007. Aku adalah Allah س

Posted on August 18, 2013

0


Sampaikan Walau Satu Ayat; Ep. 007. Aku adalah Allah س.
Dalam Bahasa Al Quran, Allah س sebagai satu-satunya Dzat, sering menyebut jati diri Nya menggunakan lafadz Aku dan Ku. Dalam Bahasa Indonesia, penulisannya selalu diawali huruf kapital (besar), baik pada awal, di tengah atau pada akhir kalimat. Meskipun kata aku memiliki sinomim saya, namun dalam penterjemahan Al Quran tidak pernah digunakan saya untuk penyebutan jati diri Nya.

Hampir dapat dikatakan, tausiah ba`da Shalat Dhuha yang mengemukakan tentang pemaknaan lafadz Allah س menjadi pembuka cakrawala baru di kalangan taklim. Kini, Banas berusaha menjelaskan penggunaan sebutan lainnya; setelah membuka tausiah, Banas mengemukakan, “Dalam Kitab Al Quran sering ditemukan firman, dimana Allah س menyebut jati diri dengan sebutan Aku atau Ku. Bila kita menjumpai ayat-ayat yang penterjemahannya terdapat lafadz-lafadz itu, dapat dipastkan, ayat itu mengandung makna penegasan akan sifat Allah س yang sangat dominan terhadap makhluk, yaitu sifat الْقَهَّارُ (Maha Perkasa) tiada sesuatupun yang menandingi keperkasaannya; misalnya difirmankan,

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada Ku niscaya Aku penuhi janji Ku kepadamu; dan hanya kepada Ku saja kamu harus takut (tunduk).
~ QS Al Baqarah (2):40 ~

Ayat ini menegaskan peringatan kepada Bani Israil, sesungguhnya Allah س sebagai satu-satunya Dzat yang memiliki kepastian. Dalam ayat ini terdapat dua kepastian, yaitu, pertama, anugrah nikmat adalah kepastian dari Allah س dan kedua, kepastian untuk tunduk dan patuh kepada Allah س saja, tidak kepada yang lain”.

Dari majlis ada yang ingin bertanya, setelah diiyakan, lalu katanya, “Pak Ustadz, bukankah penggunaan sebutan Aku atau Ku dapat mengelirukan pemikiran, ada sifat kesombongan?” Atas pertanyaan ini, Banas dengan hati-hati mengemukakan, “Jika kita bicara tentang kesombongan, kaitannya adalah Maha Kaya dan Maha Kikir; maksudnya, karena Maha Kaya lalu Maha Kikir, sehingga dapat disebut sombong. Tetapi Allah س tidak memiliki sifat Maha Kikir; bukankah dalam lafadz basmalah sudah terjelaskan, Allah س memiliki sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Selain itu, Allah س memiliki sifat الْوَهَّابُ (Maha Pemberi). Dengan demikian, penyebutan jati diri Aku dan Ku, merupakan akumulasi dari sifat الْعَظِيمُ (Maha Agung); karena keagungan inilah, Allah س berhak menunjukkan jati diri dengan sebutan Aku dan Ku“.

Kemudian dikatakan, “Keharusan mematuhi dan menunduki seluruh ketentuan Allah س sebagai suatu kepastian bagi semua makhluk, juga dapat ditemukan dalam QS Al Baqarah (2):152; difirmankan, Karena itu, ingatlah kamu kepada Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) Ku. Melalui ayat ini, terdapat penegasan agar umat patuh dan tunduk kepada Allah س; dalam ayat ini juga ditegaskan, agar nikmat yang telah tercurah harus disyukuri dan dipastikan ada balasan bagi umat yang mengingkari nikmat Allah س.

Lalu diteruskan, “Dalam Bahasa Al Quran, penyebutan aku tidak dibedakan antara penyebutan jati diri Nya dengan penyebutan lainnya. Karena itu, penterjemahan ayat-ayat Al Quran yang didalamnya ada lafadz aku atau ku, dibedakan dengan cara penulisannya. Mari kita ambil contoh dalam salah satu firman Nya,

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
~ QS Al An`am (6):79 ~

Dalam ayat ini terdapat dua lafadz aku dan satu lafadz ku; kedua-duanya berada di tengah kalimat, dimana pada awal kata ditulis dengan menggunakan huruf kecil. Maksud dari dua lafadz aku dan satu lafadz ku dalam ayat ini bukan menyebut jati diri Allah س, melainkan menunjukkan bahwa kata-kata dalam ayat ini dikemukakan oleh Nabi Ibrahim ع”; bicara Banas terhenti karena ada taklim yang ingin bertanya, setelah diangguki, ditanyakan, “Pak Ustadz, dalam Bahasa Indonesia, kata ganti aku memiliki persamaan kata dengan saya. Apakah Allah س juga menggunakan lafadz saya untuk penyebutan jati diri?”

Banas mengemukakan, “Memang betul dalam Bahasa Indonesia ada sinonim kata ganti aku dengan saya; tetapi dalam Bahasa Al Quran tidak ada pembedaan seperti itu. Kata ganti aku dan saya ditulis dengan lafadz yang sama, yaitu أَنَ; diterjemahkan menjadi aku atau saya, semata-mata sebagai kehalusan membahasakan. Meskipun begitu, dalam Al Quran juga dapat ditemukan penterjemahan saya; tetapi bukan untuk menyebut jati diri Allah س; misalnya difirmankan,

Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis, “Saya lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. ~ QS Al A`raf (7)12 ~

Dalam ayat ini terdapat lafadz Aku; penterjemahnnya diawali dengan huruf kapital meskipun di tengah kalimat, untuk menyebut jati diri Allah س; sedangkan penggunaan lafadz saya, adalah penyebutan kata ganti Iblis”.

Ketika menutup tausiah, Banas mengemukakan, “Dalam tausiah ini dapat dikukuhkan pemahaman, sesungguhnya penggunaan lafadz Aku dan Ku yang penulisannya diawali dengan huruf kapital, adalah untuk menyebut jati diri Nya. Maknanya, mengisyaratkan dominasi Allah س dalam firman-firman Nya, untuk menunjukkan sifat Yang Maha Perkasa dan memiliki kepastian bagi makhluk. Sedangkan sebutan jati diri saya dipastikan bukan dimaksudkan untuk menyebutkan jati diri Allah س”; sesudah berkata begitu, Banas menutup tausiah diiring doa semoga para taklim mendapat tambahan barokallah. Para taklim merasa begitu cepat waktu tausiah berlalu; meski begitu, mereka merasakan perluasan wawasan dan pendalaman pemahaman keislaman. Merekapun bergegas pulang dengan urusan masing-masing.

About these ads
Posted in: Ketauhidan