002. Visualisasi Thoghut dan Jibt

Posted on March 18, 2013

0


Sampaikan Walau Satu Ayat; Ep. 002. Visualisasi Thoghut dan Jibt
Allah س berfirman dalam Kitab Al Quran, setiap kekuatan ghaib yang disembah selain Dia, disebut dengan Thoghut dan Jibt. Bagi kalangan pemuja thoghut, ada perasaan tidak puas jika tidak bertatap muka dengan yang dipujanya. Inilah yang menjadi sebab, kenapa mereka tidak sepandangan dengan Islam karena melarang memvisualkan Allah س,
walau sebentuk tulisan yang dijadikan sebagai fokus peribadahan.

Begitu tausiah majlis taklim ba`da Shalat Dhuha dibuka, seorang taklim sudah mengacungkan tangannya; Banas menatap taklim itu dan menyilahkan; lalu ditanyakan, “Pak Ustadz, dalam tausiah yang lalu telah dibicarakan thoghut dan jibt; bagaimana konkritnya?”. Menanggapi pertanyaan yang sangat kritis ini, Banas diam sejenak, lalu dengan hati-hati dikatakan, “Thoghut dan jibt adalah dari Bahasa Al Quran untuk menyebut sembahan selain kepada Allah س; sebagai salah satu rujukannya, mari kita cermati firman Nya,

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thoghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
~ QS Al Baqarah (2):256 ~

Dalam ayat ini terdapat lafadz thoghut dari Bahasa Arab طَغَى, dalam pengertian umum berarti melampauai batas. Dalam nash Al Quran, thoghut adalah sebutan untuk sembahan-sembahan selain Allah س. Selain itu, terdapat lafadz buhul, maksudnya simpul tali agama. Melalui ayat ini, Allah س menegaskan, pertama, tidak ada pemaksaan untuk menganut Islam; kedua, Islam adalah agama yang lurus; dan ketiga, bagi yang beriman kepada Allah س, sesungguhnya telah berpegang pada simpul tali agama yang kuat. Penegasan ketiga ini mengisyaratkan, sekalipun beragama Islam bukan paksaan, akan tetapi Allah س memastikan para penganut Agama Islam, selamat dalam kehidupan dunia dan akhirat. Ini menyiratkan perintah Islamlah, supaya selamat dunia akhirat”.

Setelah berhenti sejenak, lalu diteruskan, “Untuk menjawab pertanyaan, apa konkritnya wujud thoghut dan jibt, mari memahami salah satu firman Nya,

Dan orang-orang yang menjauhi thoghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba Ku. ~ QS Az Zumar (39):17 ~

Dengan bahasa sangat halus, melalui ayat ini Allah س menegaskan, terdapat dua jenis kepatuhan dan ketundukan, yaitu menyembah Allah س dan menyembah selain Dia. Pada masa kenabian Ibrahim ع, kaum kafir menyembah berhala, dimana berhala atau patung-patung itu dianggap mewakili tuhannya. Selain itu, masih ada sembahan lain, seperti menyembah api, menyembah matahari, dsb. Dalam masyarakat kita, visualisasi thoghut dan jibt dapat berupa gambar atau foto dari ratu ini ratu itu, dewi ini dewi itu. Mereka berpendapat, visualisasi itu bertujuan untuk lebih khusuk dalam beribadah; visualisasi lainnya, adalah makam yang dikeramatkan. Para pemuja thoghut, merasa terpuaskan batinnya jika bertatap langsung dengan obyek sembahannya. Sekalipun memuja thoghut dan jibt menuju pada jalan kemusyrikan, tetapi ada kaum muslim yang menjadi pemuja ratu ini ratu itu, dewi ini dewi itu, makam sini makam sana, antara lain dengan pertimbangan obyek itu adalah kekuatan ghaib yang dapat diminta untuk menuntun kehidupan duniawinya”.

