah س dan tuntunan Rasululaah ص. Kalau menyatakan Islam tetapi memuja dan mempercayai kekuatan Nyai Roro Kidul, Dewi Sri, patung atau pohon, mencari berkah dari makam, dari air jamasan (air bekas mencuci benda pusaka) dan lainnya, lalu menempatkannya sebagai penentu hidup atau beribadah atau memiliki sembahan selain kepada Allah س, maka Islamnya tidak memenuhi ketentuan Allah س sebagaimana difirmankan dalam Kitab Suci dan tidak memenuhi tuntunan Rasulullah ص yang dibukukan menjadi Hadis; mereka tersesat di dunia dan tersesat di akhirat. Sifat-Sifat Allah

Advertisements
Posted in: uncategorized