003. Ketika Mencari Tuhan

Posted on April 18, 2013

0


Sampaikan Walau Satu Ayat; Ep. 003. Ketika Mencari Tuhan
Pada suatu masa, ketika sudah lima Nabi/Rasul diutus, tetapi Islam masih dalam proses pewahyuan. Bahkan sebelum masa kenabian ke enam, masih ditandai dengan keinginan pemuda Ibrahim mencari tuhan. Dipandangnya bulan, bintang dan matahari yang disangka tuhannya. Pencariannya terhenti, ketika mendapatkan hidayah Nya, bahwa sesungguhnya Tuhannya adalah Allah س, Dzat Yang Maha Esa dan Maha Pencipta.

Seperti biasanya, berduyun para taklim ingin mendengar tausiah singkat dalam majlis taklim ba`da Shalat Dhuha; antusias mereka terpancar dalam tiap gerak dan langkahnya. Setelah dilihatnya kumpulan para taklim, bergegas Banas ikut duduk melingkar, lalu mengawali tausiah dengan mengucap salam pembuka; kemudian dikatakan, “Beruntunglah kita, karena dilahirkan dalam keluarga muslim, bahkan mungkin ada diantara kita yang menganut Islam sekalipun tali keluarganya non-muslim”; terhenti bicara, ada taklim yang ingin bertanya. Setelah Banas mengangguk, lalu ditanyakan, “Pak Ustadz, siapa yang pertama kali menemukan keberadaan Allah س, sesudah Nabi/Rasul Adam ع turun ke bumi?”.

Merespon pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Kita meyakini, Allah س telah ada sejak sebelum adanya alam semesta dengan seluruh aneka isinya, karena Dia penciptanya. Dalam kisah penciptaan Adam sebagai manusia pertama, Allah س telah berkata-kata melalui Malaikat Jibril kepada para malaikat dan jin dan juga berkata-kata kepada Adam. Ini menjadi salah satu petunjuk, sesungguhnya Dia telah ada sebelum semua yang kita ketahui dan atau kita saksikan sekarang ini. Dalam Al Quran telah dikisahkan, bagaimana seorang pemuda bernama Ibrahim mencari-cari, siapa tuhan yang sebenarnya. Ia tinggal bersama Azar, seorang pembuat patung berhala dan sekaligus mempertuhankannya. Setelah sampai pada suatu masa, pemuda Ibrahim mengoreksi Azar, sebagaimana dikisahkan dalam firman Nya,

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”. ~ QS Al An `am (6):74 ~

Dalam ayat ini terdapat lafadz لأَبِيهِ dibaca li abihi artinya kepada bapaknya; tetapi para Ahli Tafsir sepakat, yang dimaksud dengan bapaknya dalam kehidupan sehari-hari pemuda Ibrahim adalah pamannya. Kemudian dalam ayat 76-78, dikisahkan pemuda Ibrahim melihat bintang, bulan dan matahari yang dikira tuhannya; tetapi karena semuanya hilang dari penglihatannya, maka penuhanan itupun tidak diyakini kebenarannya. Proses pencarian tuhan ini bukannya berlangsung sehari dua hari, melainkan dalam jangka waktu lama; bukan sedekar melihat bintang, bulan dan matahari, tetapi dalam jiwa pemuda Ibrahim tumbuh gejolak untuk mencari pembenaran atas tuhan yang dicarinya. Kemudian difirmankan perkataan pemuda Ibrahim,

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku (Ibrahim) bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. ~ QS Al An `am (6):79 ~

Ayat ini menjadi tonggak sejarah ditetapkannya Ibrahim sebagai Nabi/Rasul dengan mendakwahkan ketuhanan Yang Maha Esa yaitu Tuhan, Pencipta langit dan bumi serta seluruh isi diantara keduanya. Selanjutnya pada ayat 80-81, terjadi perdebatan antara Nabi/Rasul Ibrahim ع dengan kaumnya, dimana beliau menolak mengikuti penuhanan berhala; karena penuhanan itu mempersekutukan Tuhan semesta alam dengan sesuatu yang lain, padahal semua itu ciptaan Nya”.

Seusai berhenti sejenak, lalu dikatakan, “Perdebatan antara beliau dengan kaumnya berlangsung sangat lama; kedua belah pihak tetap berpegang teguh pada keyakinannya. Dalam hal ini, kaumnya tetap bersikukuh mempertuhankan berhala, sedangkan beliau tetap mendakwahkan Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian difirmankan peringatan Allah س,

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (Nya). ~ QS Al An `am (6):82 ~

Ayat ini berisi peringatan Allah س untuk didakwahkan oleh Nabi/Rasul Ibrahim ع, agar kaumnya melepaskan penuhanan kepada berhala. Ajakannya, beriman kepada Tuhan, Pencipta alam semesta. Dalam ayat ini juga diserukan, agar manusia tidak bermuka dua dalam penuhanan; jangan mengaku bertuhan kepada Allah س tetapi masih sekaligus mempertuhankan thoghut, sebagaimana banyak ditunaikan umat muslim dewasa ini. Dakwah beliau mendapat apresiasi dari Allah س sebagaimana difirmankan,

Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. ~ QS Al An `am (6):93 ~

Dengan bahasa sangat halus, Allah س menjanjikan kepada siapapun yang menerima hujah (ketetapan) Nya, untuk ditinggikan derajat hidupnya. Sekalipun firman ini diwahyukan kepada Nabi/Rasul Ibrahim ع, akan tetapi Allah س memberlakukannya lebih luas, melalui penegasan dalam lafadz Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki. Maksud lafadz ini, bahwa Allah س memberikan penghargaan kepada para pencari ilmu, dengan cara ditinggikan derajatnya.

Lalu dikatakan, “Melalui kisah-kisah yang diunggah dalam kesempatan taklim hari ini, dapat disimpulkan, sesungguhnya dalam setiap diri umat selalu ada pertanyaan mendasar yang memerlukan jawaban; kekuatan ghaib eksternal apa yang layak dipatuhi karena perannya yang besar dalam kehidupan. Jika Allah س menganugerahi hidayah terhadap orang yang mencari tuhannya, maka jawaban atas pertanyaan ini adalah bertuhan kepada Allah س, Tuhan Yang Maha Esa; bukan bertuhan kepada batu, bukan bertuhan kepada patung, bukan bertuhan kepada matahari, dan bukan bertuhan kepada ciptaan lainnya”. Setelah berkata begitu, Banas mengucap salam untuk menutup tausiah; para taklim terlihat masih enggan beranjak karena begitu indah proses yang ditempuh umat dalam mencari dan menemukan tuhannya.

Advertisements
Posted in: Ketauhidan