Lalu dikatakan, “Kemungkinan besar, para pemuja thoghut kurang menyadari adanya Hari Kiamat yang disertai dengan penghisaban atas semua perbuatannya selama menapaki kehidupan dunia. Karena itu, Allah س telah memperingatkan kepada manusia melalui Nabi/Rasul Nya, antara lain difirmankan,

Dan berhala-berhala yang kamu seru (sembah) selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.”
~ QS Al A`raf (7)197 ~

Kandungan makna ayat ini sudah sangat gamblang; para berhala yang disembah tidak mampu menolong dirinya sendiri. Kita bisa saksikan, para berhala yang kehujanan atau kepanasan, tidak mampu beringsut dari tempatnya; bahkan berhala-berhala ini tidak dapat menyelamatkan diri ketika terjadi kebakaran disekitarnya. Terlebih lagi, nanti di Hari Kiamat, manusia berkumpul di Padang Mahsyar untuk menerima hisabnya; nantinya di padang ini, setiap manusia dikelompokkan menjadi golongan menurut sembahannya. Dengan begitu, bagaimana golongan pemuja berhala ini memperoleh pertolongan dari sembahannya, padahal berhalanya tidak dapat menolong dirinya sendiri.

Peringatan Allah س juga telah didakwahkan Nabi Ibrahim ع sebagaimana diperkatakan kepada bapaknya ketika beliau masih pemuda; difirmankan dalam QS Maryam (19):42, Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya: “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?”

Ayat ini berisi perkataan Nabi Ibrahim ع, sebagai pengingat kepada manusia, janganlah bertuhan selain kepada Allah س. Dalam ayat ini terdapat lafadz menyembah sesuatu, maksudnya adalah patung berhala yang menjadi sembahan kaumnya”. Kemudian dikatakan, “Tata cara penyembahannya, tidak dikenal dalam Islam dan bukan merupakan ketetapan Allah س dan tidak dituntunkan Nabi Muhammad Rasulullah ص, karena penyembahan itu diharamkan dalam Islam. Para pemuja dan penyembah thoghut ini melakukan sesembahan, antara lain dengan memberikan sesajen. Ketika Banas berhenti bicara, ada taklim yang ingin bertanya; setelah dipersilahkan, ditanyakan, “Lalu bagaimana dengan kaum muslim yang menunaikan Rukun Iman dan Rukun Islam tetapi masih melakukan sesembahan kepada ratu ini ratu itu, dewi ini dewi itu, makam sini makam sana, dengan mengatasnamakan sebagai tradisi budaya?”; atas pertanyaan ini, Banas mengemukakan, “Bagi kaum muslim yang menunaikan rukun-rukunnya tetapi juga melakukan sesembahan selain kepada Allah س, hendaknya menyadari betapa Allah س melarang keras hal seperti itu; antara lain dapat dicermati dari salah satu firman Nya,

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (Nya). ~ QS Al An `am (6):86 ~

Dengan bahasa yang sangat halus, melalui ayat ini, Allah س menfirmankan agar tidak mencampur adukkan; artinya, Allah س mensinyalir gejala adanya kaum muslim yang mencampuradukkan keimanan dengan kemusyrikan, seperti yang banyak kita lihat sekarang ini. Menyatakan diri sebagai muslim, ya shalat, ya zakat, ya melakukan rukun Islam lainnya, tetapi juga menyelenggarakan kegiatan yang bernuansa kepatuhan dan ketundukan kepada thighut, jibt dan visualisasinya”; berhenti sejenak.

Lalu diteruskan, “Dengan mengacu pada rujukan-rujukan tadi, maka dapat diringkaskan pemahaman, yang dimaksud dengan thoghut dan jibt adalah sesembahan selain Allah س; kemudian bentuk konkritnya, dapat berupa patung, berhala, ratu ini ratu itu, dewi ini dewi itu, makam sini makam sana, jimat-jimat yang dipakai dan atau jimat yang dimasukkan ke dalam tubuh, pesugihan ini pesugihan ono, dan masih banyak lagi yang dipraktekkan dalam masyarakat luas, termasuk diantaranya dilakukan oleh kaum muslim yang belum teguh keberimanannya”; usai berkata begitu, Banas menutup tausiah; para taklimpun bersegera pulang dengan kelegaan hati. Sebagian diantaranya, berniat meluruskan keislamannya dengan melepaskan diri dari sesajen-sesajen.

Advertisements
Posted in: Ketauhidan