004. Allah س adalah Dzat yang Wujud

Posted on May 18, 2013

0


Sampaikan Walau Satu Ayat; Ep. 004. Allah س adalah Dzat yang Wujud
Kekuatan ghaib eksternal yang menyelimuti kehidupan semua makhluk adalah Allah س. Maksud dari makhluk, tidak terbatas pada manusia belaka, melainkan juga hewan, benda, ghaibin, dan masih banyak lagi. Seringkali menjadi persoalan bagi kita, bagaimana menerangkan Wujud Nya? Salah satu firman Nya kepada Nabi Muhammad Rasulullah ص, yang dibukukan menjadi Kitab Al Quran, menegaskan, Dia adalah Dzat. Dalam terjemahan Bahasa Indonesia, Dzat selalu ditulis dengan diawali huruf kapital (besar) baik pada awal, tengah maupun pada akhir kalimat.

Setelah Banas mengucap salam pembuka tausiah, terlihat seorang taklim ingin bertanya; Banas mengangguk, lalu ia bertanya, “Pak Ustadz, bagaimana menerangkan sifat Wujud, yang sering kita lantunkan setiap menjelang Shalat Maghrib di masjid kita?; lalu bagaimana kita harus membayangkan keberadaan Nya?” Sejenak direnunginya pertanyaan itu, lalu dikatakan, “Menjadi kebiasaan kita selama ini, kepada anak-anak, kita telah mengajarkan untuk melafadzkan sifat-sifat Allah س, antara lain Wujud. Lafadz ini begitu melekat di hati, sehingga diharapkan tumbuh keteguhan keimanan, sesungguhnya Dia itu memiliki sifat Wujud”. Lalu diteruskan, “Untuk memahami keberadaan Nya, marilah mencermati firman Nya,

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafaat kecuali sesudah ada izin Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? ~ QS Yunus (10):3 ~

Dalam ayat ini terdapat penterjemahan `Arsy dibaca `Ar(sy); yaitu terjemahan dari lafadz الْعَرْشِ. Maksudnya adalah satu konsep non-fisik yang keberadaannya tidak mampu ditembus akal makhluk Nya. Firman ini menjadi satu-satunya ayat yang mengandung penterjemahan, Dia adalah Dzat. Digambarkan dalam ayat ini, Allah س adalah Dzat, berkedudukan di `Arsy untuk mengatur segala urusan makhluk Nya. Dalam Hadis, Nabi Muhammad Rasulullah ص banyak menyebut Dia dengan sebutan Dzat; misalnya diriwayatkan,

Nabi ص bersabda, “Dua surga yang wadah-wadahnya dan segala isinya terbuat dari perak dan dua surga yang wadah-wadahnya dan segala isinya terbuat dari emas. Antara orang-orang dan kemampuan memandang Tuhan mereka hanya ada Tirai Keagungan pada Dzat Nya, (yaitu) di surga Addin. ~ HR Muslim dari Abu Musa عنهُما ~

Melalui Hadis ini Rasulullah ص memberikan tuntunan, kelak (di Hari Kiamat) setiap umat dapat memandang Wujud Nya yang berada di balik Tirai Keagungan”. Banas berhenti bicara, ketika ada yang mengacungkan tangannya; setelah disilahkan, katanya, “Pak Ustadz, dengan meyakini kebenaran kandungan isi Al Quran, dipastikan Allah س itu Ada atau memiliki Sifat Wujud. Melalui Hadis tadi juga dituntunkan, kelak di surga, setiap umat dapat memandang Wujud Nya. Tetapi ini kan masih sangat lama, entah kapan; itupun kalau saya masuk surga; lalu bagaimana membuktikan keberadaan Dzat Nya?”; pertanyaan ini disambut sedikit gemuruh.

Suasana menjadi tenang kembali, ketika Banas mulai bicara, “Untuk menghilangkan kekhawatiran tidak masuk surga, marilah selalu meneguhkan keimanan dengan menjalankan semua kandungan Al Quran dan Hadis”. Kemudian dikatakan, “Pemahaman mengenai konsep sifat Allah س yang Wujud, harus diluruskan dulu. Makna dari Wujud dari Bahasa Al Quran, adalah Ada; jangan diartikan dengan berbentuk atau berwujud. Sebagaimana difirmankan dalam QS Yunus (10):3 yang sudah dibacakan tadi, terdapat firman Nya, Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; ini bermakna, setiap manusia harus meyakini secara dogma, artinya tidak perlu mempertanyakan, bahwa sesungguhnya Allah س itu Ada atau dalam Bahasa Al Quran adalah Wujud. Sedangkan untuk membuktikan keberadaan Dzat Nya, harus rajin-rajin mencermati firman Nya; misalnya kita cermati firman Nya,

