001. Siapa Thoghut dan Jibt

Posted on February 18, 2013

0


Sampaikan Walau Satu Ayat; Ep. 001. Siapa Thoghut dan Jibt
Sejak umat dicipta, dipastikan selalu mencari kekuatan diluar dirinya yang dianggap menjadi pemayung kehidupannya. Pada umumnya, temuan yang diperoleh adalah kekuatan ghaib yang diyakini mempengaruhi jalan hidupnya; maka pemujaan menjadi pilihan untuk menyenangkan satu sama lain. Terlebih lagi jika dapat berkomunikasi, keyakinan itu semakin terpateri.

Pagi ini, masjid di kompleks sudah dipenuhi para taklim; mereka adalah para pencari ilmu agama, yang siap mengikuti tausiah singkat perdana yang diselenggarakan dalam majlis taklim ba`da Shalat Dhuha berjamaah. Seusai membuka tausiah dengan lafadz basmalah dan ucapan salam, lalu Banas mengatakan, “Dalam kehidupan manusia, setiap umat selalu meyakini ada dua sisi kehidupan; pertama, kehidupan ragawi yang terdapat dalam dirinya, dan kedua, kehidupan ghaib eksternal yang berada di luar dirinya. Kehidupan ragawi dapat dilaksanakan secara lahiriah, seperti makan, tidur, olah raga, berkendara, dsb; selain itu ada kehidupan ghaib dalam jiwa setiap insan, dapat terwujud dalam berbagai aktifitas dengan sesuatu hal ghaib yang dianggap mempengaruhi dan menentukan kehidupannya. Kemudian masih terdapat kehidupan ghaib eksternal, yang wujudnya dapat berupa pengabdian kepada yang ghaib dengan mengikuti pakem yang berlaku. Perbuatan seperti ini bukan saja dilakukan oleh mereka yang mengaku Islam meski tidak menunaikan rukun-rukunnya, tetapi juga dilakukan oleh mereka yang secara lahiriah melakukan aktifitas keislaman. Sadar atau tidak, pemujaan ini menuju ke jalan mensekutukan Allah س, Dzat Yang Maha Esa”.

Lalu diteruskan : “Seruan Allah س kepada semua Bani Adam (anak turun Adam) telah diluncurkan sejak penciptaan Adam ع sebagai manusia pertama; kepada setiap manusia yang baru tercipta sudah diambil sumpah, sebagaimana difirmankan,

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. ~ QS Al A`raf (7):172 ~

Dengan sangat jelas, ayat ini menegaskan adanya kesaksian janin ketika masih berada dalam rahim, mengenai Allah Yang Maha Esa; kesaksian ini menjadi sumpahnya untuk menjalani kehidupan dunia yang Insya Allah sebentar lagi akan dialami”; bicara Banas terhenti, karena ada yang ingin bertanya; setelah diiyakan, katanya, “Pak Ustadz, apakah janin yang dikandung oleh ibu yang beragama non-muslim, juga bersumpah seperti itu ?”

Lalu dijelaskan: “Bertitik tolak dari awal ayat tadi, yaitu ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam; ini bermakna, ya seluruh umat. Karena sesungguhnya seluruh umat adalah ciptaan Nya, tiada sesuatu lain yang dapat mencipta manusia; dan mereka adalah Bani Adam. Sekalipun manusia itu, menyatakan dirinya keturunan matahari, keturunan monyet, keturunan batu ini, batu itu, tetapi pencipta yang haq adalah Allah س, tiada pencipta lain”.

Setelah berhenti sejenak, lalu dikatakan, “Kesaksian semasa masih dalam bentuk janin tadi, dilakukan secara sunatullah; artinya mengikuti ketentuan Allah س; janin yang menyatakan kesaksian, tidak menyadari. Karena itulah, saat menjalani hidup, dapat saja tidak menganut Islam, sebagai agamanya, oleh sebab mengikut agama orangtuanya. Namun ada sebagian diantara penganut agama non-muslim beralih menjadi penganut Islam. Begitu juga sebaliknya, ada penganut Islam yang berlangsung sejak lahir, tetapi atas sesuatu pertimbangan, lalu menjadi tidak Islam atau keluar dari Islam alias murtad”.

Lalu diteruskan, “Allah س Maha Mengetahui atas semua ciptaan Nya, atas kekuatan ghaib apa yang diagungkan; marilah kita simak firman Nya,

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. ~ QS An Nisa` (4):51 ~

Dalam ayat ini terdapat lafadz Al Kitab, maksudnya, bukan berarti Kitab Injil seperti yang kita jumpai sekarang ini, akan tetapi Al Kitab adalah semua Kitab Suci, yaitu Taurat, Zabur, Injil dalam naskah aslinya dan Al Quran. Melalui ayat ini dikisahkan, kaum kafir, sekalipun kepada mereka sudah didakwahkan firman-firman Nya baik yang tidak dibukukan menjadi Kitab Suci atau yang dibukukan, lebih percaya kepada thoghut dan jibt. Dalam perjalanan sejarah manusia, kaum kafir menyerupakan thoghut dan jibt dalam bentuk berhala atau patung”.

Setelah berhenti sejenak, lalu dikatakan, “Melalui taklim singkat ini, dapat disimpulkan, melalui ayat-ayat Al Quran terdapat penegasan, barangsiapa yang percaya kepada hal ghaib selain Allah س, mereka mempercayai Thoghut dan Jibt atau dengan bahasa populer adalah setan dan seterunya”. Seusai berkata begitu, Banas menutup tausiah; terlihat para taklim puas mendapatkan pencerahan ini, walau tidak terlalu lama.

Advertisements
Posted in: Ketauhidan