005. Ilahun Wahid adalah Allah س

Posted on June 18, 2013

0


Sampaikan Walau Satu Ayat; Ep. 005. Ilahun Wahid adalah Allah س
Dalam Kitab Al Quran, terdapat banyak lafadz إِلَـهٌ dibaca ilahun. Dalam Ensiklopedia Islam, konsep ilahun diartikan menjadi dewa-dewa atau tuhan-tuhan, yaitu tuhan selain Allah. Dalam penterjemahan Al Quran, penulisan terjemahan tuhan atau tuhan-tuhan selalu diawali dengan huruf kecil, kecuali ditempatkan pada awal kalimat.

Segera saja Banas membuka tausiah, begitu waktu jedah sudah sekitar limabelas menit sejak dilafadzkan salam akhir dalam Shalat Dhuha; terlihat ada penambahan jumlah taklim meski sedikit. Tetapi belum lagi Banas bicara, ada taklim yang ingin bertanya; dipandangnya taklim itu, seorang remaja yang jarang terlihat dalam tausiah ini. Setelah diiyakan, ditanyakan, “Pak Ustadz, ada seorang teman non-muslim yang mengatakan, orang Islam tidak punya Tuhan. Teman itu menambahkan, bahwa kalimat Syahadat yang pertama menyebutkan, aku bersaksi, tiada tuhan selain Allah; itu berarti, Allah bukan tuhan. Kemudian teman itu melanjutkan, berbeda dengan kalimat syahadat yang kedua, dipersaksikan bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Maknanya, Muhammad memang Utusan Allah. Mohon penjelasan”.

Atas pertanyaan ini, Banas menarik nafas dalam-dalam; ada-ada saja tingkah mereka untuk meruntuhkan keberimanan kaum muslim; lalu Banas mengemukakan, “Alhamdulillah, kita termasuk dalam golongan orang yang bertaklim. Melalui majlis inilah, Insya Allah, kita dapat memperluas wawasan dan memperdalam pemahaman, menuju pada keteguhan keberimanan”.

Kemudian dilanjutkan, “Salah satu lafadz yang menjadi dasar keberimanan umat Islam, yaitu ilahun, diindonesiakan menjadi tuhan; yaitu sesuatu kekuatan ghaib eksternal manusia yang diyakini menjadi sumber kekuatan manusia. Lalu bagaimana dalam Islam ?”; tanpa menunggu jawaban dari taklim, Banas mengemukakan, “Dalam Bahasa Al Quran, penyebutan Allah س dapat dituliskan menjadi اللهِ atau bisa juga menggunakan Ilahun dengan menambahkan Yang Esa. Misalnya difirmankan,

Katakanlah: “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: “Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri (kepada Nya)”. ~ QS Al Anbiya` (21):108 ~

Dalam ayat ini, penterjemahan Tuhan Yang Esa berasal dari lafadz إِلَهٌ وَاحِدٌ dibaca Ilahun Wahid maksudnya adalah Allah س; yaitu Satu-satunya Tuhan. Penulisan lafadz Tuhan yang bermakna Allah selalu diawali dengan menggunakan huruf besar, baik pada awal kalimat, tengah maupun akhir kalimat.

Untuk penyebutan tuhan selain Allah س menggunakan lafadz ilahun sebagai bentuk tunggal dan ilahatan sebagai bentuk jamak. Misalnya difirmankan,

Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati) ? ~ QS Al Anbiya` (21):21 ~

Dalam ayat ini, terdapat penterjemahan tuhan-tuhan berasal dari lafadz آلِهَةً yaitu bentuk jamak dari lafadz إِلَهٌ”; ketika berhenti sejenak, ada taklim yang minta diberikan contoh lain, agar lebih mudah dimengerti. Atas permintaan ini, Banas membuka-buka Kitab Al Quran, lalu dikemukakan, “Misalnya difirmankan,

Allah tiada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai `Arsy yang besar”. ~ QS An Naml (27):26 ~

Dalam ayat ini, terdapat penterjemahan Allah tiada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia; secara kata perkata, perincian lafadz-lafadznya begini :

اللَّهُ (dibaca Allahu) artinya Allah.
لَا (dibaca la) artinya tidak ada; dalam pembicaraan sehari-hari diartikan tidak.
إِلَهَ (dibaca ilaha) artinya tuhan, ditulis dengan diawali huruf kecil.
إِلَّا (dibaca illa) artinya kecuali.
هُوَ (dibaca huwa) artinya Dia.
Penulisan terjemahan Dia diawal, ditengah atau diakhir kalimat, harus dimulai dengan menggunakan huruf besar (kapital). Maksudnya untuk menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan Dia dalam penterjemahan ini adalah Allah س.

Melalui ayat tersebut, dapat dipilah adanya dua konsep ketuhanan; pertama, difirmankan tentang Allah dan kedua, difirmankan tentang konsep ilahun. Terlihat para taklim manggut-manggut, mudah-mudahan semakin mengerti untuk membuat perbedaan antara Allah dan ilahun.

Kemudian diteruskan, “Dalam Al Quran, banyak difirmankan ayat-ayat, yang mencantumkan jati diri Tuhan dengan lafadz Allah; misalnya dalam Surah Al Fatikhah ayat 1 terdapat firman Nya بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ; artinya dengan nama Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih. Tujuan yang terkandung dalam firman ini adalah untuk mengajarkan kepada umat, sesungguhnya Allah adalah Satu-satunya Tuhan, yaitu Dzat Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih.

Banas mengemukakan, “Dalam konsep Islam, penyebutan Allah yang berdiri sendiri, diutamakan menambahkan lafadz tertentu, misalnya menjadi Allahu Akbar; tetapi ada kelaziman, diberikan tambahan sifat Yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Dalam Bahasa Al Quran, sifat ini merupakan penterjemahan dari lafadz Subkhanahu wa Ta`ala, yang ditulis سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Lafadz ini diawali dengan penempatan Abjad Arab س (dibaca sin). Sehingga menjadi kelajiman, penulisan Allah ditambah dengan huruf sin atau س. Makna terpenting dari cara penulisan ini adalah untuk mengingatkan kepada penulis dan pembacanya, sesungguhnya yang disebut dalam tulisan ini adalah Allah Subkhanahu wa Ta`ala, atau Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi”.

Sebagai penutup tausiah, Banas mengemukakan, “Berdasar penjelasan tadi, sesungguhnya Islam mengenal dan beriman kepada Allah, sebagai satu-satunya Tuhan. Sedangkan sesuatu yang dipertuhankan selain Allah disebut dengan ilahun tanpa tambahan sifat-sifat Nya. Perlu juga disampaikan kepada orang-orang yang mempertanyakan makna kalimat Syahadat yang pertama, yaitu Tiada tuhan selain Allah, maka memang betul begitu adanya. Dalam kalimat Syahadat pertama ini, penulisan tuhan harus diawali dengan huruf t kecil. Dengan begitu, adalah salah, jika mereka mengatakan, umat Islam tidak punya tuhan. Karena sesungguhnya, tuhannya umat Islam adalah Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam konsep keimanan adalah إِلَهٌ وَاحِدٌ dibaca Ilahun Wahid adalah Allah س; yaitu satu-satunya Tuhan. Usai berkata begiu, Banas menutup tausiah. Para taklim terlihat puas dan merasakan ada wawasan baru mengenai siapa sesungguhnya Allah س.

Advertisements
Posted in: Ketauhidan