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dengan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. ~ QS Ali Imran (3):190 ~

Melalui ayat ini, Allah س menegaskan, adanya bumi, langit, dan silih bergantinya malam dengan siang menjadi tanda Sifat Wujud Dzat Nya”; bicara Banas terhenti lagi, ketika ada taklim ingin bertanya; Banas mengangguk, dikatakan, “Mohon maaf Pak Ustadz; sekali lagi mohon maaf. Dalam ayat tadi difirmankan, tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal; tetapi pada masa kini, banyak orang berakal atau orang cerdik pandai, yang tidak percaya akan keberadaan Nya. Jadi, bagaimana saya harus meyakini, sesuatu yang Ada, meskipun tidak tembus pandang, tetapi bumi, langit dan seisinya memberikan tanda-tanda keberadaan Nya; sekali lagi mohon maaf”.

Setelah merenungi sejenak pertanyaan itu, dicarinya inspirasi jawabannya; tak lama kemudian dikatakan, “Baik, sepertinya tidak perlu minta maaf; karena majlis ini memang untuk meneguhkan keberimanan kepada Nya”; lalu diteruskan dengan memberikan contoh, “Mari kita meyakini, masjid ini terang benderang karena ada lampu yang menyala; lalu tanyalah pada diri sendiri, kenapa lampu itu dapat menyala? Jawabannya, tentunya, karena lampu itu terhubung oleh kabel di masjid ini”; berkata begitu sambil menunjuk meteran listrik. Kemudian diteruskan, “Meteran listrik itu terhubung dengan kabel ke tiang listrik di jalanan; kabel-kabel tadi berawal dari PLN untuk membagikan aliran setrum listrik kepada mereka yang membayar. Siapa yang dapat menjawab, pernahkah melihat setrum listrik ?; ditebarkannya pandangan ke semua taklim; para taklimpun menggeleng. Banas melanjutkan, “Kalau kita gesekkan antara kabel merah dengan warna hitam, akan timbul percikan api; kejadian terperciknya api menjadi tanda keberadaan setrum listrik. Atau, ketika kabel yang mengandung setrum listrik itu terhubung dengan lampu, maka lampu itu dapat menyala. Kita bisa merangkum peristiwa ini, menyalanya lampu, menjadi tanda keberadaan setrum listrik, meski tak seorangpun mampu melihat setrum listrik”.

Banas menjelaskan, “Melalui Al Quran, Allah س berfirman dengan mengikuti jalan pikiran manusia; seperti dalam ayat tadi difirmankan, Penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang menjadi tanda-tanda keberadaan Nya, bagi orang-orang yang berakal. Lafadz ini sekaligus menegaskan, Keberadaan Nya itu, sekalipun merupakan dogma, akan tetapi manusia dibolehkan menggunakan logika dengan memahami tanda-tanda Keberadaan Nya; antara lain dalam ayat tadi difirmankan, adanya bumi, langit, silih bergantinya siang dan malam”.

Setelah berhenti beberapa saat, Banas mengemukakan, “Dari taklim ini dapat disimpulkan, Allah س adalah Wujud; artinya, Dia Ada, Dia adalah Dzat. Sifat Wujud jangan diterjemahkan menjadi berwujud; penterjemahan ini amat sangat salah. Konsep Keberadaan Nya tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia dan tidak terjangkau oleh daya pandang. Karena itu, selama masih hidup di dunia, manusia tidak mampu menyaksikan Keberadaan Nya. Untuk memahami Keberadaan Nya, Dia menyiratkan dalam firman Nya, pergunakan akal pikiranmu untuk mengetahui Keberadaan Nya dengan memperhatikan tanda-tanda kekuasaannya, seperti adanya bumi, langit, malam dan siang. Dalam kehidupan sehari-hari, untuk membuktikan adanya setrum listrim, tidak harus melihat bentuk setrumnya, tetapi dapat dilakukan dengan menyaksikan tanda-tanda adanya setrum”. Sesudah berkata begitu, Banas mengakhiri tausiah; para taklim bergegas pulang, dengan dada yang penuh pengayaan keislaman.

Advertisements
Posted in: Ketauhidan